Bab 10 : UMROH ADALAH PERJALANAN IBADAH BAGI RUH KITA
Labbaik Allahumma labbaik
labbaika laa syarika laka labbaik
innal hamda wanni'mata laka wal mulka
laa syarikalak
"Aku datang memenuhi panggilan-Mu Yaa Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu
Aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu aku datang memenuhi panggilan-Mu
Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuasaan adalah milik-Mu
tidak ada sekutu bagi-Mu"
Allahumma salli'alaa Muhammadin wa'alaa aali Muhammadin
"Yaa Allah limpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya"
Allahumma innaa nas aluka ridhaka waljannata wana'uzubika min sakhatikawannaar. Rabbana atinna fiddunya hasanatan wa fil akhirati hasanatan waqinaa azaabannar
"Yaa Allah, sesungguhnya kami memohon keridha'an-Mu dan surga. Kami berlindung pada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan hindarkanlah kami dari siksa neraka"
Reaksi pertama kali saya menerima telepon dari saudara istri yang bernama ibu Hj Sayu Sri Jumiyati agar saya ikut menemani putranya berangkat umroh, tak mampu menjawab. Batin ini masih sempat berucap "Alhamdulillah"
Nikmat yang selama ini yang selalu saya syukuri dan selalu saya berusaha menjalankan segala kehidupan dengan rasa ikhlas, ternyata Allah mengganti dengan nikmat yang tak terhingga.
Subhanallahu Walhamdulillah wala'ila ha'ilallahu Allahu Akbar
Segala nikmat dari segala nikmat bagiku, tak terhingga syukurku kukumandangkan pada-Nya.
Bismillahi amantu billahi tawakkaltu'alallahi laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyil adzim
"Dengan nama Allah aku beriman, kepada Allah kuberserah diri. Tidak ada daya untuk mendapatkan manfaat dan tidak ada kekuatan untuk menolak kejahatan kecuali dengan pertolongan dari Allah yang maha luhur lagi maha agung"
Sekitar satu bulan kemudian apa yang tertulis di atas ini bukan lagi berupa tulisan, tapi sudah berubah menjadi amalan yang diucapkan dengan hati yang tulus dan ikhlas.
A. REAKSI IBUNDA MENDENGAR SAYA UMROH
Sekitar pukul 8 pagi tanggal 9 februari 2009 saya pulang ke rumah jalan calung untuk mempersiapkan surat surat untuk mengurus pasport dan syarat umroh. Sekalian memberitahu ke istri dan kakak ipar perempuanku yang janda yang tinggal bersama kami.
hehehe
Tentulah air mata bahagia berhamburan bersamaan dengan mulut mau bicara tetapi hasilnya tergagap-gagap.
Sungguh suasana saat itu adalah suasana airmata yang berbicara. hahaha...
Sekitar pukul11 siang di hari yang sama, saya menelepon ibu yang saat itu ada di rumah wonogiri-jawa tengah.
Saat saya berkata bahwa saya mendapatkan rejeki yang sangat besar, ibu saya mengejar dengan pertanyaan lain. Disaat saya bilang bahwa saya mendapatkan rejeki berupa umroh, saat itu pula saya tidak mendengar suara ibu. Sampai saya memanggil beberapa kali, yang akhirnya saya mendengar suara adik lelaki saya yang ke dua yang bernama Sapto menjawabnya.
Adik saya bilang bahwa ibu tidak bisa melanjutkan berbicara, ibu sedang menangis.
Malam harinya justru ibu yang menelpon balik ke saya.
Saya sebenarnya dilahirkan dalam keluarga Budha yang taat. Dan saya juga dilahirkan dari seorang ibu yang berdarah seni musik. Dari ibundalah saya tanpa sengaja diperkenalkan tangga nada angka. Mungkin saya memang punya bakat dan niat musik yang kuat, sehingga saya kelas 5 SD sudah mampu membuat satu lagu yang hingga hari ini masih saya hapal syair lagunya. Bahkan anak dan istri saya ternyata senang dengan lagu tersebut.
Lagu tersebut menceritakan kehidupan anak desa yang suka menggembala sapi dan kambing di padang rumput.
SMP kelas satu kembali lagi saya membuat satu lagu tentang kekurangan saya yaitu tentang saya memakai kacamata.
Sedang mengenal puisi dimulai dari keranjingan saya dengan soneta, gurindam, pantun dan puisi-puisi lama.
Anak lelaki seumur saya pastilah kamarnya terpajang poster-poster bintang idola, tetapi saya justru dinding menjadi tempat pajangan tulisan tangan. Hampir seluruh dinding kamar bahkan lemari tertulis puisi-puisi saya.
Mungkin itulah awal saya membentuk karakter saya dalam menulis.
Bapak dan ibu saya sangat memerdekakan ekspresi jiwa saya.
Kedekatan saya dengan ibu dapat dilihat dari salah satu puisi saya yang saya kasih judul "Perempuanku adalah seorang Ibu"
B. BERANGKAT MENUJU JEDDAH
Hari kamis tanggal 19 Maret 2009 pukul 7.55 wib pesawat garuda dengan nomor penerbangan (maaf saya lupa) bertolak dari Bandara Sukarno-Hatta.
Sedang jadwal perjalanan sebagai berikut :
Pukul 5.00 berkumpul di airport Sukarno-Hatta untuk check in.
pukul 7.55 pesawat berangkat menuju Jeddah.
pukul 13.30 waktu Jeddah (-4jam waktu indonesia bagian barat. berarti Jakarta sudah pukul 17.30)
Setelah check in di bandara Jedah yang memakan waktu kurang lebih 1 jam, kami dengan rombongan umroh menuju Madinah dengan menggunakan bus.
Di atas bus kami melakukan makan siang dengan lunch box. Sedang sholat dhuhur dan ashar dilakukan dengan cara jama' takhir di suatu kota kecil di masjid kecil pula yang kurasa sudah tua sekali.
Maaf, kembali lagi nama daerah dan nama masjidnya saya tidak tahu. Maklum, pertama memang saya tidak terpikirkan kesitu. Pikiran saya ke dzikir dan sholawat serta do'a. Yang ke dua kerna saya waktu itu tidak berniat untuk mencatat di buku harian.
Saya nikmati perjalanan itu dengan suka cita dan rasa takut akan murka Allah akan dosa dosa yang selama ini aku lakukan.
Perjalanan Jeddah menuju Madinah memakan waktu sekitar 5 jam.
Pukul 19.00 waktu jeddah, saya dan rombongan sampai di kota Madinah, langsung check in hotel.
Yang saya suka dengan hotelnya kerna posisi hotel tersebut terletak di depan pintu utama Masjidil Nabawi. Berjalan kaki tidak sampai 5 menit, saya sudah memasuki areal masjidil Nabawi.
Lha kalau saya ditanyakan nama hotelnya, kembali lagi saya tidak tahu sob!.
Disana huruf yang dipergunakan adalah huruf hijaiyah yang gundul.
Plat nomor mobil saja pakai angka arab.
Pernah saya sempat mengeja nama suatu toko, hasilnya saya diketawain oleh sesama jema'ah umroh yang fasih bahasa arab.
Pokoknya saya hanya melihat bahasa sana tapi tidak berniat lagi untuk mengejanya lagi hahaha
Pengalaman yang memusingkan kepala. Lebih baik saya gunakan shalawat Nabi SAW maupun dzikir kurasa lebih bermanfaat bagi ibadah saya.
He he he
inilah kejujuran saya yang memang tidak bisa bahasa arab yang tidak ada tanda tasdzidnya.
Setelah makan malam di hotel, kami sekeluarga yang terdiri dari ponakan saya Andre Bayu, Ibu Hj.Sayu Sri dan Bp. H. Nurhadi dan saya sekitar jam 9 malam berniat ke masjidil Nabawi.
Masjid yang tidak pernah sepi. Masjid yang tidak pernah tidur.
C. MASJIDIL NABAWI DI MALAM HARI
maaf sob!
berhubung saya ada perlu, saya berhenti dulu ya?
Insyaallah besuk aku lanjutkan
Tng, 5 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar