19 November 2009

Cerita pecicilan ; SEMOGA BUKAN KAMU SOB!

Cerita pecicilan ; SEMOGA BUKAN KAMU SOB!

Ini cerita yang akan aku sampaikan bukanlah kelanjutan dari cerita mayapadaku yang berjudul 'Hanya Allah solusinya' tapi ini sekedar cara atau alat bagiku untuk mengendurkan urat sarafku saja, yang mana beberapa hari menunggu orang opname tentunya memerlukan badan yang prima bukan? Maka perlulah kita membuka lebih lebar jaring imajinasi agar banyak kita petik sesuatu yang bermanfaat bagi kita khususnya dan Insyaallah bermanfaat bagi pembaca.
Bagiku disetiap tempat akan mendatangkan cerita tersendiri yang dapat kita angkat dalam tulisan. Tinggal kita maunya mau dibentuk apa inspirasi itu terserah rasa kita.

Aku rasa semua orang pernah membesuk orang opname bukan? Apa yang dapat sobat petik disetiap kejadian yang kita lihat di rumah sakit tersebut oleh mata hati kita?
Menurut aku, disaat kita memasuki dan melihat bahkan bersentuhan langsung dengan pasien, akan menimbulkan kedekatan kita pada-Nya.
Ternyata sehat itu mahal sobat!... maka hargailah hidupmu dengan cara menjaga kesehatanmu.

Sungguh sobat!... cerita yang akan aku sampaikan ini sebenarnya baru akan aku mulai sob!, maka anggaplah tulisan di atas sebagai pembukaan yang bukan basa-basi.

Cerita aku mulai dari waktu aku dan istriku menunggu kakak iparku di UGD rumah sakit Mayapada ya sob?

Saat aku melihat istriku begitu tegang dan sedih bahkan menangis melihat kondisi kakaknya sangat parah, Aku sebagai suami yang baik tentulah berniat menghibur dan meredamkan kedukaan hati istriku. Aku berusaha memecahkan permbicaraan dengan merubah pribadiku seakan seorang alim ulama yang dapat menegarkan hati umatnya.
Ternyata langkahku ini dengan bahasa agamis yang mudah dimengerti lelembut hehe.. membuat hati istriku perlahan-lahan tenang.
Setelah suasana dapat aku kendalikan barulah penyakit pecicilanku dapatnya mendulum senyum di bibir istriku bahkan sempat istriku dapat tertawa. Waduh kok aneh ya aku? wekekekekkkk
Aku sedikit tekankan ke istriku bahwa disetiap kejadian pastilah ada suatu hikhmah yang dapat kita petik.

Kami berdua menunggu di ruang tunggu UGD dimana kesibukan orang yang lalu lalang sungguh lumayan menarik untuk diambil dan aku bingkai dengan baju canda. hahaha ternyata istriku semakin tertawa.

"Kenapa cewek yang baru lewat jalannya sedikit ngangkang ma?" bisikku ke istriku yang akhirnya ikut melihat ke cewek cantik yang kumaksud yang tubuhnya langsing dibalut celana panjang agak ketat memasuki lorong.

"Memangnya kenapa pa?"

"Dia jalan begitu kerna dia merasa kurang nyaman dengan pembalut yang dikenakan" jawabku pelan, istriku tersenyum sambil mencubit pahaku. wakakakakkkk

Memang asyik ya membaca kelemahan orang? hehe tapi jangan menjadikan ucapan kita ini semakin mengarah ke pelecehan lho!
untung saja kejadian ini tanggal 20 agustus, puasa belum masuk wakakakakkk
Insyaallah apa yang aku candakan ke istriku, di mata Allah bukan suatu perbuatan tercela ya sobat? wekekekkkk... cari teman tuk menyelamatkan diri nih wakakkkkkk

Setelah bercanda sejenak, kami kembali ke baju serius hingga kakak iparku masuk ke ruang rawat di kamar isolasi nomor 1013. Tidak ada canda yang aku tampilkan disini selain keseriusanku dalam mengurusnya. Dimulai ngurus UGD hingga administrasi bahkan sampai menunggunya disetiap malam. Yang jelas justru sikapku ini kalau sobat-sobatku semua melihatku pastilah gayaku yang culun ini yang pantas sobat ganti menertawakan aku wakakakakakkk
jadi impaskan? wakakakkkkk

Sekarang kakak iparku mulai rawat jalan, tentulah aku mulai hari ini dapat sedikit memiliki hari-hariku yang selama ini sempat tersita. Tapi tetap saja hikhmah dari kejadian ini mampu aku petik. salah satunya aku sempat membuat dan memposting dua kumpulan sajakku bukan?

Ruang isolasi 1013 adalah ruang yang disekat menjadi 3 ruang rawat, 1 kamar mandi dan sedikit gudang perawat untuk menaruh peralatan medisnya. Ruang ini walau termasuk ruang klas III tapi ACnya bagai AC ruangVVIP, bagaimana tidak... lha dari pagi ketemu pagi ruangan tetap dingin sekali. Boleh dibilang ke arah titik beku.
Aku sebenarnya tidak suka dengan ruang berAC seperti ini. Saat bicara saja, uap keluar dari mulutku... layaknya di kutub utara saja ha ha ha.
Jadi mengingatkan aku waktu aku naik gunung gandul yang tak bersalju eee salah ya? wekekkkk
Selidik punya selidik ternyata alat pengaturnya yang tidak berfungsi hehe terlanjur GR aku.

Ruang 1013 B adalah dimana kakak iparku Surati di rawat inap, sedang di ruang A hampir tiap hari silih berganti pasien yang dirawat disitu. Ada yang masuk ruang A paginya lha siangnya sudah pulang. Ada yang masuk malam... paginya sudah mati. Namanya saja ruang isolasi, jelas yang masuk di ruang ini sangat berbeda permasalahannya dengan di ruang rawat inap yang lain.
Aku sebagai pengamat nikmat Allah tentulah semakin merasa perlu bebenah diri juga dengan iman yang kadang naik terkadang pula turun drastis.

Ruang 1013 C akhirnya jadi celah untuk aku mengamati pasien serta berkenalan dengan yang menunggunya, yang pastilah keluarga terdekatnya atau suaminya nih.
Dalam berbicara dengan orang ini ternyata aku perlu punya jiwa yang sabar dan mata yang terkadang perlu dipelototkan, sedang bibirku terkadang ikut mengikuti mimiknya yang sedikit lucu. tapi aku tetap sopan tak tak ingin menyakiti hatinya. Kerna hanya dengan dia saja aku harus mengisi hari-hariku dalam mengusir dinginnya malam serta cerahnya pagi. Sedang dengan kakak iparku tentulah aku lebih serius dalam berbicara agar beliau semakin kuat menghadapi cobaan yang berupa penyakit yang harus beliau rasakan selama ini.

Akhirnya aku tahu kalau lelaki yang aku ajak bicara ini adalah suaminya pasien ruang 1013 C adalah disaat pagi menjelang sore ini ada kejadian dimana kuasa Allah berhasil menunjukan kebesaran-Nya di depan mataku.
kronologisnya seperti ini ;
Saat aku balik ke ruang sehabis membeli koran pagi di lantai bawah, aku dikejutkan suara perempuan yang terkunci di kamar mandi. Aku sempat kaget, kegaduhan ini tidak hanya terjadi di kamar mandi saja, tapi juga terjadi di kamar 1013 C yang pintu slorokannya ditutup rapat dari dalam.
Aku yang sempat lama tertegun melihat kegaduhan ini hanya bisa menoleh ke kiri ke arah suara perempuan serta ke kanan ke arah suara laki-laki yang aku kenal sepertinya sedang diajak bicara sama tim medis.
Tidak begitu lama ada beberapa suster ikut masuk ruang dengan cara mendorong tubuhku yang berdiri di depan pintu untuk bergeser.
Ada satu suster yang sempat menegurku ; "Bagaimana sih pak!.. ada orang minta tolong terkunci di kamar mandi kok hanya bengong begini sih"

Suster tersebut akhirnya membuka pintu kamar mandi : "Lho ibu ya yang terkunci di kamar mandi?... memangnya bapak dimana bu?... lha yang gaduh di kamar ibu siapa bu?"

: Itulah sus!... maksudku itu siapa... kenapa suster datang-datang ngegrundel ke aku sih, umpatku dalam hati.

Kubiarkan suster judes itu menuntun ibu pasien kamar 1013 C ke arah kamarnya, kulihat pintu kamarnya mulai terbuka.
Aku mulai melangkah ke kursi yang ada di sudut ruang, untuk merampungkan koran yang memang belum sempat aku baca. Saat pantatku akan aku taruh ke kursi, aku dikejutkan suara ibu itu memanggil nama suaminya.

"Suami saya kena apa sus?... mengapa tempat tidurku ditiduri suamiku sus?... kok suamiku tidak bergerak sus?... ada apa ini sus?"

Aku yang mendengar suara jeritan dan tangisan seperti itu, memaksa aku lari nimbrung memasuki kamarnya. Dan... memang benar sob!... suaminya sedang tidur lelap... tubuh dan tangannya digoyang-goyang tetap tidak bergerak. Hampir 10 menit reaksinya seperti itu
Ada dua dokter yang mulai memasuki ruang dengan tergopoh-gopoh. Sedang ada dua suster yang mulai memasang alat kejut jantung segala.
Disaat alat kejut akan disentuhkan dadanya yang terbuka, bapak tersebut yang ternyata Pecicilan Ponco bangun terduduk.

"Ada apa dok?" tanya Pecicilan Ponco bingung, dokter dan suster serta aku yang melihat kejadian seperti ini dibuat kaget dan takut.

"Detak jantung bapak tadi sempat berhenti!" ucap dokter yang namanya aku tidak kenal mulai berani bicara, "sebenarnya bapak tadi tertidur atau bagaimana?"

Bapak yang bernama lengkap Pecicilan Ponco mulai bercerita dengan sangat lancar, sampai-sampai istrinya yang sakit dan di opname beberapa hari di rumah sakit ini hanya bisa berucap "Alhamdulillah... Subhanallahu... Allahu Akbar... beberapa kali"

Aku yang sejak tadi berdiri di belakang ibu Ponco hanya bisa menjawab pendek saja "Amin Yaa Allah... Amin Yaa Allah.." lafal ini aku ucapkan setiap ibu Ponco Berdzikir dengan linangan air mata.
mengapa aku berucap seperti itu?
Kerna aku yang kenal lebih dari seminggu ini mengetahui kondisi fisik pan Ponco di setiap kami ngobrol.

Sikap kami berdua ini memancing dokter dan suster-suster memandang kami berdua.

"Kulihat ibu semakin sehat ya?... lalu apa yang membuat ibu sangat mensyukuri peristiwa yang aneh yang menimpa suami ibu tadi?" tanya suster Mariam Tonggos dengan ramahnya sambil mengelus-elus pundak bu Ponco.

"Ternyata apa yang menimpa suami saya tadi adalah inginnya Allah menunjukan kebesaran-Nya. Apalagi bulan ini bulan Ramadhan bulan ibadah yang penuh berkah"

"Ya ibu! semua orang sudah tahu itu, selain itu apa yang ibu rasakan sekarang?" tanya dokter Emi dengan ramah.

"Saya sekarang sehat dok dan sus!... selain itu Allah juga telah menyembuhkan penyakit suami saya"

"Emangnya suami ibu sakit apa?" tanya suster Mariam Tonggos penasaran.

"Gagap yang akut Sus!"

"Ooo" jawab mereka serentak. Entah huruf "O" yang panjang ini berarti takjub atau meremehkan orang, aku tidak tahu.

"Sekecil apapun nikmat Allah, perlu selalu kita syukuri Sus!" ucapku pendek lalu menjabat tangan ibu Ponco dan menjabat erat-erat tangan pak Ponco yang sekarang sembuh dari penyakit gagapnya yang membuat selama hidupnya rendah diri atau minder.

Semua yang hadir di ruang 1013 C mengaminin ucapanku.
Ternyata kuasa Allah meliputi alam semesta dan seisinya pantaslah selalu kita syukuri nikmat-Nya.

Amin

...
Ponco Wae
Tetangga Kampung gunung, 29 Agustus 2009-12:35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar