MPOK KONDE
Cerita ringan menjelang mati
Bagian ke 5 ; Sosok Mpok Konde yang mulai kukenal
Mpok Konde dikenal tetangganya pribadi yang ramah, rendah hati serta berjiwa sosial yang tinggi. Bagiku, pribadi seperti ini sangatlah pantas untuk dikenal lebih dekat.
Dalam hal ini tentunya kita tidak perlu mengkotak-kotakan status sosial dalam masyarakat.
Mpok konde hidup sehari-harinya hanya ditemani suaminya Bapak Parto Jolewalewo yang bekerja sebagai petani penggarap dan tukang bangunan. Kalau ditilik dari pekerjaan suaminya sebagai petani penggarap dan dia sendiri sebagai pembantu lepas di rumah-rumah warga komplek dekat rumahnya. Tentunya dalam bayangan kita bahwa hidupnya pastilah pas-pasan menurut ukuran kita.
Apa yang kita bayangkan ini sangatlah bertolak belakang dengan kenyataan hidupnya.
Pasangan ini menurut cerita tetangganya adalah pendatang baru dari Propinsi jawa tenggara. Tepatnya dari sebuah dusun yang bernama Kampung Gunung yang masuk kecamatan Pager Gunung. 1589 kilo meter dari kota kabupaten Sanggrahan. Kota ini adalah kota kelahiranku.
Mulai tinggal dan menetap di kampung ini yang bernama Kampung Numpangnampang, masuk wilayah Propinsi Metro Bantar Angin Jaya, sudah hampir 27 tahun 11 bulan 23 hari di hutung mulai saat ini.
Memang benar apa yang dikatakan istriku bahwa Mpok konde punya dua anak angkat.
Anak angkat yang pertama seorang laki-laki yang bernama Anggoro yang bekerja di rumah sakit umum kota Sanggrahan sebagai Dokter spesialis penyakit dalam. Sedang putri angkatnya bernama Putri bekerja sebagai guru SMP bersuamikan seorang pengacara yang terkenal di kota Metro Bantar Angin Jaya.
Disinilah ketertarikanku kepada keluarga ini, walau anak-anak angkatnya berhasil menjadi seorang yang kehidupannya mapan, tapi beliau tetap bekerja layaknya anak-anak angkatnya masih kecil.
Atau mungkin inilah sifat orang tua ya? Dimana dalam kehidupannya yang semakin tua, beliau tidak mau merepotkan anak dan cucu-cucunya.
Apakah aku dan istriku bisa melakukan seperti beliau? InsyaAllah, semua itu aku kembalikan kepada-Nya. Kerna batas umur manusia tidak ada yang tahu kecuali Allah ta'ala.
Ternyata setelah anak-anak angkatnya mulai mapan, Mpok Konde dan Pak Parto tidak langsung berpangku tangan. Beliau mengabdikan diri pada kegiatan sosial dan masjid.
Keluarga ini juga termasuk penyantun tetap di yayasan yatim piatu "Harapan Bunda"
Menurutku, ini suatu pribadi yang sangat mulia dan pantas aku tiru.
; Yaa Allah... jadikanlah hidupku bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitarku.
ucapku dalam do'a sesaat sambil menghirup Teh Tubruk di pagi yang cerah ini.
"Papa yakin hari ini tidak kerja?" tanya istriku yang aku jawab dengan anggukan, "Papa sakit?... bagaimana kalau mama kerokin? atau perlu aku antar ke Doker Soleh?... jam begini pak dokter masih dirumah pa?"
"Tidak ma!.. papa tidak sakit"
"Lha!?.. kenapa papa tidak kerja?"
"Mulai kapan Mpok Konde tidak kerja lagi?" memotong ucapan istriku, " atau mungkin mama bikin ulah ya hingga Mpok Konde tidak bantu mama?... atau mungkin mama sudah merasa mampu membenahi rumah? kalau mama merasa bisa ya papa tidak masalah"
"Belum mama jawab.. papa sudah nrocos saja!"
"Bukan begitu ma!.. papa tidak mau ada orang yang tidak betah bekerja sama dengan kita kerna dia tidak ikhlas mengerjakan tugas"
"Tenang saja papaku sayang. Mama selalu mendengar perintah papa. Kan mama mau jadi istri yang akan menemani papa di surga?"
"Makasih ma!... berapa hari Mpok Konde tidak datang?"
"Dua hari ini Pa, memangnya ada apa?"
"sakit ya?"
"Kurang tahu pa"
"Bagaimana kalau kita silahturahmi ke rumahnya?"
"Bener nih papa mau kesana?" saut istriku seperti tidak percaya, kubalas ucapanya dengan anggukan dan senyum, " kalau begitu mumpung masih pagi kita kesana pa!, siapa tau masih sempat ketemu pak Parto suaminya mpok konde"
"Hayo!, tapi bilangin Bagas untuk bangun Ma. Suruh Bagas gantian menyapu dan ngepel rumah"
"Ya pa. Dari kemarin Bagas yang sapu dan ngepel rumah kok"
Singkat cerita sampailah kami di rumah Mpok Konde. Rumahnya yang kecil mungil dengan cat warna putih bersih menunjukan bahwa pemiliknya sangatlah familier.
Kulihat di halaman depan ada beberapa pot bunga yang ditata sedemikian rumah menyesuaikan halaman depan yang tidak begitu luas.
Di sebelah kiri rumah yang berbatas pagar bambu yang membatasi rumah dan kebon kosong, ada sedikit tanah yang ditanami cabe rawit, tomat dan palawija. Ada beberapa pohon yang aku tidak tahu namanya merambat di pagar tersebut.
Sedang sebelah kanan rumah yang lebih luas yang kurasa ini adalah kebonnya, ditanami bunga-bunga hias. Mungkin disinilah sumber kehidupan tambahan, sambil bekerja dipekerjaan pokoknya, mereka sekeluarga juga mendapatkan masukan dana sebagai petani pohon hias.
; Subhanallah, hanya kalimat ini yang mampu aku ucapkan.
Setelah uluk salam layaknya seorang muslim, kami berdua dipersilahkan masuk ke teras oleh seorang lelaki tua yang dapat aku pastikan suaminya Mpok Konde.Beliau kuperkirakan berumur sekitar tujuh puluhan, tapi kalau dilihat dari postur tubuhnya yang masih menunjukan tubuh yang atletis, bisa saja meleset perkiraanku ini.
"Bapak suaminya Mpok Konde ya?... Saya Beinjo pak. Orang dekat dan keluarga biasa memanggil saya Den Bei hehe bagaimana denga kesehatan bapak dan ibu? sehat-sehat saja ya?" ucapku yang memang seperti kebiasaan sehari-hariku, yang selalu menanyakan kesehatanm orang, sebelum menjurus kepembicaraan yang lain.
"Ooo.. ini ya yang bernama Den Bei? masih muda ya? gagah dan ganteng. Ibunya anak-anak sering cerita tentang Den Bei... Saya Parto suaminya Mpok Konde. Alhamdulillah bapak dan istri serta anak dan cucu Bapak sehat sehat semua. Bagaimana dengan keluarga Den Bei?" ucap pak Parto sambil tetap menjabat erat-erat tanganku.
"Alhamdulillah pak, atas do'a bapak dan mpok Konde saya sekeluarga sehat-sehat saja" ucapku lagi yang dipersilahkan masuk rumah,"Ini mantan pacar saya pak... dia ini sekarang jadi ibunya anakku"
"Jadi?" potong pak Parto serius. Mungkin kerna beliau belum tahu sifatku maka beliau tidak sadar bahwa aku mengajaknya bercanda.
"bercanda pak!.. he he... ini memang ibunya anakku yang tentunya juga istri yang melahirkan anakku"
"Oalaaah.. bapak pikir ibu ini istri bapak yang ke dua wahahaha"
Sebenarnya aku masih penasaran mau menanyakan ke Pak Parto, apa yang dibicarakan Mpok Konde tentang aku ya? padahal aku belum pernah ketemu beliau.
; hemm, batinku berucap... nanti juga akhirnya aku tahu sendiri.
"Sebentar ya Den Bei dan Bu Bei... saya panggilkan istri saya. Dia lagi memetik pepaya di kebon belakang" ucap Pak Parto masuk ke ruang tangah.
"Silahkan pak" ucap istriku yang sedari tadi hanya memandang seisi halaman dan ruang tamu.
Aku pun akhirnya ikut memandang ruang tamu yang ditata sedemikian rupa layaknya rumah orang desa di jawa.
Kursi yang kami duduki terbuat dari kayu jati yang berukir-ukiran khas jepara, begitu juga daun pintu hingga tiang rumahnya. Membuat aku terkenang pada rumah tempat tinggalku di kota Sanggrahan yang saat ini hanya di huni Ibundaku dan kakak perempuanku yang menjadi polwan, kerna Bapakku sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Saat ini kakak perempuanku ini menjabat sebagai Kapolres kota Sanggrahan.Dia bersuamikan seorang tentara yang bertugas di kota yang sama. Sedang putra tunggalnya membuka praktek sebagai psikolog di kota Sanggrahan pula.
"Kalau kita tinggal disini enak ya Pa!, terasa kayak dikampung bauresan papa ya?" ucap istriku yang membuyarkan lamunanku.
"Ya ma. tapi papa kan tidak punya halaman seperti ini ma. Papa kan tinggal di kotanya. lha kalau kampung mama yang di Gudang Seng... papa baru percaya sih he he he" bisikku sekalian meledek istriku yang mulai mencubit pahaku.
Tidak begitu lama Pak Parto keluar dari ruang dalam yang diikuti seorang perempuan tua yang memakai kain jarit dan kebaya khas jawa dengan rambut disanggul. Yang lebih tepatnya memakai Konde.
: O.. ini ya yang bernama Mpok Konde?, batinku berbisik sambil mengikuti istriku untuk bangun dari duduk.
Istriku berjabatan tangan dan berpelukan, Aku yang kebagian belakang sempat berpikir ; mengapa istriku sebegitu dekatnya dengan orang ini ya?
Memang aku akui, disaat Mpok Konde keluar dari dalam, ada getaran aneh yang belum pernah aku rasakan. Sempat aku terbengong melihat tingkah lakunya yang keibuan sekali.
Ada aura yang sangat bersih seakan menaunginya bahkan boleh dibilang beliau ini punya kharisma.
Saat Mpok Konde menatap wajahku, beliau tidak langsung menjabat tanganku, matanya berlinangkan air mata. Kami berdua sempat lama saling bertatap muka. Batinku semakin bertanda tanya : siapakah sosok wanita tua ini Yaa Allah... mengapa mampu menggetarkan hatiku?
"Kamu Gareng ya?" ucap Mpok Konde yang membuat hatiku menggeletar. Kulihat istriku yang saat ini berdiri disamping kiri Mpok Konde memandangku bingung. Aku yakin istriku tidak akan tahu nama panggilan masa kecilku. Lha siapakah ini?
"Ek.. eek ya Mpok!" ucapku gelagapan bingung.
Kalau didepanku ada cermin yang besar pasti aku dapat melihat penampilanku yang culun dan grogi setengah mati, "Saya Gareng, lha mpok ini sebenarnya siapa ya?"
"Coba ingat-ingat lagi" ucap Mpok Konde yang tubuhnya dirangkul sama Pak Parto. Sekali-kali Pak Parto mencium umbun-umbun kepala mpok konde yang postur tubuhnya lebih pendek dibanding suaminya.
