Puisi pecicilan : Monyet-monyet, bergelantunganlah kamu
monyet-monyet, bergelantunganlah kamu pada batang-batang usiaku yang beranting rindang masa lalu
bertengger berbagai satwa hawa imaji dan khayal semata
ranting-ranting itu penuh nian dedaun merimbun dan setanggal-setanggal runtuh luruh adalah kepingan-kepingan yang sebenarnya mengandung enzim mahma kata
seumpama dipilah jadi dua...
di persemaian nun disana terlipat rapat-rapat kekelaman sedang di pelataran yang mengebiri aku mengeja wantah drupadi drupada ngumbar rukmo
: aku anak kecil yang selalu kau timang kau beri susu hingga kini tak meragu
Monyet-monyet, bergelantunganlah kamu pada uban-ubanku yang tanggal satu persatu
banyak kisah pilu yang bersanding cerita canda tawa bersamamu dulu.
pakai koteka cawat berbulu berbidang dada kekar otot beradu
gebyur baur di ledung
canda bergaung hantam dinding-dinding batu kapur ; byur... byur... byur...
; aku tahu anumu, kamu tahu anuku
monyet-monyet, bergelantunganlah kamu pada bibir merah maseinya
disaat ranum bibir mengulum
aku kecebur lagi ; byur... byur... byur...
kalap dalam pusaran
Eyang putri alias istriku langsung menyambar bagai kilat... lat...lat... : "dasar tua bangka, otaknya tak jauh dari selangkangan saja. ini cucumu yang ke sembilan berak dicelana kau diamkan saja"
; yang mana ma?... yang mana ma?, sautku merengkuh pinggangnya erat-erat kutentang ke kamar tidur dengan nahsu yang sudah uzur.... hancur.... hancur...
cucu menangis, anggap musik jazz yang mendayu brutu
capek deh aku, ngedumel mantuku yang cantiknya bagai bidadara turun di gunung seribu!
Monyet-monyet bergelantunganlah kamu pada batang-batang usiaku
hingga tutup hariku kurindu kamu
~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 23 Mei 2010-12:08

Tidak ada komentar:
Posting Komentar