Laporan selayang pandang Ala Poncowae Lou : Riungan Tangerang Serumpun ke 4, tgl.28 Juni 2010
Sebelum saya cerita selayang pandang malam apresiasi sastra yang diselenggarakan tadi malam, saya mewakili penyelenggara acara bedah Novel Elang karya Kirana Kejora dengan pembicara budayawan Hudan Hidayat mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas kurang nyamannya sobat-sobat menghadiri acara tersebut.
Tidak ada gading yang tidak retak dan tidak ada pula pesta yang tidak berakhir. Peribahasa ini bukanlah sebagai tangkisan atas kurang berhasilnya kami menyelenggarakan acara, tapi ini kami kembalikan ke kami sebagai evaluasi kedepannya biar kami lebih menyenangkan dalam menyambut kehadiran sobat-sobat semua.
Sobat-sobat yang budiman yang dicintai orang tua, anak-istri dan Allah ta'ala,
Bola... bola.... bola...; Bulan ini semua mata tertuju ke pertandingan bola dunia, sedang riungan Tangerang serumpun tidak mungkin berhenti dengan adanya pesta bola tersebut, maka penyelenggara memutar otak dan menyiasati dengan cara kami harus membuat suatu acara yang kuat temanya. Tanpa tema yang kuat tentulah berbeda dengan apa yang terjadi tadi malam. Jatuhlah pilihan kami pada tema bedah novel Elang yang penulisnya (Kirana Kejora sudah keliling indonesia hanya untuk buku elangnya ini) Luar biasa.
Acara tadi malam dibuka oleh dua MC kami yang kocak (walau terkadang kocaknya bikin koplak kepala orang) hehe.
Setelah MC disambut dan disambit tepuk tangan dan tepuk kaki yang hampir memenuhi pacuan balapan kuda, tibalah gilirannya ketua koordinator Tangerang serumpun yang saat ini kami percayakan ke sobat perempuan kita Divin Nahb menyampaikan sepatah dua patah kata yang ternyata bukan hanya sepatah dua patah kata yang patah justru seikat kata-kata patah semua. Ini terjadi sesuai beban tanggung jawabnya (maaf bukan beban berat badannya lho! hehe) selaku penyelenggara.
Saya tahu bahwa sobat mulai bingung yang akan saya sampaikan. saya sendiri sadar bahwa saya sendiri aslinya bingung mau bercerita apa? Tapi dari niat yang tulus saya, semoga disela tulisan saya yang sepintas (aslinya memang hancur ini hehe) dapatlah sobat menyimak, memilah sendiri sesuai apa yang sobat inginkan dari laporan saya ini.
Kalau yang sobat cari saat ini hiburan yang membuat dunia ikut tersenyum kecut, saya yakin sudah menemukan di tulisan ini, tapi kalau sobat mencari tulisan berupa laporan selayang pandang ala berita tentulah sobat tidak akan menemukan disini. hehe
santai saja ya?
hidup sudah susah mengapa yang susah dibuat mudah? eee kebalik ya? hehe
Riungan tangerang serumpun dikemas dalam bentuk kekeluargaan yang bersahaja, maka tak heran di riungan ini sobat-sobat yang terhormat biji salak warnanya coklat diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk mengajak anak, teteh, cici, koko nenek, opa yang ompong kemari karena di riungan tangerang serumpun ingin menjadikan setiap riungan dapat bermanfaat bagi generasi muda negri ini. tentunya bagi opa dan oma, riungan tangerang serumpun dapatlah menjadi persinggahan keluarga untuk reuni keluarga.
Kita kembali ke klip klop!
hehe
Bapak Madin sebagai Dewan pembina tidak lupa menyampaikan kronologis Tangerang serumpun hingga riungan ini terjadi. Beliau sehari-hari bertugas di DKJ (dewan Kesenian Jakarta) sedang pekerjaan adalah pembuat Skenario yang cukup produktif di negri ini.
Sesuai tema yang kami angkat di bulan juni ini adalah Mengupas lebih dalam lagi novel Kirana Kejora dengan pembicara budayawan Hudan Hidayat tentulah langsung dimulai setelah terlebih dahulu mas Hudan Hidayat harus menata kembali nyawanya yang hampir lepas gara-gara diboncengin sobat Yandri yadi Yansyh pakai HD (Bukan Harley Davidson lho, tapi Huduk huduk druk druk druk) dengan kecepatan cahaya.
Kata eti (Maaf info ini jangan dipercaya kerna yang menginfokan saja tidak mau tanggung jawab hehe) mas hudan pegangan kencang sekali padahal sama sobat Yandri sudah diikat pakai tali rafia kencang-kencang
wakakkkkkk
yandri bilang : jangan ngompol ya mas Hud?
mas hud ngejawab : He'eh he'eh wae
wakakkkkkkkk
Mulailah dialok mas Hudan mengeluarkan makalah setebal 5000 halaman untuk mengupas novel Elang ini. yang aku tertarik dalam bedah ini, bahwa mas Hudan ternyata lebih pintar nulis dari pada tidak sama sekali tidak bukan? hehe
nah lho! ada yang mulai bingungkan? Pegangan tiang yang kencang-kencang kalau bingung ya?
Untung saja ketua panitia sobat JJ Prabu tidak menyediakan keris, tentunya bisa perang tanding mas hudan dengan Kirana.
Yang aku dapatkan justru saling memberi suport satu sama lain.
Bener lho sobat!
Untung saja aku datang kalau tidak datang sangat rugi sekali. buktinya semua mata fokus tertuju ke panggung untuk menyimak dan mendengar apa yang disampaikan mas Hudan tentang novel Elang.
Penulisnya tetap mempertahankan pendapatnya bahwa dia adalah penulis realis, sedang mas Hudan berkata (Hehe aku kok lupa ya? maklum aku terbengong-bengong melihat mereka berkolaborasi. sangat lembut, sangat serasi dan sangat mesra sekali hehe)
Disaat mereka berdua bibirnya mulai berbusa dikarenakan pesanan Birnya tidak datang-datang, maka acara bedah buku diselingi musik live. fachri (9tahun) bermain biola diiringi gitar papanya yang bernama mas ikhsan snada. semakin meriah lagi disaat adiknya yang bernama Nisa (5tahun) naik panggung untuk menyanyikan tiga lagu yang salah satunya berjudul Bunda. dalam posisi flu ternyata Nisa mampu bernyanyi lebih nyaring dari pada teriakanku yang sumbang. Bukan main.
Acara pun dilanjutkan kembali ke mas Hudan dalam bedah karya Kirana. Sebenarnya sangat banyak yang dapat dipetik dari bedah novel ini, salah satunya bahwa mas Hudan memberikan ilmu kepada penonton yang berkutat dalam sastra. Kata mas Hudan : Jadilah penulis yang jujur dalam menulis. tidak usah memikirkan takut karya kita tidak ada yang membaca. tidak usah takut bahwa dari tulisan kita nanti akan mendatangkan musuh baru bagi kita, tidak usah takut bahwa kerna tulisan kita ini membuat kita masuk penjara.
Sedang Kirana yang hobi bertualang melakukan perjalanan keliling indonesia demi novel-novelnya menceritakan tentang dia melawan arus. disaat dunia sastra (Terutama media cetak dan koran) tidak bisa ditembus, maka dengan gigihnya dia mampu menerbitkan buku-buku karyanya dengan cara indi. Dibiayai sendiri.
luar binnnnnasa hehe salah nulis. maksudku luaaar biasa gigihnya. Orangnya sangat gigih dan tidak cengeng. ini dibuktikan dari cerita dalam novelnya yang sangat gigih. Selain itu dalam mendidik ke dua anaknya sendirian, beliau mampu membangun akar yang kuat di hati mereka berdua.
Setelah pemaparan selesai maka masuklah ke sesi pertanyaan, banyak sekali yang bertanya, baik ke mas Hudan sendiri maupun kepada Kirana Kejora. Saya sebagi pendengar merasa beruntung mendapatkan ilmu dari dua nara sumber ini. Ada yang bertanya agak keras tapi ekornya mensuport kirana. salah satu penanya adalah Mas Erry Amanda. ada juga pertanyaan datang dari mas Joni pengelola dari taman sari Lipo karawaci. banyak lagi yang bertanya tapi sayangnya mohon maaf.. hehe saya sedang wira-wiri menebar racun kesetiap tamu yang datang yang malu-malu minta tanda tangan eee salah maksudku tanda kakiku hehe.
Setelah Mas Hudan dan Kirana turun dari panggung (sebelum aku usir hehe) masuklah kita ke acara selingan. Sobat kita Jessica Handriyani membaca puisi elang karya Kirana Kejora, disusul kemudian sobat kita MH Putra membaca dua puisi karyanya tanpa teks.
Sebelum Abah Yoyok membaca atau lebih tepat bernyanyi ala jawa yang disebut mocopat maskumambang dengan judul Sekar alit dalam tafsir Honocoroko.
naiklah sobat Kita Nana yang sastrawan dengan khasnya sleyer dekil dikalungkan dileher serta tangannya yang kena strum 300 volt menggelepar-menggelepar di saung. Untung saja sadar bahwa dia sebenarnya tidak diatas panggung, kalau meja didepannya dikira panggung, niscaya makanan bahkan gelas dan piring diinjak-injaknya dengan mesranya hehe
Aksi nana yang akstraksif tentulah sangat menghibur penonton malam itu.
Disaat mas abah Yoyok mulai berdendang, kulihat semua penonton diam mendengarnya. Entah dibenak mereka masing masing apa yang dipikirkan. aku tidak tahu. Mungkin saja bagi sobat Jejak sandi yang berasal dari palembang akan membatin : ngomong opo to bah yoyok?
begitu pula JJ Prabu dan Nana Yang sastrawan yang betawi dan sunda ini pastilah hanya bisanya bengong dan mengucap : Wooow keyen abah yoyok! kalau bisa bulan-bulan berikutnya abah yoyok TIDAK lagi membaca seperti ini ya? wakakakkkkkk
Begitulah suatu komunitas yang dibentuk oleh bangsa indonesia ini dari berbagai suku bangsa, disinilah kita dapat berbagi kebaikan dan Insayallah berbagi kebajikan pula.
Berbeda gaya Abah Yoyok pastilah berbeda pula gaya mas Erry Amanda dalam menggendingkan tulisan berbahasa jawa. Beliau selesai membaca yang kurang lebih aku sendiri yang orang jawa saja tidak paham (hehe aku lagi belajar jujur nih) beliu membaca pula artinya dalam bahasa sansekerta eee salah maksudku bahasa indonesia yang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Terus terang tadi malam banyak sekali sobat-sobat yang hadir, tapi sayangnya tidak semua orang yang hadir menjalin persobatan di FB denganku sehingga saya hanya menebar senyum setiap berpapasan dengan tamu yang belum saya kenal.
Yang jelas dewan pembina Tangerang serumpun banyak yang hadir, ada mas Jodhi yudono, Abah Yoyok, Uki Bayu Sejati, Madin Tsawan. Yang tidak hadir karena kesibukannya adalah Kurniawan Junaedhi.
Para tamu yang datang dari Komunitas Mata Aksara ; Handoko F Zainsam, Na Lesmana.
Lentera Komunikasi sastra (LEKAS) ; Jejak Sandi dan MH putra.
Serta tamu istimewa yang karyanya akan menjadi Tema di riungan tangerang Serumpun ke 5 bulan juli nanti, yaitu Tri Utami.
Saya selaku koordinator pelaksana riungan Tangerang serumpun ke 4 ini merasa senang atas kerja samanya sobat-sobat tim yang lain seperti JJ Prabu, Alif Komunitas Empang, Ayu K Empang, Eti dan Yandri yang saya tugaskan menjemput mas Hudan.
Saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua. Tanpa sobat-sobat tentunya riungan ke 4 ini tidak mungkin terjadi.
Tidak lupa aku ucapkan terima kasih kepada mas Hudan Hidayat dan Kirana Kejora yang sudi berbagi ilmu kepada kami semua demi sastra Indonesia yang lebih bermartabat.
terima kasih
salam persobatan
poncowae Lou
Pengelana Kata-kata yang sejenak singgah di Tangerang Serumpun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar