29 Januari 2009

puisi jenaka : HULUBALANG PUTRI CAMPA






Dijalur bebukitan
berlari lari sipatkuping
compang camping hulubalang membawa pesan
nafasnya tinggal seonggok jagung perbekalan
sampaikan luka dalam cerita
panglima raja mati diperdaya

Duduk di atas singgasana
sang putri cantik campa namanya
menggenggam belati yang terselip dipinggangnya
matanya nanar merah saga
menahan amarah...

(bagaimana tidak?)

negri gemahripahlohjinawi
digulung ombak nafsu durjana

"aku memang seorangbetina" teriak putri campa
tapi darahku juga merah
tulangku sama sama putih....
bedanya ludahku memancarkan aroma kedamaian

"mengapa ini bisa terjadi?" tanya sang putri
hulubalang yang tegak berani kecil nyali
memandang wajah sang putri adalah dosa apalagi mencintai

duh ampun duhai putri penyayang negri
negri ini bukan hanya dari luar terlihat keropos
dari dalamnya telah digerogoti anjinganjing geladak

"siapakah pelakunya?" hardik putri campa semakin murka

"tidak lain dan tidak bukan" jawab hulubalang ketakutan
matanya nanar toleh kiri kanan
"nafsu angkara murkalah biangnya" bisiknya

sang putri tertunduk wajahnya menghela nafas, seluas samudra

"Kalau kau mampu menanggulangi
kuangkat dikau jadi panglima perang wahai hulubalang kesayangan"
sabda sang putri
"sebagai hadiahnya kalau kamu menang
kuserahkan emas intenrojobrono yang terpajang ditubuhku, untukmu"

"yang benar sang putri?" saut hulubalang kegirangan
tanpa sadar matanya bertatapan dengan kharisma sang putri campa
sang putri mengangguk seraya tersenyum manja

"sebagai bonusnya jadikan aku istrimu yang pertama"
ucap sang putri campa dengan lembutnya

"he he he" saut hulubalang kebingungan
"tapi maaf putri, aku sudah lama dikebiri"

sang putri campa tertawa dengan merdeka
hahahahahahahahaha
amarahnya sirna, berganti canda ria

....
Poncowae
Jkt, 24 Desember 2008-15.43

Tidak ada komentar:

Posting Komentar