Menguak pribadi Val sang penyair gemblung lewat guratan penanya "Anak laki tong sampah"
Penulis ; Poncowae Lou
Aku disini tidak berniat mengangkat namanya dengan tulisan ini, tapi aku ingin menenggelamkan dia sedalam-dalamnya di lautan rasa agar dia tak dapat lagi berbicara lain selain mensyukuri nikmat Allah atas diberikan kebisaan padanya mengupas misteri alam dan seisinya, yang ditangkapnya dengan cermin terbalik yang selama ini jadi gayanya.
Dari judulnya yang aneh "Anak laki tong sampah" , ternyata dia akan bercerita banyak tentang sesuatu yang menariknya yang mungkin ini sebagai pengalaman pribadinya yang sangat berkesan.
Kemarin sore, aku sempat telepon padanya atas puisi ini yang menggelitikku dan ingin berlama-lama membaca dan ingin pula aku masuk dalam jeritan di puisi ini.
Seperti apakah situasi dan kondisi sang penyair ini saat membuat puisi ini, itu yang membuatku harus sabar mendengarkan penjelasannya.
Pertanyaanku padanya bukan apa makna yang terkandung di puisi ini, tapi saat pergulatan hatinya itu dikarenakan apa.
; he he...
aku hanya bisa mesem dan nyengir kuda setelah sobat Val bertutur terpatah patah. Maklum sobatku ini orang kelahiran jokja, ya kita yang biasa hidup di kota energik ini di buatnya mengucap ; "Sabar... sabar.. orang sabar disayang bini orang wakakakakkkk"
Juntrung punya cerita, ternyata puisi ini dibuat disaat dia kemalaman dengan dua sobat yang lain yaitu sobat Mh Putra dan Sandi Lekas di pasar senen jakarta pusat.
Mereka bertiga tidak dapat tempat untuk menginap dikarenakan sobat-sobat yang didatanginya ini pada pulang mudik.
Mereka bertiga menggelandang tidur di emperan Gelanggang ramaja Senen.
Jantungku sempat terhenti sesaat, disaat Val bercerita tentang pengalaman pertamanya merantau ke jakarta untuk menggapai mimpi-mimpinya yang mungkin selama ini di copet embun malam dan seruni di jakarta ini wakakakkkk
Dari sedikit banyak informasi ini aku mencoba mengupas kandungan puisi 'anak laki tong sampah' di sini. Siapa tahu rasa yang di telorkannya dapatnya menelorkan rasa bagiku.
Ditilik dari judulnya saja aku sebenarnya tidak tertarik. 'anak laki tong sampah' ? mana yang nyaman dari judul ini?
Tapi setelah aku masuk baris perbaris, barulah aku menemukan keanehan-keanehan yang mampu menggelitik rasaku.
'Semalam ini ada tetangis melarung lerung' hemm... "semalam ini", berarti si penyair ini tidak pergi kemana-mana. Tetap diam dalam suasana dan keadaannya. "ada tetangis melarung lerung".. sang penyiar mencoba menangkap suarakah yang didengar di sekitarnya atau mungkin tangisan ini bisa saja sebenarnya keluar dari hatinya. Apalagi suasana malam yang dingin, tidur di lantai yang dingin beratapkan langit membuat penyair ini. 'tetangis melarung lerung?' tetangis jelas dari kata tangis yang menimbulkan rasa lain disaat imbuan 'te' menyatu. Disini aku menangkap bahwa penyair ini merasakan tangisan ini bukan lagi berupa tangisan tapi lebih tepat jeritan hati yang menyayat yang timbul tenggelam dibuai alunan dan tarian angin malam.
Baris ke dua berbunyi yang lebih tepat menjelaskan baris pertama yaitu 'mengapa menangis?' ya! kerna "Digigil airmata pelupuk kota jakarta"
Sobatku yang satu ini memang sering dikenal sebagai penyair yang suka memenggal kata seenaknya yang terkadang dapat mengernyitkan jidatku.
seperti di puisinya yang lain yang aku lupa judul lengkapnya. di judul puisinya itu ada kata 'Lalu' yang kalau di rasaku saat kata 'lalu ini berhubungan dengan kalimat di depannya yang seperti ini
'masih terdengar rintih lalu". Otomatis kata 'lalu' ini sangat mengganggu untuk dicerna rasa bukan? tapi setelah kami berdialok dan masuk ke puisinya, barulah aku paham hehe ternyata orang aneh ini memang pantas aku panggil sang penyair gemblung.
Bagaimana tidak? orang waras saja dibuatnya ikut gemblung sepertinya wakakakkkk
"jangan lagi kau hambur sampah laiknya doa
yang jadi rebutan mata mata jalang"
Nah. Disinilah aku ternganga kagum dengan pemilihan kalimat yang hingga saat ini mampu mengajakku berimajinasi, bahkan baris ini menyeretku ke suasana malam gilanya ini.
"jangan lagi kau hambur sampah laiknya doa yang jadi rebutan mata mata jalang" disini penyair Val bermain metafora yang menurutku cukup berhasil.
'Sampah' baginya menggambarkan sesuatu, bisa mengarah ke benda lain. Lha kalau disatukan seperti ini dapatlah aku maknai bahwa sang penyair berharap bahwa kita-kita ini janganlah hanya pandai berujar yang baik-baik saja selayaknya ayat suci, tapi kita digugahnya untuk kembali ke fitrah manusia yang sebenarnya tidak punya daya upaya kecuali atas kehendak-Nya.
Rasa syukurnya ini disampaikan dengan cara sindiran. Bisa jadi sindiran ini mungkin ditujukan untuk dirinya sendiri yang mungkin selama ini tidak pernah atau mungkin kurang mensyukuri nikmat-Nya. sedang sang penikmat karyanya ini akan kecipratan renungannya agar kita semakin berpikir positif di hari-hari ke depannya.
Dan, diakhiri kalimat khasnya yang jenaka tapi sangat menyentil sekali ; "sampah basah sebelah kiri"
: wakakakakkkkk
Duasaar gemblung tenanan kowe ki!
Begitulah sekelumit ungkapanku, agar sobat-sobat semua mengamini apa yang aku ucapkan diatas
wakakakkkkk
Sekedar mengendorkan urat-urat yang memang senang menegang ini.
Terima kasih
Salam persobatan
PP
Pecicilan Ponco
Tangerang, 6 Oktober 2009 sore hari
Anak Laki Tong Sampah
26 September 2009 jam 14:06
semalam ini ada tetangis melerung lerung
digigil airmata pelupuk kota jakarta
jangan lagi kau hambur sampah laiknya doa
yang jadi rebutan mata mata jalang
sampah basah sebelah kiri
salam
val
tangerang, 26 September 2009 jam 14:06
Biodata Penulis :
Nama Asli : Purnomo Ponco Wibowo
Nama Pena: Poncowae Lou,
Email ; pena.api_ponco@yahoo.co.id
Alamat ; Cipondoh Permai
Jl. Terompet Blok AF No.6
Cipondoh-Tangerang
Banten
Menulis Media online ;
Yahoo Answers Indonesia Kategori Persajakan
Kemudian.com
Kapasitor,net
Multiply.com kategori Apresiasi Puisi
Matadunia.com
Semasa muda (SLA) pernah menulis di beberapa surat kabar Jawa Tengah dan DIY tentang Puisi/persajakan.
Pendiri dan pernah mengelola Sanggar Sastra ‘Srada Giri’ di Kabupaten Wonogiri 1980an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar