Mencium aroma aneh dari Trio Mbalelo dari Parang tritis, Sriwijaya dan Sisingamangaraja
Penulis ; Poncowae Lou
Di hari Jum'at yang baik, cuaca yang baik walau panas mulai terasa menyengat tapi menurutku masih panas kalau pantat di atas kompor yang menyala. Jadi cuekcuek aja. Waktu di komputerku menunjukan pukul 10.40. Jadi tinggal beberapa menit lagi aku harus berangkat jum'atan, menghadap Allah untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanku selama seminggu ini yang sering menduakan-Nya. Dan lebih asyik masyuk dengan perabot lunak ini yang aslinya kalau digigit tetap saja keras wakakakkkk
Mungkin bagi sobat-sobat yang tiga hari kemarin berturut-turut mengikuti tulisan pecicilanku mengupas karya yang Kurang uuuaasem dari orang-orang muda yang hueeebat-hueebat ini yaitu ; Mh Putra, Sandi Lekas dan val. maka saat inilah waktu yang tepat bagi sobat-sobat semua untuk melihat karakter mereka bertiga dalam menulis maupun mencuri imaji yang begitu banyak berceceran di setiap perjalanan ruhnya di antara merekahnya kembang kamboja yang melambai-lambai menyapa kita. Seakan bunga kamboja itu berkata pada kita : " kapan kita-kita ini mau berteduh di bawah teduh dedaunnya"
Hidup ibarat main Dadu, itu kata Duryudana waktu menghadapi Pandawa dalam perang Baratayudha.
Hidup itu layaknya pilihan waktu kita akan mencari pacar, kata 'Sang Don Juan"
hidup juga layaknya bermain petak umpet yang mana sewaktu tertangkap maka siap-siaplah kita menjaga garis yang sudah disepakati itu dan konsekuen atas resikonya.
Hidup adalah pilihan, maka disaat pilihan itu tidak berkenan oleh-Nya, maka janganlah putus asa dan tetapkan langkah dan jadikan mimpimu dan tegaskan bahwa mimpi itu bisa diraih atas ridho-Nya.
Mari kita mulai mengupas satu persatu karakter yang ada di ketiga pemuda ini tentunya sobat-sobat tetaplah sadar bahwa aku mengupas ini terkadang tidak selalu mulus dan hasilnya manis sesuai penyairnya maupun penikmat karya puisi ini.
"Aku sekedar mengarahkan bahwa di dalam ke tiga penyair ini ada bakat dan keyakinan yang kuat yang membuatnya hingga kini mereka bertiga berusaha menggapai mimpi-mimpinya"
Semoga harapannya segera terwujud sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wata'ala.
Aku coba jilatin rasa dari puisi karya Mh Putra dahulu ya?
"Catetan Beku Malam Penantian"..... penyair Jadel sangat tersiksa dengan kelam dan sunyinya malam yang menghimpitnya. sedang di luar sana nun jauh disana ada pengharapan yang terharap mampu meninabobokan rasa tak kunjung menghampiri hatinya. Hari, waktu dan putaran gejolak rasanya bagai terhimpit disela-sela lapisan kegamangan. Dengan membaca judulnya kita bisa mendekati kesuasana dimana penyair Jadel sedang mengguratkan penanya.
"hujan diluar menikam hingga kedalam
tambah hilang waktu, tak tau hari malam
kopi pahit berganti anggur, puncak di mimpi tiba
dan nanti kita asing, sendiri dipangkal jamuan cita"
......
Mengupas karya dengan bait yang panjang memang ada faktor kesulitan. menurutku kesulitanya adalah terkadang penyampaian sang penyair itu hanya sebatas permainan kata tanpa ruh, sehingga kalau kita kupas per baris atau perkalimat bahkan kita kupas per bait, itu tidak dapat ketemu, kerna ada ujungnya yang menyangkut di bait berikutnya atau kadang di akhir puisi sebai klimaknya.
di bait di atas, penyair jadel bercerita situasi dan kondisi seperti penyair jadel ini sedang membuat cerpen... nah di bait pertama ini penikmat karyanya diajak ke dalam suasana yang diciptakannya.
Itu yang aku tangkap dikeseluuhan bait awal puisi ini.
"sebelum nanti darah beku, dan bedil menusuk
lalu dia yang ku nanti menampar dalam, penuh amuk!
maka tak sampai disini kawan, paruh nyawa segera lepaskan
sebab hidup tak mengenal keterkaitan juga keterikatan".......> Nah! dari baris ke dua ini penyair Jadel menguliti permasalahan "tak sampai disini kawan, paruh nyawa segera lepaskan
sebab hidup tak mengenal keterkaitan juga keterikatan"............. di saat ruh atau disini ditulis ' paruh nyawa' yang aku terjemahkan dengan dua sudut pandang ;
1. disaat ruh lepas... berarti disini kita bisa menggambarkan disaat kita kusyuk, hanya tertuju kepada-Nya, maka keterikatan kebendaan tidak ada lagi. akhirnya menjadi 'sejatining urip semeleh marang Gusti Allah" (maaf bahasa jawa yang arti bebasnya bahwa hidup itu harus berpasrah kepada Allah. tapi pasrahnya disini mengandung makna juga bahwa kita tetaplah berikhtiar)
2. Kupandang dari sudut lain. Bahwa disaat Ruh dipanggil untuk selamanya oleh yang Hidup, maka keterikatan tentang rasa, karsa dan kebendaan sudah tidak ada ikatan. sehingga hidup yang abadi bukan lagi di dunia tapi di alam keabadian yang sudah ditetapkan Allah ta'ala.
"......................" (titik titik panjang ini penyair Jadel ingin bercerita atau ingin berkeluh kesah yang terlalu panjang dengan penikmatnya. maka untuk penikmat puisi ini emosi dan rasanya terlibat, maka penyair ini sangat lihai dengan menyiasati imaji penikmat puisi ini biar bergerak liar sendiri sendiri)
"ada cerita tentang cinta,
kasih tak terdekap, lalu membenam
lain hari berkisah pada luka
atas nama Tuhanku, asa dan duka, segala ku tanam!".... itulah Hidup sobat, banyak cerita baik itu suka duka, luka tubuh, luka hati dan tawa seharusnya mampu kita hadapi dengan bijak.
Semoga saja apa yang diungkapkan penyair Jadel ini bukanlah gambaran kekalahan tapi sebagai motivasinya menghadapi hari-hari yang keras yang harus dihadapi.
Medan, MH Poetra "Si Jadel penjilat rasa"
....> Itu yang aku tangkap dari karakter Mh Putra yang keras sebagai anak kelahiran Medan tapi halus dalam pemaparan gagasan dalam setiap karya-karyanya.
Ada sedikit saran buat sobatku Mh Putra adalah kuatkanlah karaktermu sendiri, jangan terjebak pada figur seseorang yang justru akan membunuh karaktermu sendiri. Boleh saja kita kagum dengan sosok penyair handal indonesia, sepertimu yang begitu kagum dengan figur Chairil anwar, tapi ingatlah wahai sobat , kamu adalah figur yang antik yang sebenarnya dapat keluar dari bayang-bayangnya dan buktinya? kamu dipuisi ini sudah lepas sama sekali dari figus beliau.
Selamat sobat!
Meluncurlah sebebas-bebasnya di lapangan sastra indonesia.
.......
Musafir kata Sandi... hemmm
penyair ini sesuai dengan kepribadiannya yang terkadang tertutup dan terkadang pula mudah diselami.
Terbukanya kalau penyair ini berdialok dengan cewek wakakakakkkk... Bukan main lancarnya dia berbicara wakakakkkk
Tapi lumrah, dia hanya mencari jalinan persobatan saja. hingga saat ini perlu di curigai jangan-jangan dia terlalu memilih-milih dalam menjalin cintanya ya?
Ahh... peduuli amat ya? masak sobat-sobat aku ajak ngegosip wakakakkk tapi anehnya sobat-sobat terlihat senang sih he he he
kembalilagi ke serius nih, Sobat Sandi ini ternyata orangnya cukup cerdas, bagaimana tidak cerdas, sobatku yang satu ini adalah seorang sarjana Komputer Akuntansi, jebolan universitas Sriwijaya, Palembang.
maaf ungkapanku diatas untuk mendekatkan sobat-sobat semua dengan karya-karyanya yang akhir-akhir ini bergaya pendek-pendek yang kuat sekali maknanya.
Mungkin untuk kupasan berikutnya dapat aku kupas perbedaannya waktu penyair ini masih tinggal di kota Palembang dengan semenjak penyair ini hidup menggelandang di jokja dan di tangerang yang kupandang cukup gigih mengejar mimpinya.
Semoga saja penyair ini dimudahkan Allah untuk menggapai mimpi-mimpinya sebagai penyair yang sukses
Amin (ajakku ucapkan amin serentak sekali lagi ya?....Amin! ya robbal 'alamin)
surat dari sumatera
"kudengar senandung luka
yang menyayat dari sajakmu
ketika seorang bocah pelanpelan membaca
ada jerit tertinggal sunyI"........................> di bait ini sang penyair seakan mengajak penikmat karyanya membuka buku karya seseorang, dimana di dalam buku atau tulisan orang tersebut bercerita kesedihan, sunyi yang mendalam. bait ini terwakili dengan adanya figur anak kecil serta suasana yang lengang.
Kurasa bait ini penyair cukup berhasil.
"entah paragraf yang mana aku tak tahu
kucari disetiap katakata yang hijau
namun tak kutemukan
dan kucari lagi disetiap kata bertinta merah
kutemukanlah jerit itu
jerit itu terselip dalam kalimat
; reruntuhan tembok dan langitlangit rumah"......> wooow aku sempat terhenyak bahkan imajiku ikut bermain disetiap baris-baris di bait ini. ketajaman mengolah kata serta muslihatnya menyusun tata letak kata membuat aku mulai menikmati karyanya. yang mana selama ini hanya bercerita tentang cinta yang cengeng... cinta yang amburadul.... cinta yang melankolis wekekekkkk
maaf sob! aku keceplosan buka kotak kritiku nih wekekekkk
"aku hanya membeku
dalam tangis kulipat surat itu
ada pesan singkat yang belum sempat kubaca" ... huk huk huk perlahan-lahan sukma kita dibawa ke alam hampa. tiada angin... tiada gemerisik dedaunan.... tiada gemericik air pancuran... adanya hanya "Lengang"
bait ini menyiratkan kepedihan hati sang penyair tapi sang penyair tidak bisa berbuat apa-apa dikarenakan ini sekedar surat yang mengharu biru yang hanya mampu sang penyair menampung air mata dalam "Do'anya ; Ya Allah ampunilah yang telah tertimpa prahara dan terimalah yang telah menghadap-Mu sebagai makhlu-Mu yang pantas singgah di hadirat-Mu.
(barang kali hanya setanda dimana alam yang lelah mengistirahtkan harinya)..... bait tunggal sebagai penutup puisi ini mengandung makna, bahwa misteri alam yang menghantarkan kita dalam ke papaan ini pastilah kehendak-Nya.
Amin!
...
Tangerang, oktober 2009
.......
Lain penyair Jadel Mh Putra dan musafir kata sandi lain pula dengan karakter yang disampaikan penyair Gemblung val hari Jokja. Dengan tehnik pemenggalan kata yang di kupasan karyanya "Anak laki tong sampah" aku mulai mengenal gayanya ini bagai cermin terbalik.
Dengan tehnik seperti ini bukanlah karya-karya penyair ini langsung terlepas dari kewajiban pemadatan kata maupun kalimat, apabila suatu puisi memang memerlukan pemadatan kalimat. Gaya ini juga sangat lemah dalam menghadapi penjabaran apabila suatu puisi ini kekurangan powernya.
Berhubung Val adalah penyair Gemblung walau beberapa kali kami berdialok dengannya bersama beberapa penyair muda yang lain dalam komunitas kami, val tetaplah pribadi dengan karakter yang tak mudah dipahami.
Kuharap dengan penjelasanku ini, apabila sobat memasuki ruang gelapnya dalam salah satu puisinya, kuharap sobat-sobat menyiapkan sabuk pengaman sendiri-sendiri ya?
wakakakkkkkk
"Membunuh Tuhan"..... widiih Anjriit bener nih judul (hehe niru ungkapan kata sang pemetik cinta Hudan)...... membunuh Tuhan?... mengapa hutuf 'T' dari Tuhan bukan 't'?
Kulihat ada degradasi yang membuat penyair gemblung ini bermain rasa.
'Membunuh Tuhan"
lama dia menguruti moncong bedil yang masih hangat
setelah meledakkan jidat Tuhan di serambi
tokoanya yang bosan melahap compang camping jubah ratus
mengotori pandang pembeli, tapi bukankah Tuhan juga bosan
menjadi Tuhan dalam Maha bersulih jadi pengemis
yang diledak moncong bedilnya?
didepan toko tangan tangan sembahyang mengelus moncong
bedil dan bau mesiu.
Tuhan tersesat di batok kepalamu saat menuju hati
untuk bikin altar sembahyangmu dulu.
salam
Val "Penyair Gemblung" Hari yanto
"lama dia menguruti moncong bedil yang masih hangat
setelah meledakkan jidat Tuhan di serambi
tokoanya yang bosan melahap compang camping jubah ratus" .... nah inilah gaya Val yang begitu kental
hehe emangnya kopi? wekekekkkk
menjabarkan kalimat "moncong bedil" yang konotasinya sesuatu yang sangat membahayakan. Penyair gemblung ini mengutarakan bahwa sebenarnya ada yang lebih berbahaya dari pada 'Moncong bedil" yaitu lidah!
permainan metaforanya yang begitu melejit bahkan susah digapai rasaku sebenarnya membuatku kurang yakin, apakah aku mampu membuka walau sedikit tabir dari puisi ini?
Puisi ini sebenarnya kritikan sosial bahkan kritikan pribadi-pribadi yang tamak dan sok suci. Sehingga (kalau aku memakai peribahasa jawa ; witing tresno jalaran soko kulino wekekekkkk salah. maksudku KIta sebagai Hamba-Nya janganlah suka merendahkan hamba Allah hanya kerna status sosialnya)
"setelah meledakkan jidat Tuhan di serambi
tokoanya yang bosan melahap compang camping jubah ratus".... dari kalimat ini terbaca bahwa penyair ini sangat sinis sekali memandang kemunafikan yang terjadi disekitarnya khususnya atau mungkin dalam cangkup negeri pada umumnya.
Walau begitu aku kurang sreg dengan kalimat 'tokoannya' wahai sobat Val!
apakah 'tokoannya' itu bermakna 'toko-tokonya' atau 'tokonya banyak?.... semoga saja begitu hehe
"yang bosan melahap compang camping jubah ratus
mengotori pandang pembeli, tapi bukankah Tuhan juga bosan
menjadi Tuhan dalam Maha bersulih jadi pengemis
yang diledak moncong bedilnya?"......> "yang bosan melahap compang camping jubah ratus"... baris ini bisa dipandang dari sudut berbeda ;
1. 'yang bosan melahap compang camping jubah ratus'.... mewakili figur agamis yang di sudut pandang penyairnya figur ini adalah figur pengemis itu sendiri yang menjual tuhan dengan murahnya.
2. 'yang bosan melahap compang camping jubah ratus' memang metafora dari pengemis yang kesehariannya sepeti itu. yang dikuatkan di akhir kalimat 'ratus' yang berarti mencari nafkah dimulai dari recehan.
Ini puisi bisa bermakna lain sesuai dimensi atau sudut pandang penikmat puisi ini sendiri.
"tapi bukankah Tuhan juga bosan
menjadi Tuhan dalam Maha bersulih jadi pengemis
yang diledak moncong bedilnya?"... gaya satir sangat melekat dari tiap kalimat penyair ini.
Biasanya kalau melihat puisi seperti ini aku inginnya menelanjangi penyairnya dulu agar dia mau telanjang dirinya sendiri wekekekkkkk
masak kalimat diputar balik seperti ini hingga yang semula terlihat jadi malah tenggelam? wakakakakkk (inilah gaya baruku untuk sembunyi dari ketidak tahuanku.. hehe maklum bahwa manusia tidaklah sempurna bukan sobat?)
Tapi sebagai orang yang diberi Allah akal dan kecerdasan, tidaklah baik pula kita sembunyi dari ketidak tahuan padahal kesempatan untuk belajar ada. maka lebih baik aku serahkan tuk sobatku sandi tuk menyelesaikan kupasan ini wakakakakkkkk
widiiih!.... sobat Sandi larinya terbirit-birit kayak melihat bidarara turun dari traktor wakakakkkk
ya mau tidak mau harus aku selesaikan sendiri ya sob!
; Hemmm Oke sob! (ucapku lesu dan tak bergairah lagi wekekkkkk)
Wooow... bukan main sob!
ternyata Allah itu Maha ilmu pengetahuan... Maha mengerti bahwa Ponco sedang dirundung bingung dengan puisi ini ternyata ujuk-ujuk (maaf bahasa jawa; tergopoh-gopoh atau mungkin bermakna sekonyong-konyong koder kalik ya? he he he) Allah menunjukan Tabir dari puisi ini, yaitu :
"didepan toko tangan tangan sembahyang mengelus moncong
bedil dan bau mesiu".... dari kalimat ini jelas bahwa ungkapan yang sudah aku sampaikan tidak meleset bahwa yang mdimaksud bedil itu adalah "Lidah' dari para agamis yang mengajarkan kebaikan tapi tangan yang lainnya menggenggam Egoisme yang disakralkan.
Puisi ini ditutup denga dua baris kalimat yang menjadi layar, dimana layar tadi yang tertutup rapat-rapat, perlahan-lahan terbuka. dan rinduku aroma lain dari tiga sobat ini menjadi lengkap.
Begitulah kupasan ini yang tak mungkin setajam silet, maklum yang aku punya hanyalah golok karatan yang sudah tumpul di makan usia.
trims
salam persobatan
Ponco wae Lou
Tangerang, 9 Oktober 2009, barusan jam setengah enam sore hehe
Biodata Penulis :
Nama Asli : Purnomo Ponco Wibowo
Nama Pena: Poncowae Lou,
Email ; pena.api_ponco@yahoo.co.id
Alamat ; Cipondoh Permai
Jl. Terompet Blok AF No.6
Cipondoh-Tangerang
Banten
Menulis Media online ;
Yahoo Answers Indonesia Kategori Persajakan
Kemudian.com
Kapasitor,net
Multiply.com kategori Apresiasi Puisi
Matadunia.com
Semasa muda (SLA) pernah menulis di beberapa surat kabar Jawa Tengah dan DIY tentang Puisi/persajakan.
Pendiri dan pernah mengelola Sanggar Sastra ‘Srada Giri’ di Kabupaten Wonogiri 1980an.
Pernah mengisi kolom teka teki Silang dan kocok kata di tabloid Citra, tahun 1991 s/d 1993 sebagai pengarang/penulis pertanyaan.
Pernah mengajar secara otodidak bagi anak-anak dan remaja yang gemar di seni Drama, prosa, puisi, musik dan pidato di lingkungan RT/RW 25 Bojong Nangka-Kelapa Dua- Tangerang. Tahun 2003 s/d 2006.
Saat ini sebagai wakil ketua Komunitas sastra “Lentera Komunikasi Sastra” (LEKAS) yang berdiri dari tahun 2007.
Blog ;
www.poncowae,blogspot.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar