13 Mei 2010 jam 15:50
Petai Cina dalam Puisi, Esai dan dunia kesehatan
(mencoba memadukan Karya dengan kehidupan nyata)
Petai Cina
betapa rasa tercipta disela sela embun yang semakin menggumpal di ujung daun petai cina
dengan jemarinya yang lentik berpegang tiang bendera yang jadi galahnya
woooow
perlahan lahan buah petai itu jatuh kebumi tapi tak mengaduh
peralahan lahan petai cina itu tersungkur tetap tak mengaduh
sungguh lembut kasihmu terpintal di rasa
satu persatu kau rengkuh dalam genggammu
kau pandang penuh rindu
maafkan aku, bisikmu
~~~
Poncowae Lou
Pemetik Petai Cina - kisah seorang ibu
Esai Hudan Hidayat : Pemetik petai cina karya Ponco wae lou
saya agak kurang mengerti mengapa puisi ponco wae lou ini kerap berulang ulang saya baca. mungkin karena di depan rumahku dulu ada petai cina. petai cina yang mengingatkanku langsung pada suatu masa di mana aku belum berpikir tentang dunia.
hidupku kukira berjalan begitu saja tanpa pikiran. aku sering memikirkan keanehan dunia ini tapi tanpa buku buku. hanya memikirkan saja. sering kurenungi mengapa langit senja menjadi merah, lalu pelan pelan gelap dan lalu malam datang. mengapa malam begitu senyap dan bebunyian malam menambah senyapnya malam. di puncak malam dunia seolah hening sekali. seakan akan berhenti. lalu aku mendadak takut dan masuk ke bawah selimut.
kukira seisi rumahku sudah tertidur saat aku membenamkan seluruh tubuhku ke dalam selimut. di luar malam seolah memanggilku kembali dan entah kekuatan apa yang membuatku terbangun kembali. aku pun pelan pelan membuka jendela kamarku. angin malam masuk ke dalam kamarku. membawa bau bunga dan petai cina di depan rumahku. batangnya sedang saja agak tinggi dengan ranting yang kecil kecil.
kupandangi petai cinta itu dari balik kamarku. lalu kupandangi malam penuh bintang dan kulihat ada bulan. jauh sekali bulan itu, pikirku. bulan itu diam saja tapi lalu kemudian seolah menjelma seseorang yang menyapaku dengan lembut. kamu lagi mengapa, hudan, katanya. kok larut malam begini belum tidur. aku ingin menjawab bulan itu tapi takut kemudian adikku bangun.
aku malu kalau dia tahu aku bercakap cakap dengan bulan. besoknya di meja makan, pasti ia akan menceritakan kepada seluruh keluargaku akan lakuku di malam hari. dan ini tak kukehendaki. aku ingin malam menjadi sepenuhnya untukku seorang. orang lain boleh ada bersama malam tapi aku ingin malam hanya untukku seorang.
Lama-lama aku jadi mengerti malam bukan hanya untukku seorang. Tapi untuk sesuatu yang lain. Jadi aku harus berbagi dengan sesuatu yang lain itu. Umpamanya embun dan bulan itu. Juga galah dan sepasang tangan yang memiliki jari-jari lentik itu. Juga petai cina dengan batangnya.
Embun dan bulan itu pasti juga menikmati malam. Memiliki malam. Tetapi bulan adalah bagian dari malam. Bisakah dia menikmati malam? Mengapa tidak? Bulan justru menikmati malam karena memang ia bersinar di waktu malam. Tanpa malam bagaimana dia akan menunjukkan sinarnya dan bagaimana dia menikmati suatu kata kata: bagai pungguk merindukan bulan? Ah pungguk yang merindu bulan. Aku jadi terkenang suatu cerita yang kini sudah timbul-tenggelam dalam pikiranku, saking lamanya aku telah melupakan cerita itu. Cerita yang datang dari manusia-manusia bertradisi sawah dan persawahan.
Di depan sawah yang hijau semata seseorang keluarga dekatku bercerita tentang seekor kucing yang ingin benar mendapatkan makanan. Tapi orang itu di dalam cerita tak mau membaginya sehingga sang kucing bersedih hati. Ia pandangi anaknya yang kuyup dan kelaparan dan ia masih terus juga mengharapkan makanan dari orang itu. Entahlah lelaki atau perempuan orang yang menjadi pokok cerita itu. Yang jelas ia tetap tak mau membagi makanan itu. Disusunnya tangga bambu naik dan terus naik menuju langit. Ia pun mendaki tangga bambu itu menuju langit dengan ikan yang menjadi makanannya. Sementara sang kucing berkata lirih dan pedih: wahai manusia, berikanlah makananmu sedikit saja.
Tulangnya jadilah, kata kucing itu masih dengan penuh harap. Tetapi orang itu naik terus menuju langit dan lalu kemudian menghilang di telan langit.
Aku tak tahu lagi kelanjutannya. Atau kukira aku sudah lupa. Dalam bayanganku cerita itu agak surealis. Seolah cerita yang absurd. Aku tak tahu makna cerita itu dulu. Kini pun aku masih meraba-raba apa maknanya. Mengapa dunia begini kejam, pikirku. Mengapa ada orang yang kepada kucing kelaparan saja enggan berbagi.
Mungkin kontras seperti ini yang membuatku sangat menyukai puisi ponco wae lou ini. Di puisi ini aku melihat dengan jelas betapa sang pemetik petai cina, seorang ibu, yang aku tahu dari “jari yang lentik” yang digambarkan kawanku penyair ponco, juga penerang identitas puisi: untuk ibuku yang aku hormati terus, katanya. Adalah menampilkan kebalikan dari orang yang dalam cerita yang datang dari suatu masa dalam hidupku itu: penuh kelembutan bahkan ketidak tegaan.
Sehingga pelan pelan saja ia menjulurkan galah memetik petai cina itu. Puisi yang baik adalah menghidupkan benda benda ke dalam imaji seolah serupa manusia, sehingga kita bisa menghitung tingkat kesedihan atau perasaan lain di sana. Dengan member watak kepada benda seolah manusia, begitulah puisi ponco wae lou berhasil tampil dengan tekanan emosi dalam puisi pemetik petai cina ini. Sehingga kita seolah olah sedang berhadapan dengan seseorang yang sedang meluncur jatuh dalam hidupnya. Akan terempas dan kandas. Akan menuju kekalahannya. Jatuh terempas ke bumi.
“perlahan-lahan buah petai itu jatuh ke bumi ; tak mengaduh
perlahan-lahan petai cina itu tersungkur tetap tak mengaduh”
Dengan pengucapan seperti itu, kita seolah melihat manusia yang sedang jatuh bukan petai cina. Asosiasi yang timbul dari penggunaan kata yang menjadi larik dan bait dalam puisi yang diberi watak seolah peristiwa yang dialami oleh manusia (jatuh, mengaduh, tersungkur). Dan dengan dengan penafian dalam puisi (tak – tak mengaduh) makin memperkuat kesan yang muncul itu.
Seorang anak mencatat semua itu dengan dan dalam bahasa yang terasa getir. Dalam diksi anak muda masa kini yang terasa sangat berbakti sekali dengan ibunya.
Hm… katanya untuk suatu keprihatinan hidup itu.
Woow, katanya untuk penghargaannya atas usaha manusia dalam hidup.
Dan sampai juga apa yang nampak aneh itu:
betapa sang ibu di sana tanpa disadarinya membuat, atau melakukan, atau melukiskan, suatu yang nampak paradoks atas nasib manusia. Dan itu bisa kita lihat saat penyair menuliskan lariknya yang sederhana tapi nampak agung dan anggun:
"sungguh lembut kasihmu terpintal di rasa"
paradoks muncul kalau kita lekatkan suatu permainan peran. Yakni peran ibu sebagai pemberi dan penumbuh kehidupan. Tapi dalam puisi ini diharuskan memainkan peran lain. Yakni pemetik petai cina. Petai cina yang juga diberi peran atau beban emosi sehingga tampil seolah manusia. Manusia petai cina yang harusnya dijadikan manusia petai cinta, tapi lihatkan kini telah direnggutkan oleh sang ibu itu dengan galah. Sehingga dalam pikiranku puisi ini menempuh pengucapannya begitu lembut, karena yang sedang hendak dirontokkan itu adalah manusia. Dan perontoknya adalah seorang ibu. Sehingga dari kontras peran semacam itu kita bisa naik dan mengangkatnya ke dalam situasi kehidupan dan kemanusiaan secara umum. Bahwa ada orang yang harus saling menghilangkan mungkin tanpa dikehendakinya. Dan karena itu ia begitu berlembut dengan kenyataan seperti ibu itu yang lembut memetik petai cinta itu.
Dalam ucapan sang penyair:
satu persatu kau rengkuh dalam genggammu
kau pandang penuh rindu
; maafkan aku, bisikmu
tapi juga kata genggamanmu, penuh rindu, dan suatu permintaan maaf, yang disusun secara puisi seperti itu, bukan saja memperlihatkan perasaan kelembutan seorang ibu, yang telah seolah merenggutkan sebuah kehidupan. Tapi juga memunculkan asosiasi lain. Yakni suatu kemungkinan, suatu imajinasi yang menerobos fakta fakta dan gejala. Bahwa begitulah sikap seorang ibu terhadap tiap gejala kehilangan dan kekalahan anak anak mereka di medan perang, atau medan hidup, dalam dan bentuk apa pun kekalahan dan kerontokkan itu sendiri.
Manusia seolah menghadapi kehilangan dan tak tak pernah tahan. Karena itu mereka mengelusnya sepenuh rindu, karena kelak ia benar benar akan kehilangan. Jadi elusan itu menjadi wakil sayang agar apa yang sudah terpegang janganlah hendak terlepas. Tapi toh terlepas dan karena itu, seperti dalam puisi ponco wae lou ini, sang ibu di sana, membisikkan suatu permintaan maaf, maafkan aku, katanya. Untuk sesuatu yang telah direnggutkannya (petai cina itu), untuk sesuatu yang mungkin dibayangkannya dan terjadi di belahan kejadian apapun dalam hidup.
Mengapa pula kita tidak membayangkan bahwa sebenarnya sang ibu di sana sedang bermain solitaire pada dirinya sendiri. Bahwa sebenarnya dia sendiri yang mengalami kehilangan anaknya. Dan untuk membangkitkan suatu kenangan kepada anak anaknya yang telah hilang itu, dia melakukan peragaan yakni memetik petai cina, dengan menghidupkannya dan memberi bobot perasaan kepada apa yang dia kerjakan.
Jadi maafkan aku di sana, adalah suatu permintaan maaf seorang ibu bahwa betapa dia sebagai ibu tak mampu menyelamatkan anak anaknya atas dan terhadap hidup yang merenggutkan.
Tentu saja penafsiran seperti ini mungkin terlalu jauh. Tapi di sanalah sifat imajinasi itu, sifat suatu puisi yang baik, yang dengan umpannya telah meledakkan imajinasi sang pembaca ke mana mana:
pemetik petai cina kini bergerak ke arah pemetik petai cinta. Petai menjadi nasib manusia dan ibu di sana sibuk dengan hatinya sendiri, yang sedang memunguti kekalahannya.
Maafkan penafsiranku, penyair ponco wae lou.
~~~~~~~~~~
Manfaat Petai Cina dalam kesehatan kita ;
artikel ini saya copi paste dari :
http://carahidup.um.ac.id/2009/10/obat-alami-petai-cina/Selain dimasak petai cina juga bisa dimanfaatkan sebagai obat alami, salah satunya sebagai obat diabetes melitus. Karena setiap 100 gram biji petai cina yang sudah tua mengandung: kalori/karbohidrat (sumber tenaga dan energi) 148 kalori, protein (pembentuk sel dan jaringan tubuh) 10,6 gram, lemak (sumber energi bagi tubuh) 0,5 gram, hidrat arang 26,2 gram, kalsium (pertumbuhan tulang) 155 miligram, fosfor (pertumbuhan tulang) 59 gram, zat besi (membantu pembentukan hemoglobin sel darah merah) 2,2 gram, vitamin A (membantu daya penglihatan) 416 SI, vitamin B1 (membantu melepaskan energi makanan) 0,23 miligram, dan vitamin C (membantu penyembuhan luka serta mempertahankan kesehatan kulit dan jaringan) 20 miligram.
Manfaa Petai cina:
Menyembuhkan diabetes melitus.
Menyembuhkan cacingan.
Meningkatkan gairah seks.
Menyembuhkan luka baru dan bengkak.
Menyembuhkan tlusuben (benda-benda yang masuk ke dalam daging seperti kayu dan bambu).
Dikutip dari
http://ksupointer.com/