19 November 2009

Jadel penjilat rasa

Jadel penjilat rasa
Penulis : Poncowae Lou



Hujan dalam doa

………………….O Hujan!
…………….dimata,menari
……………dalam awan, ia
…………..bertasbih, kalam
…………...sengau parau
………..dalam luka dalam
………O dimana hati?...................uh
……menilik padaMu….........!!....jauh
….temali dipundak……....menjerat
…ah! desau tak ada bersambut
..angin mengabur rasa, kelu!
..O hujan,O luka,O kasih, O!
..tangis, tangis, tangislah Ia
..pada kerdip pijar di kamar
…rubuhlah! Patah! Segala
….deru rasa tak menyampai
….lagi, hening bernyanyi, sepi sapa kelam
.....maka beri aku tempat bernaung, dimana
........Kau sendiri bernaung. sebelum nanti,
...aku meninggi, antara kita tak berbatas.
kata memati, siul melarik duka, dan lelap!



Medan, MH Poetra

O Hujan!/di mata,menari/dalam awan, ia bertasbih, kalam//.... Puisi bergaya tipografi seperti puisi ini tidak hanya mengandalkan susunan kalimat tapi sebaiknya juga mampu menghantarkan makna yang dimau penyairnya.

Menurutku anak muda yang berasal dari medan ini yang lebih senang dipanggil Jadel (istilah dalam pergaulan anak muda di Medan untuk menyebut/ mengolok-olok temannya dengan istilah Jadel yang katanya berarti 'anak iblis') cukup mampu merangkai keindahan bentuk dan mampu pula menyampaikan pesannya.

"O hujan".. mengapa dia tidak menggunakan 'Oh' diawal puisinya? padahal kalau menggunakan pemilihan kata ke dua, rasa melayangnya sukma sangat terasa?
"O" di awal 'hujan' mungkin menggambarkan bahwa suatu awal dan berakhirnya hidup manusia dimulai dari ketiadaan.. nol.
"di mata,menari/dalam awan, ia bertasbih, kalam"... hemm kalimatnya yang membelit ini mungkin bisa diurut menjadi 'awan menari di dalam mata' ... awan adalah perlambang dinamisnya kuasa-Nya. disaat tertentu menunjukan keindahan tapi disaat tertentu tertampak menyeramkan. disaat awan dinaungi kabut hitam pekat. Mana yang awan... mana yang kabut kurasa telah membaur bersama kuasa-Nya... kengerian itu mampu digambarkan sobat Jadel ini dengan penggambaran dari sudut pandangnya.
" ia bertasbih, kalam"... kurasa sobat semua dapatlah memaknai sesuai rasa sobat masing-masing bukan? hehe masak sudah di kupas kulitnya masih saja minta dikupas jeroannya?
wakakakkkk

Maaf, saat ini gayaku sok serius ya? kerna aslinya mengupas karya bukanlah bidangku. Bidangku adalah mengacak-acak karya orang wakakakakkkkkk
Hilang sudah gaya pecicilanku menghadapi puisi serius ini. AKU MATI KUTU wakakakkkkkk

"sengau parau/dalam luka dalam/O/ dimana hati?//uh/menilik pada-Mu!/jauh/ temali di pundak/ menjerat/ ah! //desau tak ada bersambut"... suatu permasalahan/problem masa lalu ternyata hingga kini masih menjadi beban pikirannya. seakan tidak ada jalan keluar atau solusinya. Penyair jadel ini sadar sekali bahwa untuk mendekat kepada-Nya sangatlah malu baginya dikarenakan selama ini dia merasa bahwa hidup yang dijalani itu dapat berjalan sesuai harapannya tidak pernah melibatkan Allah.
Di puisi inilah sobatku Jadel pasrah kalah dan mengakui bahwa apa yang selama ini dia lakukan bahkan apa yang membuat dia sering terjerembab menghadapi hidup selalu melibatkan dan atau adanya keterlibatan Allah di perjalanan hidupnya. Ini tertangkap dari kata "menilik pada-Mu"

Dibaris dibawah ini barulah terbaca bahwa kepasrahan total kepada-Nya adalah mutlak apabila kita mau berjalan selamat di dunia dan akhirat.

.angin mengabur rasa, kelu!
..O hujan,O luka,O kasih, O!
..tangis, tangis, tangislah Ia
..pada kerdip pijar di kamar
…rubuhlah! Patah! Segala
….deru rasa tak menyampai
….lagi, hening bernyanyi, sepi sapa kelam
.....maka beri aku tempat bernaung, dimana
........Kau sendiri bernaung. sebelum nanti,
...aku meninggi, antara kita tak berbatas.
kata memati, siul melarik duka, dan lelap!

Ujung-ujungnya dari kepasrahan adalah rasa tunduk syukur atas nikmat yang berlimpah yang sebenarnya setiap manusia wajib mensyukurinya. "Bersimpuh, berdzikir, bertadabur, bertadarus dengan tulus ikhlas membuat Jadel menyadari bahwa hidup yang selama ini dia alami, baik itu kehidupan antara dia yang hubungannya dengan orang tua dan keluarganya, dengan percintaannya dan dengan cita dan cintanya memang menjadi problema yang dinamis yang membuat hidup semakin berarti"

penjelasanku ini dapat tertangkap dari baris-baris ini :
".angin mengabur rasa, kelu!
..O hujan,O luka,O kasih, O!
..tangis, tangis, tangislah Ia
..pada kerdip pijar di kamar
…rubuhlah! Patah! Segala
….deru rasa tak menyampai
….lagi, hening bernyanyi, sepi sapa kelam
.....maka beri aku tempat bernaung, dimana
........Kau sendiri bernaung"....... > hening bernyanyi, sepi sapa kelam/maka beri aku tempat bernaung, dimana Kau sendiri bernaung"

Puisi ini akhirnya ditutup dengan sangat indah tapi sangat sendu sekali :

"sebelum nanti,
...aku meninggi, antara kita tak berbatas.
kata memati, siul melarik duka, dan lelap!"

Huk Huk Huk aku Moksa bersama hilangnya kesedihan

trims
salam persobatan
Ponco Wae
Tangerang, 8 Oktober 2009 barusan 5sore lewat 48




Biodata Penulis :

Nama Asli : Purnomo Ponco Wibowo

Jl. Terompet Blok AF No.6

Cipondoh-Tangerang

Banten

  1. Menulis Media online ;

    1. Yahoo Answers Indonesia Kategori Persajakan

    2. Kemudian.com

    3. Kapasitor,net

    4. Multiply.com kategori Apresiasi Puisi

    5. Matadunia.com

  2. Semasa muda (SLA) pernah menulis di beberapa surat kabar Jawa Tengah dan DIY tentang Puisi/persajakan.

  3. Pendiri dan pernah mengelola Sanggar Sastra ‘Srada Giri’ di Kabupaten Wonogiri 1980an.

  4. Pernah mengisi kolom teka teki Silang dan kocok kata di tabloid Citra, tahun 1991 s/d 1993 sebagai pengarang/penulis pertanyaan.

  5. Pernah mengajar secara otodidak bagi anak-anak dan remaja yang gemar di seni Drama, prosa, puisi, musik dan pidato di lingkungan RT/RW 25 Bojong Nangka-Kelapa Dua- Tangerang. Tahun 2003 s/d 2006.

  6. Saat ini sebagai wakil ketua Komunitas sastra “Lentera Komunikasi Sastra” (LEKAS) yang berdiri dari tahun 2007.

  7. Blog ;








Tidak ada komentar:

Posting Komentar