Panggil aku musafir kata, ucap Jejak Sandi
Penulis ; Ponco Wae Lou
Kemarin sore hingga malam tadi periuk bermalas-malas menyapaku, justru sms dan chatt lewat facebook maupun lewat YM tak henti-henti masuk lewat hp bodongku. wakakakkkkk
Kejadian ini tidak seperti biasanya yang mungkin cukup kuhitung 20 jariku saja pembicaraan basa dan basi ini akhirnya tercampakan di kantong ludahku yang bertengger manis di ujung ruang baca yang hingga sekarang tetap tidak berubah, 2 x 2 meter persegi.
Saat asyik-asyiknya aku mengunyah pisang rebus hasil panen orang yang dibeli istriku dipasar Sipon, pintu rumahku yang terbuat dari bekas papan plafon berbunyi indah bersamaan suara sumbang seseorang yang ditimpali suara hancur sobatku Sandi lekas yang sudah sangat aku kenal sekali. he he
; Wah tepat sekali mereka berdua datang ya?, pikirku sambil menyibak pintu perlahan-lahan.
maksudku 'tepat' disini adalah : ' tepat sekali' potongan terakhir pisang rebus itu masuk ke tenggorokanku wakakakkkkkk
Duasar konyol ya aku sobat?
Setelah kupersilahkan mereka berdua duduk di lantai tanah merah yang kucetak dengan rajutan kasih sayangku. kulihat sobat Sandi dan sobat Val jadi betah lama-lama bersenandung untukku.
"Sekiranya apa yang membuat kalian berdua mengganggu keterlenaanku pada kutang-kutang malam yang mulai membayang di pelupuk mataku?" ucapku meniru gaya dialek sobat sandi yang berasal dari palembang.
; jangan begitulah kawan!... aku kesini tuk ucapkan selamat.
"Selamat apaan nih... hah? ada-ada saja kau!", sautku semakin bergaya dialok palembang yang mungkin di telinga sandi justru lucu di dengarnya.
: Ya selamat sajalah... Kang Ponco sekarang sudah jadi artis facebook!
wakakakakkkk... aku tertawa geli dan aku juga sangat tak senang dengan ucapan seperti ini.
"Selamat yang tinggal sebelah rumahku sampai kini belum selamat dari musibah kecelakaan mudik lebaran kemarin bah!"
wakakakkkk
Inilah awal percakapan akan berujung kebaikan apabila kita dan lawan berbicara merasakan rasa nikmat dalam obrolan itu sendiri terjadi.
Dan buntut kedatangannya sudah aku tebak, hahaha orang yang berawal menyanjung sebenarnya kalau kita tidak hati-hati justru membuat kita terjengkang dari rasa sosial positif menjadi pengharapan yang negatif.
Subhanallah... kuharap hatiku tetap terjaga dalam ketulusan dan keikhlasan sebagai hamba yang bersosial. hehe Sok usztad ya aku? jangan pedulikan itu kwakakakkkk namanya saja pecicilan.
Dongeng sebuah desa... hem terbaca... terbanglah sukmaku ke pedesaan orang. Maklum aku aslinya kagak punya desa hehe
menurutku judul ini sangat biasa saja seperti puisiku waktu menginjak remaja.
hemm... "Dongeng sebuah desa"
saat konsep isi puisi yang ditunjukan ternyata menurutku lebih sempit lagi "desaku yang hijau/terkikis jaman// ; matahari membisau/arloji bernyanyi"
Mulailah kami kupas bersama ya tentunya Sobat Sandi memintaku terlebih dahulu menebak-nebak telor sama ayam duluan yang mana.
Kalau tebakannya dirubah jadi telor busuk sama ayam.. duluan mana, aku pasti cepat menjawabnya.
"telor busuk kau yang nelan, anak ayam siapa yang punya wakakakkkk
Sebagai seorang pemula dalam kupas mengupas buah kesemek ya tentunya aku harus mencoba memperhatikan orang lain yang memang pandai mengupas buah durian berdaun manggis, yaitu sang Pemetik Cinta Hudan Hidayat.
Baris pertamamu wahai musafir kata Sandi, sangatlah menyempit sekali. "desaku yang hijau" apakah semua cerita/dongeng tentang desa saat ini selalu hijau? "terkikis jaman"... jelas.
Jadi dari baris di atas "Desaku yang hijau terkikis jaman" menunjukan perpaduan kalimat yang memaksa penikmat karyamu ini menuju satu titik makna yang tidak bisa dipandang lagi dari dimensi yang lain.
berbeda kalau konsepmu "desaku yang hijau terkikis jaman" dihapus dari puisimu.
Coba bayangkan bagaimana rasa, ekspresi pembaca dan imajinasinya akan melayang dan melambung tinggi ke desa-desa lain selain desaku yang hijau. Bisa saja pembaca yang berasal dari wonosari gunung kidul yang kemaraunya lebih panjang dari kutub utara wehehehehe salah ya? akan bernostalgi dengan desanya. Dengan cara itu Musafir kata sandi mampu membawa imaji itu lebih luas bahkan maha luas dari pada luas bumi itu sendiri.
Dongeng sebuah desa
; matahari membisu
arloji bernyanyi
Kalimat ini sebenarnya sangat sederhana dan tidak perlu berandai-andai, rasaku sudah dapat meluncur ke situ.
;matahari membisau... berarti perubahan yang terjadi sebenarnya disaksikan yang hidup yaitu Allah Subhanahu wata'ala. Matahari metafora dari cahaya. Cahaya metafora dari pelita dan begitulah hidup. baik dan buruk yang kita alami sebenarnya selalu diawasi sang hidup yang akan membisu tapi selalu mencatat perjalan hidup umat-Nya dan perubahan dunia yang di Tangan-Nya.
Arloji bernyanyi... waktu adalah yang menentukan segalanya. Siapakah pemilik waktu? tentulah Dia yang maha kaya, maha kasih, maha segalanya.
kalimat ; matahari membisu/ arloji bernyanyi dihubungkan dengan judulnya woooow... ternyata aku dapat merasakan luar biiinnnaassaaa...! pantatku yang saat ini duduk di atas penggilesan ternyata dapat berpindah ke dangau yang teduh dengan pemandangan padi yang ledung-ledung.
Sungguh sobat!
Kalau sobat Sandi berniat mempublikasikan puisimu ini, maka lebih baik endapkan dulu. apakah saranku ini sesuai harapanmu?
walaualam!
berbeda dengan puisimu yang ini ;
kisah sunyi
dengan bulan aku berbagi
sisanya kubur sunyi
mencekik
"jejak sandi"
"Kisah sunyi" ... seperti apakah rasa yang membalut musafir kata ini disaat imaji menyergapnya?
Puisi ini bercerita tentang sunyinya sunyi
puisi ini bercerita tentang senyapnya senyap
puisi ini pula bercerita tentang lengangnya lengang
puisi ini tentang "sunyi.. senyap dan lengang"
Malam tadi di pembicaraan puisi ini mau tidak mau sobatku sandi kupaksa bercerita tentang terjadinya puisi ini.
Apa dan dalam suasana apa puisi ini terjadi.
:Huk... huk... huk... aku terharu dan hampir ikut menangis mengikuti tuturan cerita sobatku sandi ini.
Tapi disini aku tidak akan mengungkap apa yang membuat dia bersedih, mengingat puisi ini baginya sangatlah pribadi.
tapi bagiku yang sedang belajar mengorak-arik milik orang ini ya semakin mengasyikan saja.
"dengan bulan aku berbagi"... saat membaca larik pertama ini otomatis rasa kita akan terpecah-pecah menjadi beberapa elemen. dimana elemen yang aku suka adalah bahwa puisi ini mengarah ke puisi religi.
Bulan... rembulan... matahari... bintang gemintang... adalah pengejawantahan dari kata pelita... cahaya... kasih sayang dan cinta.
Disaat ; "aku berbagi sesuatu dengan sesuatu yang dikasihi otomatis rasa memiliki dan dimiliki terasa bersenyawa dan lebur dalam kesatuan, kepasrahan dan ketulusan"
Tuhan adalah pusatnya cahaya.
Permainan kata yang manis dengan menari bersama metafora membuat Musafir kata Sandi ini terhunus dan tak bisa berbuat apa-apa selain menikmatinya.
Perdebatan malam tadi akhirnya semakin menawan disaat kami mulai masuk ke baris ke dua ; "sisanya kubur sunyi"
kata 'Kubur sunyi' yang di depannya tertulis 'sisanya' kurasa kurang akhiran 'an' yang bersetubuh dengan 'kubur'
Membeloklah rasaku berpindah ke dimensi lain yaitu dimensi 'kasih dan cinta'... dan kupasan ini berlanjut semakin menarik. Dimana cinta... dimana bulan... bintang gemintang dimana matahari.... dimana pelita masih menyisakan rasa lain yaitu kekecewaan yang terlalu dalam sehingga ada yang harus ditenggelamkan ke relung yang paling dalam yaitu rasa putus asa yang mencekamnya... "Bagai mengubur dendam dibalik senyum Nyi Ronggeng dadapan"
hehe
kok pada penasaran ya?
pada nunggu kupasan yang lucu ya?
wekekekkkkk
tunggu saja esok hari apabila hari itu masih ada esok
siiip
terima kasih
salam persobatan
PP
Pecicilan Ponco
Tangerang,07 Oktober 2009 barusan 3.13 sore
Biodata Penulis :
Nama Asli : Purnomo Ponco Wibowo
Nama Pena: Poncowae Lou,
Email ; pena.api_ponco@yahoo.co.id
Alamat ; Cipondoh Permai
Jl. Terompet Blok AF No.6
Cipondoh-Tangerang
Banten
Menulis Media online ;
Yahoo Answers Indonesia Kategori Persajakan
Kemudian.com
Kapasitor,net
Multiply.com kategori Apresiasi Puisi
Matadunia.com
Semasa muda (SLA) pernah menulis di beberapa surat kabar Jawa Tengah dan DIY tentang Puisi/persajakan.
Pendiri dan pernah mengelola Sanggar Sastra ‘Srada Giri’ di Kabupaten Wonogiri 1980an.
Pernah mengisi kolom teka teki Silang dan kocok kata di tabloid Citra, tahun 1991 s/d 1993 sebagai pengarang/penulis pertanyaan.
Pernah mengajar secara otodidak bagi anak-anak dan remaja yang gemar di seni Drama, prosa, puisi, musik dan pidato di lingkungan RT/RW 25 Bojong Nangka-Kelapa Dua- Tangerang. Tahun 2003 s/d 2006.
Saat ini sebagai wakil ketua Komunitas sastra “Lentera Komunikasi Sastra” (LEKAS) yang berdiri dari tahun 2007.
Blog ;
www.poncowae,blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar