13 Juli 2010

napak tilas ; Tanggul angin




napak tilas ; Tanggul angin

U/ Hudan Hidayat

saat aku terlena dengan luapan hati menderdah jerih maya yang menggelontor glosor. semburat keemasan di ufuk persemaian, kucoba taruh sepenggal baitbait puisi. tanpa terasa baitbait puisi itu bertumpuk undung sundul ke langit-langit. itu pun aku tak sadar bahwa sulaman dengan renda kembang-kembang buram yang kau tukar dengan rembulan di penghujung senja kemarin tinggal jarum pentul, nancap dalamdalam sedalam pentol korek yang kugigit menahan lara. dan.... darah itu mengucur tak bening lagi dibanding pecahnya ketuban dan pupusnya ari-ari anakku. setibanya aku di batas senja yang lain yang terkesan tak seramah senja-senja yang pernah kugumuli, barulah aku sadar... ternyata... langkah... perlu setindak setindak hingga telundakan yang terakhir.

; semisal hati tak lentur dan tak mudah berubah warna, mungkin kiranya tak semrawut seperti ikal rambutmu, Yayi!

koredor aku lalui dan kutangkap binar mata sangkurmu. kugenggam pangkal tengkukmu. lalu kuserut pensil berubah warna dengan tergesa-gesa di belahan selangkangmu serasa ada yang menggelepar-gelepar jatuh di jemari kakiku yang telanjang. puih!... puih!... puih! menyembul warna berlogat jenaka menerka-nerka seberapa lentik kelopak sangkurmu dibanding semburat bianglala yang malu-malu sembulkan mimiknya.

; aduh Yayi... diajeng belahan sukmaku. cukuplah candamu menari-nari di pelataran belantara maya kerna senja ini terlanjur mengulitiku hingga keping biji kemiri yang kuselipkan di ketiakku pun terjatuh tertuduh patuh. adakah pengharapan lain tanpa-Nya?

malam yang terasa sepenghabisan memanjang sepanjang roda-roda pedati yang menapaki batu rijang, menanjak menukik mentari terik mencekik. ini malam; hardikku!.... terasa berat nian Yayi!

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 12 Maret 2010-18:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar