Bab 5 : BAPAK MENGIKHLASKAN SAYA MEMELUK AGAMA ISLAM
Sejak saya berumah tangga, saya sangat jarang sekali pulang kampung ke kota Wonogiri. Setahun sekali belum tentu saya pulang. Alasan pertama, saya dan istri mulai asyik dengan si kecil. Yang ke dua pekerjaan saya yang semula sebagai operator Pompa Bensin beralih profesi 180 derajat menjadi karyawan bantuan di Direktorat lalu-lintas Polda Metro Jaya. Tepatnya di Subbagian Surat Ijin Mengemudi (Subbag SIM), saya bertugas di Tata Usaha (TU SIM), sangat padat jadwal tugasnya.
Disaat adik saya yang kedua yang beragama Budha melaksanakan nikah dengan perempuan muslim, Disaat itu saya sempat pulang dengan anak istri, tapi kami masih seperti tamu saja layaknya.
Waktu sholat datang, saya langsung pergi ke masjid agung A' Taqwa yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Tapi disaat beberapa tahun sebelum bapak meninggal. Waktu itu saya sudah keluar dari Subbag Sim alias nganggur lagi. Memang saya sempat pulang wonogiri sendirian.
Tepatnya hari itu hari jum'at. Saya pagi itu bersenda gurau dengan adik adik saya di ruang tamu.
Entah apa saya dikejutkan oleh teguran bapak saya yang berdiri disamping saya seraya memegang bungkusan berupa tas plastik.

AKU CEMBURU
kusyukku hilang saat rukhu mulai terbenam
kaki kaki bercahaya terpampang di sela shaf kiri kanan
ternyata bukan hanya aku yang cinta Kamu
sungguh...
aku cemburu
...
Poncowae
Jkt, 02 Desember 2008-11.13
kurang lebih begini ucapan bapak dalam bahasa Indonesia :
Bapak : "Pur. ini bapak punya sarung, surban dan dan tasbih Islam. Bapak minta kamu semakin tekun ibadah ya? ini harikan hari Jum'at, silahkan sholat Jum'at"
saya yang semula tertawa terbahak bahak mendengar adik saya bercerita lucu, seketika itu pula terbengong bengong.
Belum sempat mengucapkan terima kasih, bapak saya sudah masuk ke ruang tengah dan tak terlihat lagi. Adik adik saya yang melihat kejadian ini, seperti menganggukan kepala, tanda mengikhlaskan juga saya masuk Islam.
Saya langsung mandi besar, lalu sholat puji syukur dua rekaat di kamar tidur. Air mata tumpah ruah tak berhenti.
Sekitar jam 11 siang, sebelum berangkat ke masjid jamik A' Taqwa yang letaknya di depan kantor kabupaten wonogiri. Saya minta ijin berangkat sholat jum'at ke bapak dan ibu. Seperti layaknya orang tua lain. Maka nasehatpun dari mereka berdua saya terima dengan senang hati.Selesai sholat sunat taiyatul masjid, saya menangis dalam do'a.
Sejak itulah saya mulai berani melakukan sholat di rumah tersebut.
Bab selanjutnya menceritakan tentang introspeksi diri dalam menghadapi cobaan.
Insyaallah aku lanjutkan besuk pagi ya?
saya sholat dulu ya?
hampir jam lima sore belum sholat ashar. Asyik ngetik nih. hehehe
Tng,31maret'09

Tidak ada komentar:
Posting Komentar