Aku yang disuruh mengingat-ingat seperti itu ya membuat aku mempertajam memandang wajah Mpok Konde dengan seksama, tapi tetap saja aku tidak mampu menemukan sosok wajah masa lalu yang aku kenal yang saat ini berdiri didepanku.
Kupandang ke dinding rumah siapa tahu ada photo atau lukisan masa mudanya Mpok Konde yang mungkin dapat aku kenal. Tapi apa yang kucari tidak ada. Membuat aku lama terdiam.
"Kok kaku begini sih!" ucap suaminya mencoba merubah suasana, " hayo duduk semua!" suara Pak Parto seperti menyuruh anak-anaknya untuk duduk lalu mendengarkan nasehat atau petuahnya.
Dari ucapan Pak Parto yang sederhana itu membuat aku kembali ke masa kecilku.
Aku mulai dari masa remajaku hingga turun ke masa kecilku. Tapi tetap saja aku tidak menemukan sosok perempuan yang sangat santun ini.
Istriku mulai duduk disampingku, memegang pundakku sambil berucap sesuatu yang sebenarnya tidak aku dengar.
Disaat aku mendengar tawa renyah Mpok Konde yang sangat membekas di hatiku, aku baru dapat mengira-ira, siapakah beliau ini.
"Mohon maaf ibu!" ucapku merubah sebutan Mpok menjadi Ibu, kerna aku mulai menemukan sosok perempuan ini dari cara tertawanya. Entah benar atau salah aku harus mencoba menerkanya, "Apakah ibu yang biasa aku panggil Mbok Sari... Mbok sarinah ya?" tanyaku pelan.
"Bener ngger!" jawab Pak parto cepat disaat melihat istrinya tidak bisa menjawab tapi justru menangis dipelukan suaminya,"Bener! inilah Mbokmu sarinah yang mengurus kamu waktu kecilmu"
Saat aku mendengar bahwa itu adalah Mbok Sarinah yang mengurus waktu aku masih bayi hingga aku SD kelas 4, membuat aku tanpa malu pada istriku, bangun dari tempat duduk langsung memeluk Mpok Konde yang masih menangis dipelukan suaminya.
"Mbok Sarinah... aku si Gareng yang nakal itu mbok. maafkan kesalahanku ya mbok?"
ucapku terbata-bata sambil berpelukan. Aku akhirnya ikut menangis memeluk Mpok Konde, sedang Istriku akhirnya ikut menubruk tubuhku menangis pula.
Setelah kami semua mampu meredakan isak tangis, tidak begitu lama mulailah kami dapat mendengar tentang kisah perjalanan Mpok Konde atau Mbok Sarinah. Tentunya dimulai dari masa kecilku, masa kenakalanku hingga hubungannya Mpok Konde dengan orang tuaku.
Semua kisah diceritakan sangat lancar, bahkan aku masih menyinggung tentang dongeng dan cerita cerita yang sedikit aku ingat. Ditimpali oleh Mpok Konde dengan mengulang cerita dan dongeng itu seperti yang pernah aku ingat dulu. Ha ha ha aku jadi merasa jadi anak kecil lagi.
Berhubung aku memang suka dongeng ya cerita yang disampaikan Mpok Konde bagiku tidak menjadi beban, malah membuat hatiku semakin terhibur dan senang.
Dari pertemuan kembali inilah aku merasa dapat menemukan lagi sosok seorang ibu yang selama ini aku cari yaitu Mpok Konde atau Mbok Sarinah.
; Terima kasih Yaa Allah... Engkau mempertemukan kami lagi dalam kenikmatan yang pantas selalu aku syukuri... Amin
Bersambung...
...
Ponco wae
Tangerang, 12 Agustus 2009
Barusan, 12.20 siang
19 November 2009
MPOK KONDE
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar