31 Maret 2009

Oleh-oleh umrohku : PERJALANAN RUH DI TANAH HARAM (bagian ke 4)


Bab 4 : PUTUSNYA HUBUNGAN KOMUNIKASI DENGAN KELUARGA

Saya akhir akhir ini sempat ditanya oleh beberapa orang, dimana inti dari pertanyaannya hampir sama, yaitu kapan saya merasakan getaran adanya keberadaan Allah dalam hatiku.
Jawabku : Subhanallah

Saya pertama kali merasakan ada getaran kekuatan Allah itu terjadi beberapa bulan setelah saya masuk Islam.
Waktu itu saya merasa seperti hari hari kemarin dimana kegiatan religi ini belum berbarengan dengan kebersihan jiwa. Sehingga perasaan bangga menjadi seorang muslim itu baru dari mulut saya saja. (ini saya sampaikan secara jujur lho)

Saya masuk islam disaat saya bekerja sebagai operator pompa bensin. Waktu itu saya sempat tertipu dengan adanya pembayaran solar dari salah satu truk. yang ternyata uang yang bernominal 50.000 rupiah itu palsu.
Entah mengapa saya langsung menyebut Astagfirullah.
Pada saat itu saya bukan kaget kena tipu tapi kaget dengan mulut saya yang mengucapkan lafal tersebut dengan penuh perasaan.
Mulai dari kejadian tersebut perlahan-lahan saya benar benar merasa ada kekuatan bagi saya untuk semakin mendekat pada Allah. Dan benar benar mengakui bahwa saya adalah seorang muslim. Tentunya ibadah sholat tidak pernah saya tinggalkan.

Hubungan saya dengan orang tua perlahan lahan terasa mulai berkurang. Ini saya rasakan beberapa bulan kepulangan bapak ibu ke wonogiri. Bapak ibu mulai jarang datang ke tempat kerja dan kontrakan. Waktu itu belum ada namanya Hp. Alat komunikasi kami antara Wonogiri dan tangerang, ya melaluhi surat. itu saja surat saya jarang dibalas.

Kurang lebih dua tahun setelah memeluk agama Islam, saya sempat menjalin hubungan dengan beberapa perempuan muslim, yang berujung putus. Mungkin di karenakan kecewa atau memang takut menjalin kasih lagi. Hampir berumur 30 tahun tahun saya sempat ngejomblo. hehehe
Disaat umur semakin tua, saya berkenalan lagi dengan seorang perempuan muslim. Tapi posisi dia bukan untuk saya jadikan pacar. Ini semua kerna pertimbangan saja. Yang jelas saya masih trauma.
Perempuan muslim yang terakhir saya kenal ini saya anggap teman bertukar pendapat dan tempat berkeluh kesah tentang jalinan kasih dengan beberapa perempuan sebelumnya yang selalu kandas.

Saya juga sempat berucap padanya, bahwa sejak saya putus dengan calon tunangan dan beberapa kali menjalin kasih dengan perempuan muslim selalu kandas. Membuat saya gamang untuk menjalin cinta lagi. Cinta bagi saya tidak ada lagi..... mungkin kasih sayang, masih bisa saya pupuk, Itu kalau Allah berkehendak saya nikah,

Hingga beberapa kali jalan bersama, saya tidak pernah ada getaran kasih padanya. Selayak teman bermain saja. Tapi sejak ada teman kerja yang mengingatkan umur saya yang sudah menginjak 32 tahun, barulah saya sadar. Dari saat itu mulai saya perhatikan sikap dan cara bergaulnya dengan lingkungan dan sahabat sahabatnya.
Waktu itu saya masih ragu, kerna kalau dipandang postur tubuh dan parasnya, dia sangat jauh dibandingkan dengan pacar pacar saya sebelumnya, yang kebanyakan cantik dan ayu.

Setelah saya menyempatkan diri beberapa kali sholat malam, dan mendapatkan jawaban atau petunjuk dari Allah, Barulah saya memutuskan untuk meminang perempuan tersebut sebagai istri saya. tanpa di dasari nafsu dan tanpa didasari cinta.
Alhamdulillah saya dikaruniai putra yang sekarang menginjak remaja.

Dalam hal ini kedua orang tua saya bersedia menghadiri saat resepsi pernikahan, tapi saat ijab kabul di kantor KUA, beliau berdua tidak bersedia menghadiri. Mungkin kerna kami sudah berbeda keyakinan.

Apa hubungannya perempuan tersebut dengan keislaman saya?

Kerna sejak saya putuskan akan menikah dengannya, di situlah keluarga saya semakin kelihatan tidak suka dengan saya.
Atau mungkin perasaanku saja ya? hehehe
yang jelas, kalau keluarga saya ditanyakan tentang ini, saya yakin mereka pasti akan berkelit.

Hubungan saya dan istri dengan keluarga saya memang sempat terjalin lagi disaat anak saya yang satu satunya akan lahir secara caesar. Disitu bapak ibu saya sempat hadir dikarenakan istri saya dalam keadaan koma.

Hubungan yang kurang nyaman ini berjalan bertahun tahun. Bukan saja kurang nyamannya kami berkomunikasi dengan orang tua. berkomunikasi dengan kakak kakak saya dan adik adik saya saja sangat jarang.

itulah salah satu resiko yang harus saya hadapi sebagai seorang mualaf.

Bab ke 5 saya akan bercerita tentang bapak mengikhlaskan saya beragama Islam.
sabar ya? huahahahaha
saya sholat dzuhur dulu ya?
(31 mart 09)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar