13 Juli 2010

napak tilas ; Tanggul angin




napak tilas ; Tanggul angin

U/ Hudan Hidayat

saat aku terlena dengan luapan hati menderdah jerih maya yang menggelontor glosor. semburat keemasan di ufuk persemaian, kucoba taruh sepenggal baitbait puisi. tanpa terasa baitbait puisi itu bertumpuk undung sundul ke langit-langit. itu pun aku tak sadar bahwa sulaman dengan renda kembang-kembang buram yang kau tukar dengan rembulan di penghujung senja kemarin tinggal jarum pentul, nancap dalamdalam sedalam pentol korek yang kugigit menahan lara. dan.... darah itu mengucur tak bening lagi dibanding pecahnya ketuban dan pupusnya ari-ari anakku. setibanya aku di batas senja yang lain yang terkesan tak seramah senja-senja yang pernah kugumuli, barulah aku sadar... ternyata... langkah... perlu setindak setindak hingga telundakan yang terakhir.

; semisal hati tak lentur dan tak mudah berubah warna, mungkin kiranya tak semrawut seperti ikal rambutmu, Yayi!

koredor aku lalui dan kutangkap binar mata sangkurmu. kugenggam pangkal tengkukmu. lalu kuserut pensil berubah warna dengan tergesa-gesa di belahan selangkangmu serasa ada yang menggelepar-gelepar jatuh di jemari kakiku yang telanjang. puih!... puih!... puih! menyembul warna berlogat jenaka menerka-nerka seberapa lentik kelopak sangkurmu dibanding semburat bianglala yang malu-malu sembulkan mimiknya.

; aduh Yayi... diajeng belahan sukmaku. cukuplah candamu menari-nari di pelataran belantara maya kerna senja ini terlanjur mengulitiku hingga keping biji kemiri yang kuselipkan di ketiakku pun terjatuh tertuduh patuh. adakah pengharapan lain tanpa-Nya?

malam yang terasa sepenghabisan memanjang sepanjang roda-roda pedati yang menapaki batu rijang, menanjak menukik mentari terik mencekik. ini malam; hardikku!.... terasa berat nian Yayi!

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 12 Maret 2010-18:00

KERANDA KATA ANGKA



KERANDA KATA ANGKA

ada angka yang terpenggal dari satuan-satuan senyawa dalam kutub geometri aritmatika. Dan kisi-kisi dari jajaran genjang petak-petak persegi panjang hingga kelipatan permukaan awan diperhitungkan jatuhnya rinai-rinai nyanyian petang. sirkulasi hawa yang menghembus sepoi-sepoi di titik nadir pun tak luput diseka. angka-angka berubah wujud jadi jembatan antartika hingga pulau rote, semenanjung benoa. kotak-kotak angka hingga himpunan gasal mampu divermak jadi tangga horisontal menuju-Mu
; saat angka kembali nol... angka-angka tak berarti lagi

kuputar bola globe hingga gasing memusing dan perlahan terhenti saat lidimu menunjuk waktu.
kubilang ; 360 derajat bujur hatiku telah menjamur digaris khatulistiwamu

ada apa gerangan? bisikmu memandang tajam rautku yang kulipat di kotak pensil yang kuselipkan di bawah bangku

; mataku tak mampu terpejam, selalu menghitung bintang-bintang dipupilmu, jawabku sendu

lain hari ada angka-angka melesat dari data baseku, menukik tajam dibawah tumit jenjangmu. semili sedesi hingga sisi-sisi kecilmu di memory errorku tersimpan di rak-rak bingkai kaca. siapa tahu besuk lusa atau hari-hari di gundahmu kau mampir di berandaku tuk menghitung seberapa panjang keberanianku memanjat tebing tinggi yang kau sangsikan itu

angka-angka itu akhirnya mati, kerna jejakku tertinggal di belantara yang lain dimana senja menjamuku tuk terakhir kali

~~
Poncowae Lou
Tangerang, 13 Maret 2010-12:04

Geguritan : BANTAR ANGIN



BANTAR ANGIN
Geguritan kolaborasi Petakilan Stan's dan Pecicilan Ponco

Anggoningsun ndeleng tawang
Ngarepake kalbu tansah padhang
Ananging kanyata beda kang daksandang

Angslup sajroning jiwa samudra
Badar dadi cahyaning kamulyan
Kanggoningsun kadyo cebol nggayuh lintang
Nyadong pisungsung agung kang brongot
Pangrasa tetep ngumbara
Kang kesinungan hawa angkara
Ngreidu laku jantra kalbu seto

Sumiliring bayu, nggugah sejatining urip
Teka lungo yo amung, nyawiji maring gusti
Kang njalari sepi ing pamrih
Anggone nggumbara ngrasuk urip sejati kang hakiki


"Pecicilan Ponco & Petakilan Stan`s"
Dalam Pertengahan January 2009

KLIKO

KLIKO

kinasih...
tempaan bara dengan ayunan lembut sang pande besi meraung, menjerit, merintih... cahya membaur dengan pekat pengabnya saung menanda angin enggan sejenak singgah
; semestinya...!?

kliko semudah tertelan bara lalu mengabu... mendebu
legamnya kehidupan tetap disiangi, berharap sebelum senja ketukan daun jati beri tanda... menjelang malam dapatnya rebahkan sejenak lelah dan menawakuri segala nikmat yang memang pantas disyukuri

kinasih...
entah seberapa panjang resahmu menggapit jun... menanak batu kehidupan bersamaku.
; mengertilah kinasih, aku tak akan bertanya padamu sepanjang apa deburan ombak dan gerai juntai rambutmu. aku takut kinasih... tak kau temukan seberkas cahya yang selama ini kau cari

malam larut menggumuliku hingga dada penuh sesak
nafasku satu-satu
mulut tersumbat
telinga menuli
tetulang runtuh
lidah ngilu
tinggal
aku dan deburan ombakmu
; kinasih!... jangan surut ya?

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 24 Maret 2010-8:41

Catt ; kliko adalah sebutan dari kulit kayu yang sudah kering sekali.

labuhanku disini

Photo ; Pantai Sembukan - Wonogiri

labuhanku disini
; JJ Hermawan

sepedih senyeri seduka setawa sesenyum ingin kurangkai jadi kisah hidupku yang penuh warna hingga dentang menyeruak kelam malamku.
; pertimbangkan, bisik Yayiku

selembut segigih sekeras adalah harmoni lantunan simponi samudra teduh

se...
hanya se...
se..
se(.)

?
!?

----------------------- (dibaca; garis panjang memanjang)
perlambang
jeda
titik koma
nyata!

aku tengkurap, saat isak terdengar mendentam di dadaku dan meledak saat senyum Yayiku hilang ditikungan senja

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 5 April 2010-12:02

Puisi pecicilan ; Lupakan saja



Puisi pecicilan ; Lupakan saja

; dilehermu ada apa sobat?
tentunya bukan jakun yang biasanya naik turun
bukan pula tailalat yang menempel erat erat sampai berkarat

"kalau bukan itu lalu apa?", tanyamu

; di lehermu ternyata ada emas intan berlian yang menyilaukan
alang kepalang niat buruk mudah datang
maka lipatlah jadi uang, zodakohkan semuanya
tapi jangan lupa...
bagaianku jangan kurang

; di wajahmu ada apa sobat?
banyak nian kekurangan banyak pula kelebihannya
tentunya bukan rona merah pipimu, itu aku suka
bukan pula merekah renyah bibirmu, apalagi diolesin saus tomat dan merica
bukan juga mancung hidungmu, meruncing kayak gunung himalaya
juga bukan sorot tajam bola voly matamu

"lalu apa?", tanyamu

; ada lidah (bisikku yang membuat lipatan-lipatan kerut di jidatmu semakin nyata)
lidahmu....
sungguh lidahmu sobat!, terlalu panjang
inginnya kutarik dan kucincang tuk umpan ikan arwana

; lupakan saja sobat (gumamku yang kutelan)
bisik batinku ini takkan kau dengar
lha kalau kusampaikan dengan tulisan tentu bara kumis kucingmu terpatik dan membakar siapa yang peduli?

; aah
lupakan saja sobat
kekesalanku pagi ini telah tersampaikan
walau kentutmu sebagai jawaban...

kamu puas dan lega
aku tersenyum mengumpat : "kutukupret!"

; ternyata kita sama sama senang dan terlampiaskan

..................
Poncowae
Jkt, 08 Oktober 2008-12:01wib

OBAT JENUH YA KE LAUT SAJA

17 April 2010 jam 14:16


OBAT JENUH YA KE LAUT SAJA


JENUH


tahanan

~~

PELAMPIASAN

onakku konak

~~~

GEREGETAN

tak sampai-sampai

~~~~

GEMES

idih

~~~

BAN MOTOR KEMPES

tikungan terakhir

~~~

MANJA

cabut dulu kumismu sebelum kucubit bayangmu

~~

STRES

: hari ini kunyatakan, bahwa kata "libur" di hapus dari kamus perbendaharaan kata-kata.

~~
Poncowae Lou
Tng, 17 April 2010

SABRA DAN SHATILA



SABRA DAN SHATILA
(rintihan pengungsi Palestina di Lebanon)

kami di sini tidak bercerita tentang kesedihan dan kepedihan
kami di sini bukan semata meratapi perampasan hati orang-orang yang kami sayang
kami di sini bukan bermaksud menjual duka ke mata dunia agar longlongan yang sepulang senja menyayat... mengiris-iris nilai kemanusiaan

kami
hanya
berbagi cerita
; penjajahan harus dihapus dari bumi peradaban

Sabra dan shatila adalah bumi kami ke dua setelah palestina, tapi mengapa tetap saja kami kau bantai layaknya hewan jadah pengumbar baksil kesesatan?

sungguh!
air mata kami telah habis percuma dikala jerit kami mencoba selamatkan anak-anak kami, istri-istri kami, suami-suami kami, orang tua kami, bahkan hewan piaraan kami
berharihari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dera ini tak berkalang
kau rajam
kau begal hak Tuhan atas kehidupan tanpa rasa menyesal
begitukah sifat Tuhanmu?

Sabra dan shatila adalah negri kami ke dua sekembali kami ke Palestina merdeka
siapa disangka
dirantau pun kami tetap saja kau hina

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 23 April 2010 - 14:50

PERON IMAJINASI

25 April 2010 jam 9:06

photo diunggah ; http://1.bp.blogspot.com/_hZPtYq6g5l8/S7wOn1zzF6I/AAAAAAAAAuA/9-h66nC53hI/s1600/P1340286.jpg

PERON IMAJINASI
Inspirasi ; obrolan santai dengan sobat "Iwan Sukri" (penyair yang cerpenis)


; pengelana kata-kata suka singgah di terminal. apa mampir juga di dermaga mantera?, tanya mas Iwan Sukri menatap mata dakocanku yang kekuningkuningan diraba lever yang ramah menemaniku selama ini melanglang jagad maya

tak peduli aku..., batinku dengan segala deritaku.
(kusruput kopi ginastel, legi panas kentel yang hangathangat tai ayam seraya batuk-batuk kecil dengan nada bariton yang terkadang aku selingi ludah di sembarang... barang... barang)

; hanya di terminal waktu, aku tak kuasa berlaku apa-apa!, ucap mas Iwan Sukri tanpa menunggu senyumku masih mengembang di ketiak langit


(mataku nanar menelanjangi pedagang kue baskom yang pantatnya bahenol nerkom)

kukurapi sekujur tubuhnya dengan berjuta imajinasi hingga celoteh pedagang kripik tempe kripik pisang kripik lele kripik singkong hilang di ujung nalar


; mau beli mas?, tanya pedagang kue baskom menggenit-genitkan diri jongkok tepat di selasela selangkanganku


"apa saja yang kau jual?", tanyaku seraya menghirup airliur yang mulai meleleh diantara bibirku yang ndombleh breh


; ada kue yang tengahnya bolong, ada juga kue bentuknya bantet tapi legit mas, sekali digigit isinya suka melejit, ucap pedagang kue baskom seraya membetulkan kutangnya yang ternyata diganjal saputangan sedikit menggerinjal


"ah", desahku
membuat pengembaraan nalarku sempat meninggalkan mas Iwan Sukri dalam benangbenang ruwet imajinasi


; mengapa tak beli kue apem saja wahai pengelana kata-kata?, tanya mas Iwan Sukri menepuk pundakku yang arwahnya telah menguap bersama udara malam yang menggigil


"tidak mas"jawabku pendek

; mengapa?, bisik mas Iwan Sukri penasaran

"kue apemnya bau asem" bisikku singkat seraya menutup selangkanganku yang basah kuyup kena kuah sayur asem... dasar tahu bacem!

....
Poncowae Lou
Tangerang, 25 Juni 2009 - 15.24
Kuedit kembali ; 25 April 2010 - 08:49
http://www.kapasitor.net/id/puisi/post/4413

Tak

02 Mei 2010 jam 17:00

jepretan ; JJ Prabu

Tak

kuseret pena
terseok di belantara... lembah... sungai dan samudra
hingga gelagah lumut kejenuhan memapar sepanjang rute penjelajahan
kuhitung satusatu
satu... persatu
runtuh
rubuh
rebah pasrah

kujerat rasaku agar Tak mengawang mengambang Tak karuan
hingga ; Tak
bukan abstrak lagi bagiku

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 2 Mei 2010 - 16:28

Mengintip Bianglala

Mengintip Bianglala
u/ Pratiwi Setyaningrum dan Eka Huang

sese pagi ini
sese sepi ini menggeliat ditumbukan awan
sesekali mengintip bentang buana netra
; sekembaliku dari mimpi, ada sayatan noktah muram terpenggal dari stigma, dimana kepenatan memapahmu tuk semakin merebah didadaku tak ke sampai-sampai

; sayangku sayang, bisikmu waktu itu mampu mengharu biru
ada kalanya cerita sekedar penawar sendu
ada kalanya berita sekedar penggugah rindu.... saat kupandang sorot matamu yang sayu ternyata melesat bayang lain dari benakmu. siapakah itu?

; sayangku sayang, bisikmu melontar mesiu
seandai nyaman tak lagi dirasa
seandai singgah tak lagi datangkan luapan bahagia, untuk apa kita lagi bersua?

(kubuka jendela kamarku, kutatap pohon rasamala rimbun serimbun rinduku padamu)

seandai kau tak secepat menguap dan memuai dibalik mega, kuingin singgahmu lama-lama hingga bianglala kemayumutu mendekapku di kesunyian pagi.
tinggalkan pesan ; aku tetap mencintaimu

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 6 Mei 2010 - 14:01

CENIL, BLEWAH DAN PIZZA

CENIL, BLEWAH DAN PIZZA

parutan kelapa dan adonan pizza
antara cenil dan buah pepaya
ternyata tak ada bedanya
; sama sama ada rasa disana

blewah dan buah kesemek
biji ketapang dan hamburger
ternyata tak ada bedanya
; sama sama ada rasa disana

"tapi debaran jantung saat ini dan deg deganku yang kemarin
apa ada rasa yang beda?"

dibalik kemben langit bermega
kulihat tebaran senyummu disana
; sungguhkah nyata?

(hasratku terdiam dipersimpangan)

saat kembang mulai berbunga
saat raga membumbung ke angkasa
aku mati rasa...
; hanya kamu
hanya kamu yang ingin kulumat sampai mati rasaku menjelma
tapi raguku menyergap tak tanggap
karena rasa tentangmu hanya maya
tak seperti cenil, blewah dan pizza

ha ha ha
terpesonakah?
atau mungkin aku jatuh cinta?

kujawab : "ya!... dua duanya"

..............
Poncowae Lou
Jkt, 24 September 2008-14.14

Petai Cina dalam Puisi, Esai dan dunia kesehatan

13 Mei 2010 jam 15:50


Petai Cina dalam Puisi, Esai dan dunia kesehatan
(mencoba memadukan Karya dengan kehidupan nyata)

Petai Cina

betapa rasa tercipta disela sela embun yang semakin menggumpal di ujung daun petai cina
dengan jemarinya yang lentik berpegang tiang bendera yang jadi galahnya
woooow
perlahan lahan buah petai itu jatuh kebumi tapi tak mengaduh
peralahan lahan petai cina itu tersungkur tetap tak mengaduh
sungguh lembut kasihmu terpintal di rasa

satu persatu kau rengkuh dalam genggammu
kau pandang penuh rindu

maafkan aku, bisikmu

~~~
Poncowae Lou



Pemetik Petai Cina - kisah seorang ibu
Esai Hudan Hidayat : Pemetik petai cina karya Ponco wae lou


saya agak kurang mengerti mengapa puisi ponco wae lou ini kerap berulang ulang saya baca. mungkin karena di depan rumahku dulu ada petai cina. petai cina yang mengingatkanku langsung pada suatu masa di mana aku belum berpikir tentang dunia.

hidupku kukira berjalan begitu saja tanpa pikiran. aku sering memikirkan keanehan dunia ini tapi tanpa buku buku. hanya memikirkan saja. sering kurenungi mengapa langit senja menjadi merah, lalu pelan pelan gelap dan lalu malam datang. mengapa malam begitu senyap dan bebunyian malam menambah senyapnya malam. di puncak malam dunia seolah hening sekali. seakan akan berhenti. lalu aku mendadak takut dan masuk ke bawah selimut.

kukira seisi rumahku sudah tertidur saat aku membenamkan seluruh tubuhku ke dalam selimut. di luar malam seolah memanggilku kembali dan entah kekuatan apa yang membuatku terbangun kembali. aku pun pelan pelan membuka jendela kamarku. angin malam masuk ke dalam kamarku. membawa bau bunga dan petai cina di depan rumahku. batangnya sedang saja agak tinggi dengan ranting yang kecil kecil.

kupandangi petai cinta itu dari balik kamarku. lalu kupandangi malam penuh bintang dan kulihat ada bulan. jauh sekali bulan itu, pikirku. bulan itu diam saja tapi lalu kemudian seolah menjelma seseorang yang menyapaku dengan lembut. kamu lagi mengapa, hudan, katanya. kok larut malam begini belum tidur. aku ingin menjawab bulan itu tapi takut kemudian adikku bangun.

aku malu kalau dia tahu aku bercakap cakap dengan bulan. besoknya di meja makan, pasti ia akan menceritakan kepada seluruh keluargaku akan lakuku di malam hari. dan ini tak kukehendaki. aku ingin malam menjadi sepenuhnya untukku seorang. orang lain boleh ada bersama malam tapi aku ingin malam hanya untukku seorang.

Lama-lama aku jadi mengerti malam bukan hanya untukku seorang. Tapi untuk sesuatu yang lain. Jadi aku harus berbagi dengan sesuatu yang lain itu. Umpamanya embun dan bulan itu. Juga galah dan sepasang tangan yang memiliki jari-jari lentik itu. Juga petai cina dengan batangnya.

Embun dan bulan itu pasti juga menikmati malam. Memiliki malam. Tetapi bulan adalah bagian dari malam. Bisakah dia menikmati malam? Mengapa tidak? Bulan justru menikmati malam karena memang ia bersinar di waktu malam. Tanpa malam bagaimana dia akan menunjukkan sinarnya dan bagaimana dia menikmati suatu kata kata: bagai pungguk merindukan bulan? Ah pungguk yang merindu bulan. Aku jadi terkenang suatu cerita yang kini sudah timbul-tenggelam dalam pikiranku, saking lamanya aku telah melupakan cerita itu. Cerita yang datang dari manusia-manusia bertradisi sawah dan persawahan.

Di depan sawah yang hijau semata seseorang keluarga dekatku bercerita tentang seekor kucing yang ingin benar mendapatkan makanan. Tapi orang itu di dalam cerita tak mau membaginya sehingga sang kucing bersedih hati. Ia pandangi anaknya yang kuyup dan kelaparan dan ia masih terus juga mengharapkan makanan dari orang itu. Entahlah lelaki atau perempuan orang yang menjadi pokok cerita itu. Yang jelas ia tetap tak mau membagi makanan itu. Disusunnya tangga bambu naik dan terus naik menuju langit. Ia pun mendaki tangga bambu itu menuju langit dengan ikan yang menjadi makanannya. Sementara sang kucing berkata lirih dan pedih: wahai manusia, berikanlah makananmu sedikit saja.

Tulangnya jadilah, kata kucing itu masih dengan penuh harap. Tetapi orang itu naik terus menuju langit dan lalu kemudian menghilang di telan langit.

Aku tak tahu lagi kelanjutannya. Atau kukira aku sudah lupa. Dalam bayanganku cerita itu agak surealis. Seolah cerita yang absurd. Aku tak tahu makna cerita itu dulu. Kini pun aku masih meraba-raba apa maknanya. Mengapa dunia begini kejam, pikirku. Mengapa ada orang yang kepada kucing kelaparan saja enggan berbagi.

Mungkin kontras seperti ini yang membuatku sangat menyukai puisi ponco wae lou ini. Di puisi ini aku melihat dengan jelas betapa sang pemetik petai cina, seorang ibu, yang aku tahu dari “jari yang lentik” yang digambarkan kawanku penyair ponco, juga penerang identitas puisi: untuk ibuku yang aku hormati terus, katanya. Adalah menampilkan kebalikan dari orang yang dalam cerita yang datang dari suatu masa dalam hidupku itu: penuh kelembutan bahkan ketidak tegaan.

Sehingga pelan pelan saja ia menjulurkan galah memetik petai cina itu. Puisi yang baik adalah menghidupkan benda benda ke dalam imaji seolah serupa manusia, sehingga kita bisa menghitung tingkat kesedihan atau perasaan lain di sana. Dengan member watak kepada benda seolah manusia, begitulah puisi ponco wae lou berhasil tampil dengan tekanan emosi dalam puisi pemetik petai cina ini. Sehingga kita seolah olah sedang berhadapan dengan seseorang yang sedang meluncur jatuh dalam hidupnya. Akan terempas dan kandas. Akan menuju kekalahannya. Jatuh terempas ke bumi.

“perlahan-lahan buah petai itu jatuh ke bumi ; tak mengaduh
perlahan-lahan petai cina itu tersungkur tetap tak mengaduh”

Dengan pengucapan seperti itu, kita seolah melihat manusia yang sedang jatuh bukan petai cina. Asosiasi yang timbul dari penggunaan kata yang menjadi larik dan bait dalam puisi yang diberi watak seolah peristiwa yang dialami oleh manusia (jatuh, mengaduh, tersungkur). Dan dengan dengan penafian dalam puisi (tak – tak mengaduh) makin memperkuat kesan yang muncul itu.

Seorang anak mencatat semua itu dengan dan dalam bahasa yang terasa getir. Dalam diksi anak muda masa kini yang terasa sangat berbakti sekali dengan ibunya.

Hm… katanya untuk suatu keprihatinan hidup itu.

Woow, katanya untuk penghargaannya atas usaha manusia dalam hidup.

Dan sampai juga apa yang nampak aneh itu:

betapa sang ibu di sana tanpa disadarinya membuat, atau melakukan, atau melukiskan, suatu yang nampak paradoks atas nasib manusia. Dan itu bisa kita lihat saat penyair menuliskan lariknya yang sederhana tapi nampak agung dan anggun:

"sungguh lembut kasihmu terpintal di rasa"

paradoks muncul kalau kita lekatkan suatu permainan peran. Yakni peran ibu sebagai pemberi dan penumbuh kehidupan. Tapi dalam puisi ini diharuskan memainkan peran lain. Yakni pemetik petai cina. Petai cina yang juga diberi peran atau beban emosi sehingga tampil seolah manusia. Manusia petai cina yang harusnya dijadikan manusia petai cinta, tapi lihatkan kini telah direnggutkan oleh sang ibu itu dengan galah. Sehingga dalam pikiranku puisi ini menempuh pengucapannya begitu lembut, karena yang sedang hendak dirontokkan itu adalah manusia. Dan perontoknya adalah seorang ibu. Sehingga dari kontras peran semacam itu kita bisa naik dan mengangkatnya ke dalam situasi kehidupan dan kemanusiaan secara umum. Bahwa ada orang yang harus saling menghilangkan mungkin tanpa dikehendakinya. Dan karena itu ia begitu berlembut dengan kenyataan seperti ibu itu yang lembut memetik petai cinta itu.

Dalam ucapan sang penyair:

satu persatu kau rengkuh dalam genggammu
kau pandang penuh rindu

; maafkan aku, bisikmu

tapi juga kata genggamanmu, penuh rindu, dan suatu permintaan maaf, yang disusun secara puisi seperti itu, bukan saja memperlihatkan perasaan kelembutan seorang ibu, yang telah seolah merenggutkan sebuah kehidupan. Tapi juga memunculkan asosiasi lain. Yakni suatu kemungkinan, suatu imajinasi yang menerobos fakta fakta dan gejala. Bahwa begitulah sikap seorang ibu terhadap tiap gejala kehilangan dan kekalahan anak anak mereka di medan perang, atau medan hidup, dalam dan bentuk apa pun kekalahan dan kerontokkan itu sendiri.

Manusia seolah menghadapi kehilangan dan tak tak pernah tahan. Karena itu mereka mengelusnya sepenuh rindu, karena kelak ia benar benar akan kehilangan. Jadi elusan itu menjadi wakil sayang agar apa yang sudah terpegang janganlah hendak terlepas. Tapi toh terlepas dan karena itu, seperti dalam puisi ponco wae lou ini, sang ibu di sana, membisikkan suatu permintaan maaf, maafkan aku, katanya. Untuk sesuatu yang telah direnggutkannya (petai cina itu), untuk sesuatu yang mungkin dibayangkannya dan terjadi di belahan kejadian apapun dalam hidup.

Mengapa pula kita tidak membayangkan bahwa sebenarnya sang ibu di sana sedang bermain solitaire pada dirinya sendiri. Bahwa sebenarnya dia sendiri yang mengalami kehilangan anaknya. Dan untuk membangkitkan suatu kenangan kepada anak anaknya yang telah hilang itu, dia melakukan peragaan yakni memetik petai cina, dengan menghidupkannya dan memberi bobot perasaan kepada apa yang dia kerjakan.

Jadi maafkan aku di sana, adalah suatu permintaan maaf seorang ibu bahwa betapa dia sebagai ibu tak mampu menyelamatkan anak anaknya atas dan terhadap hidup yang merenggutkan.

Tentu saja penafsiran seperti ini mungkin terlalu jauh. Tapi di sanalah sifat imajinasi itu, sifat suatu puisi yang baik, yang dengan umpannya telah meledakkan imajinasi sang pembaca ke mana mana:

pemetik petai cina kini bergerak ke arah pemetik petai cinta. Petai menjadi nasib manusia dan ibu di sana sibuk dengan hatinya sendiri, yang sedang memunguti kekalahannya.

Maafkan penafsiranku, penyair ponco wae lou.

~~~~~~~~~~

Manfaat Petai Cina dalam kesehatan kita ;
artikel ini saya copi paste dari : http://carahidup.um.ac.id/2009/10/obat-alami-petai-cina/

Selain dimasak petai cina juga bisa dimanfaatkan sebagai obat alami, salah satunya sebagai obat diabetes melitus. Karena setiap 100 gram biji petai cina yang sudah tua mengandung: kalori/karbohidrat (sumber tenaga dan energi) 148 kalori, protein (pembentuk sel dan jaringan tubuh) 10,6 gram, lemak (sumber energi bagi tubuh) 0,5 gram, hidrat arang 26,2 gram, kalsium (pertumbuhan tulang) 155 miligram, fosfor (pertumbuhan tulang) 59 gram, zat besi (membantu pembentukan hemoglobin sel darah merah) 2,2 gram, vitamin A (membantu daya penglihatan) 416 SI, vitamin B1 (membantu melepaskan energi makanan) 0,23 miligram, dan vitamin C (membantu penyembuhan luka serta mempertahankan kesehatan kulit dan jaringan) 20 miligram.

Manfaa Petai cina:

Menyembuhkan diabetes melitus.
Menyembuhkan cacingan.
Meningkatkan gairah seks.
Menyembuhkan luka baru dan bengkak.
Menyembuhkan tlusuben (benda-benda yang masuk ke dalam daging seperti kayu dan bambu).
Dikutip dari http://ksupointer.com/

Puisi pecicilan : Jam tujuh kelewat malam

Puisi pecicilan : Jam tujuh kelewat malam
u/ Erry Amanda

jangan lihat lagi arlojimu yang retak beretak trak trak trak
jarumnya loncat entah kemana disaat spiral kecil yang nyempil menendangnya
; waktumu bukan di arlojimu

jangan lagi memandang langit mencari lintang kemukus lintang panjer rino lintang luku bulan ndadari
telah ditelan langit menghitam tanpa gumpal
; jangan bebani hatimu dalam keterikatan semu

dari sudut pandang ujung buram, aku menggelepar nyangsang ruh di gelar sajadah bermukena dalam kemben yang kendor tanpa pelana tanpa CD putih kembang-kembang ceplok piring yang kau suka
; taruh dulu nafsumu

air mata burai memburai hingga membuncah ke liang lahat
kerak ini bagai butir butir pasir di laut melumat laku
; aku menghamba


~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 17 Mei 2010-13:21

Puisi pecicilan : Monyet-monyet, bergelantunganlah kamu

23 Mei 2010 jam 12:42



Puisi pecicilan : Monyet-monyet, bergelantunganlah kamu

monyet-monyet, bergelantunganlah kamu pada batang-batang usiaku yang beranting rindang masa lalu
bertengger berbagai satwa hawa imaji dan khayal semata
ranting-ranting itu penuh nian dedaun merimbun dan setanggal-setanggal runtuh luruh adalah kepingan-kepingan yang sebenarnya mengandung enzim mahma kata
seumpama dipilah jadi dua...
di persemaian nun disana terlipat rapat-rapat kekelaman sedang di pelataran yang mengebiri aku mengeja wantah drupadi drupada ngumbar rukmo
: aku anak kecil yang selalu kau timang kau beri susu hingga kini tak meragu

Monyet-monyet, bergelantunganlah kamu pada uban-ubanku yang tanggal satu persatu
banyak kisah pilu yang bersanding cerita canda tawa bersamamu dulu.
pakai koteka cawat berbulu berbidang dada kekar otot beradu
gebyur baur di ledung
canda bergaung hantam dinding-dinding batu kapur ; byur... byur... byur...
; aku tahu anumu, kamu tahu anuku

monyet-monyet, bergelantunganlah kamu pada bibir merah maseinya
disaat ranum bibir mengulum
aku kecebur lagi ; byur... byur... byur...
kalap dalam pusaran

Eyang putri alias istriku langsung menyambar bagai kilat... lat...lat... : "dasar tua bangka, otaknya tak jauh dari selangkangan saja. ini cucumu yang ke sembilan berak dicelana kau diamkan saja"

; yang mana ma?... yang mana ma?, sautku merengkuh pinggangnya erat-erat kutentang ke kamar tidur dengan nahsu yang sudah uzur.... hancur.... hancur...
cucu menangis, anggap musik jazz yang mendayu brutu

capek deh aku, ngedumel mantuku yang cantiknya bagai bidadara turun di gunung seribu!

Monyet-monyet bergelantunganlah kamu pada batang-batang usiaku
hingga tutup hariku kurindu kamu


~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 23 Mei 2010-12:08

malam itu kau terdiam



malam itu kau terdiam
; Mengenang kakak iparku Ny Surati yang meninggal 25 mei 2010-7:20

terlentang dalam perapian yang membakar segala kekelaman hati telah kau lalui wahai saudaraku
tak cukupkah kau mengaduh walau jelang subuh menyapamu

Malam itu kau terdiam bukan tak berniat balas salamku
malam itu kau menatapku lama-lama seakan kau silakan aku menyusup dipupil matamu...
kau simpan kegetiran, pengharapan, kengiluan, keceriaan dan kegelisahanmu
: tak cukuplah aku berbuih kecuali ikhlas menggelembung rongga dadaku

ya!
malam itu memang kau terdiam dengan lidah kelu mimik kaku seakan sudah banyak kau ucapkan padaku ; cukuplah wahai saudaraku, bisikku

sebelum kelambu menutup harimu
bolehkah aku menunjukan arahmu agar sesampai tujuanmu rasa lega mengurangi himpitan pikirmu?

aku tahu saudaraku, malam itu kau terdiam bukan tak berniat balas salamku

; selamat jalan saudaraku, tak ada gading yang tak retak... tak ada keabadian selain hak-Nya. langkahkan kakimu dengan ikhlas seperti ikhlasnya air hujan mengguyur semesta alam

kepergianmu adalah kehadiranmu yang ditunggu

Innalillahi wa' ina ilaihi roji'un

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 27 mei 2010-11:38

Saat malam rebah dipelukan-Nya

28 Mei 2010 jam 11:10


Saat malam rebah dipelukan-Nya

; tak cukupkah air mata ini menghapus sesalku?

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, Jum'at 28 Mei 2010-10:38

Mengenang bedol deso di wonogiri

Mengenang bedol deso di wonogiri



Inilah pintu air waduk serba guna Gajah Mungkur.
Semula areal waduk ini adalah beberapa desa di beberapa kecamatan di kota wonogiri yang ditenggelamkan untuk dijadikan waduk serba guna ini.
Proyek besar pemerintah orde baru ini dinamakan Bedol Deso yang berarti memindahkan perangkat desa dan pemerintahannya serta warganya untuk transmigrasi.



Berperahu wisata di waduk gajah mungkur yang asri

WADUK GAJAH MUNGKUR


Waduk Gajah Mungkur terletak kurang lebih 2,5 kilo meter arah selatan kota Wonogiri. Panorama alam yang asri, indah dan sejuk dengan fasilitas Rumah Makan Apung, Keramba, Hotel, Rumah Makan Special Ikan Bakar sangat tepat sebagai pelepas lelah dan tempat istiharat yang nyaman bagi keluarga.
Disetiap bulan-bulan tertentu di Obyek wisata Gajah Mungkur sering diadakan event-event wisata ritual dan olah raga antara lain :
- Bulan Muharam/Suro : Jamasan Pusaka Mangkunegaran
- Bulan Syawal : Syawalan ketupat, panggung hiburan dan pentas seni budaya Reog, Tari Kethek Ogleng, Campursari dan Orkes Dangdut.


Lagun di Pantai Sembukan - Wonogiri - Jawa Tengah
Lagun adalah genangan air laut yang berada di tengah terumbu karang yang terbentuk oleh pertumbuhan terumbu karang atau naiknya air laut.



Masjid Agung At-Taqwa Wonogiri pada malam hari


Wonogiri memiliki banyak Lokasi Wisata yang bisa dikunjungi:

1. Waduk Gajahmungkur
2. Pantai Sembukan di Kecamatan Paranggupito
3. Pantai Nampu di Kecamatan Paranggupito
4. Air Terjun Khayangan di kecamatan Tirtomoyo
5. Alas Kethu di kecamatan Wonogiri
6. Gua Putri Kencana di kecamatan Pracimantoro
7. Air Terjun Setren di Kecamatan Slogohimo
8. Olahraga Gantole dekat Waduk Gajahmungkur
9. Off-roading dekat Waduk Gajahmungkur
10. Watu Plinteng Semar di kecamatan Wonogiri
11. Gunung Gandul di kecamatan Wonogiri
12. Gunung Pegat di kecamatan Ngadiroyo,Nguntoronadi
13. Gunung Kencur di kecamatan Ngadiroyo,Nguntoronadi

~~~~~~
Salam persobatan
Poncowae Lou

MENGGENANG KENANG 2



MENGGENANG KENANG 2
; Delima Sri De Wilde

aku merindu pada rerumput
dimana sesenggruk kambing dan pedet piaraan memamah jadi remah ujung-ujung damen yang mengering di musim itu

; mengapa tak merumput? , tanyamu
aku menggeleng sejenak seraya melangkah.. tunduk... lunglai

seperhentian lamun sesama remaja kencur memagut bibir mega adalah kesenyapan yang mengusik
tapi mau melabur dimana lagi, sedang dinding-dinding pengharapan telah penuh lumut menjamur?

; entah!... lebih baik jalani saja

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 21 Juni 2010-16:39

Puisi air liur



Puisi air liur
: Pratiwi Setyaningrum

; bertemu denganmu adalah pengharapan.
guratan pena yang memahat statusmu terulang terbaca...
entah apa maknanya...
yang jelas sukmaku sempat lepas... mengawang tak beruang

diajeng yang semburat jauh dari pupil mataku, tahukah kamu diajeng?
; semenjak pohon mahoni tempat masyuk kita meranggas ditelan usia
aku tak bersungut surut merindumu hingga buih-buih air liurku ndremimil memanggilmu

diajeng... oh!

kupindah sejenak ke profilmu dengan photo berbingkai bianglala
sekuntum bunga melati terselip di telingamu
tak kutemukan lagi photo kita yang mendekap rapat-rapat di pelataran berlampin jingga suasa
; apakah yang terjadi diajeng?

mengertilah diajeng ; "aku tak bersungut surut merindumu hingga buih-buih air liurku ndremimil memanggilmu"

~~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 24 Juni 2010-9:40
Puisi ini tercipta kerna terimajinasi dari puisi ; http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=401371877581#!/note.php?note_id=412364273888

Laporan selayang pandang Ala Poncowae Lou : Riungan Tangerang Serumpun ke 4, tgl.28 Juni 2010



Laporan selayang pandang Ala Poncowae Lou : Riungan Tangerang Serumpun ke 4, tgl.28 Juni 2010

Sebelum saya cerita selayang pandang malam apresiasi sastra yang diselenggarakan tadi malam, saya mewakili penyelenggara acara bedah Novel Elang karya Kirana Kejora dengan pembicara budayawan Hudan Hidayat mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas kurang nyamannya sobat-sobat menghadiri acara tersebut.

Tidak ada gading yang tidak retak dan tidak ada pula pesta yang tidak berakhir. Peribahasa ini bukanlah sebagai tangkisan atas kurang berhasilnya kami menyelenggarakan acara, tapi ini kami kembalikan ke kami sebagai evaluasi kedepannya biar kami lebih menyenangkan dalam menyambut kehadiran sobat-sobat semua.

Sobat-sobat yang budiman yang dicintai orang tua, anak-istri dan Allah ta'ala,



Bola... bola.... bola...; Bulan ini semua mata tertuju ke pertandingan bola dunia, sedang riungan Tangerang serumpun tidak mungkin berhenti dengan adanya pesta bola tersebut, maka penyelenggara memutar otak dan menyiasati dengan cara kami harus membuat suatu acara yang kuat temanya. Tanpa tema yang kuat tentulah berbeda dengan apa yang terjadi tadi malam. Jatuhlah pilihan kami pada tema bedah novel Elang yang penulisnya (Kirana Kejora sudah keliling indonesia hanya untuk buku elangnya ini) Luar biasa.

Acara tadi malam dibuka oleh dua MC kami yang kocak (walau terkadang kocaknya bikin koplak kepala orang) hehe.
Setelah MC disambut dan disambit tepuk tangan dan tepuk kaki yang hampir memenuhi pacuan balapan kuda, tibalah gilirannya ketua koordinator Tangerang serumpun yang saat ini kami percayakan ke sobat perempuan kita Divin Nahb menyampaikan sepatah dua patah kata yang ternyata bukan hanya sepatah dua patah kata yang patah justru seikat kata-kata patah semua. Ini terjadi sesuai beban tanggung jawabnya (maaf bukan beban berat badannya lho! hehe) selaku penyelenggara.

Saya tahu bahwa sobat mulai bingung yang akan saya sampaikan. saya sendiri sadar bahwa saya sendiri aslinya bingung mau bercerita apa? Tapi dari niat yang tulus saya, semoga disela tulisan saya yang sepintas (aslinya memang hancur ini hehe) dapatlah sobat menyimak, memilah sendiri sesuai apa yang sobat inginkan dari laporan saya ini.
Kalau yang sobat cari saat ini hiburan yang membuat dunia ikut tersenyum kecut, saya yakin sudah menemukan di tulisan ini, tapi kalau sobat mencari tulisan berupa laporan selayang pandang ala berita tentulah sobat tidak akan menemukan disini. hehe
santai saja ya?
hidup sudah susah mengapa yang susah dibuat mudah? eee kebalik ya? hehe

Riungan tangerang serumpun dikemas dalam bentuk kekeluargaan yang bersahaja, maka tak heran di riungan ini sobat-sobat yang terhormat biji salak warnanya coklat diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk mengajak anak, teteh, cici, koko nenek, opa yang ompong kemari karena di riungan tangerang serumpun ingin menjadikan setiap riungan dapat bermanfaat bagi generasi muda negri ini. tentunya bagi opa dan oma, riungan tangerang serumpun dapatlah menjadi persinggahan keluarga untuk reuni keluarga.

Kita kembali ke klip klop!
hehe

Bapak Madin sebagai Dewan pembina tidak lupa menyampaikan kronologis Tangerang serumpun hingga riungan ini terjadi. Beliau sehari-hari bertugas di DKJ (dewan Kesenian Jakarta) sedang pekerjaan adalah pembuat Skenario yang cukup produktif di negri ini.

Sesuai tema yang kami angkat di bulan juni ini adalah Mengupas lebih dalam lagi novel Kirana Kejora dengan pembicara budayawan Hudan Hidayat tentulah langsung dimulai setelah terlebih dahulu mas Hudan Hidayat harus menata kembali nyawanya yang hampir lepas gara-gara diboncengin sobat Yandri yadi Yansyh pakai HD (Bukan Harley Davidson lho, tapi Huduk huduk druk druk druk) dengan kecepatan cahaya.
Kata eti (Maaf info ini jangan dipercaya kerna yang menginfokan saja tidak mau tanggung jawab hehe) mas hudan pegangan kencang sekali padahal sama sobat Yandri sudah diikat pakai tali rafia kencang-kencang
wakakkkkkk
yandri bilang : jangan ngompol ya mas Hud?
mas hud ngejawab : He'eh he'eh wae
wakakkkkkkkk

Mulailah dialok mas Hudan mengeluarkan makalah setebal 5000 halaman untuk mengupas novel Elang ini. yang aku tertarik dalam bedah ini, bahwa mas Hudan ternyata lebih pintar nulis dari pada tidak sama sekali tidak bukan? hehe
nah lho! ada yang mulai bingungkan? Pegangan tiang yang kencang-kencang kalau bingung ya?
Untung saja ketua panitia sobat JJ Prabu tidak menyediakan keris, tentunya bisa perang tanding mas hudan dengan Kirana.
Yang aku dapatkan justru saling memberi suport satu sama lain.

Bener lho sobat!
Untung saja aku datang kalau tidak datang sangat rugi sekali. buktinya semua mata fokus tertuju ke panggung untuk menyimak dan mendengar apa yang disampaikan mas Hudan tentang novel Elang.
Penulisnya tetap mempertahankan pendapatnya bahwa dia adalah penulis realis, sedang mas Hudan berkata (Hehe aku kok lupa ya? maklum aku terbengong-bengong melihat mereka berkolaborasi. sangat lembut, sangat serasi dan sangat mesra sekali hehe)

Disaat mereka berdua bibirnya mulai berbusa dikarenakan pesanan Birnya tidak datang-datang, maka acara bedah buku diselingi musik live. fachri (9tahun) bermain biola diiringi gitar papanya yang bernama mas ikhsan snada. semakin meriah lagi disaat adiknya yang bernama Nisa (5tahun) naik panggung untuk menyanyikan tiga lagu yang salah satunya berjudul Bunda. dalam posisi flu ternyata Nisa mampu bernyanyi lebih nyaring dari pada teriakanku yang sumbang. Bukan main.

Acara pun dilanjutkan kembali ke mas Hudan dalam bedah karya Kirana. Sebenarnya sangat banyak yang dapat dipetik dari bedah novel ini, salah satunya bahwa mas Hudan memberikan ilmu kepada penonton yang berkutat dalam sastra. Kata mas Hudan : Jadilah penulis yang jujur dalam menulis. tidak usah memikirkan takut karya kita tidak ada yang membaca. tidak usah takut bahwa dari tulisan kita nanti akan mendatangkan musuh baru bagi kita, tidak usah takut bahwa kerna tulisan kita ini membuat kita masuk penjara.

Sedang Kirana yang hobi bertualang melakukan perjalanan keliling indonesia demi novel-novelnya menceritakan tentang dia melawan arus. disaat dunia sastra (Terutama media cetak dan koran) tidak bisa ditembus, maka dengan gigihnya dia mampu menerbitkan buku-buku karyanya dengan cara indi. Dibiayai sendiri.
luar binnnnnasa hehe salah nulis. maksudku luaaar biasa gigihnya. Orangnya sangat gigih dan tidak cengeng. ini dibuktikan dari cerita dalam novelnya yang sangat gigih. Selain itu dalam mendidik ke dua anaknya sendirian, beliau mampu membangun akar yang kuat di hati mereka berdua.

Setelah pemaparan selesai maka masuklah ke sesi pertanyaan, banyak sekali yang bertanya, baik ke mas Hudan sendiri maupun kepada Kirana Kejora. Saya sebagi pendengar merasa beruntung mendapatkan ilmu dari dua nara sumber ini. Ada yang bertanya agak keras tapi ekornya mensuport kirana. salah satu penanya adalah Mas Erry Amanda. ada juga pertanyaan datang dari mas Joni pengelola dari taman sari Lipo karawaci. banyak lagi yang bertanya tapi sayangnya mohon maaf.. hehe saya sedang wira-wiri menebar racun kesetiap tamu yang datang yang malu-malu minta tanda tangan eee salah maksudku tanda kakiku hehe.

Setelah Mas Hudan dan Kirana turun dari panggung (sebelum aku usir hehe) masuklah kita ke acara selingan. Sobat kita Jessica Handriyani membaca puisi elang karya Kirana Kejora, disusul kemudian sobat kita MH Putra membaca dua puisi karyanya tanpa teks.
Sebelum Abah Yoyok membaca atau lebih tepat bernyanyi ala jawa yang disebut mocopat maskumambang dengan judul Sekar alit dalam tafsir Honocoroko.
naiklah sobat Kita Nana yang sastrawan dengan khasnya sleyer dekil dikalungkan dileher serta tangannya yang kena strum 300 volt menggelepar-menggelepar di saung. Untung saja sadar bahwa dia sebenarnya tidak diatas panggung, kalau meja didepannya dikira panggung, niscaya makanan bahkan gelas dan piring diinjak-injaknya dengan mesranya hehe
Aksi nana yang akstraksif tentulah sangat menghibur penonton malam itu.





Disaat mas abah Yoyok mulai berdendang, kulihat semua penonton diam mendengarnya. Entah dibenak mereka masing masing apa yang dipikirkan. aku tidak tahu. Mungkin saja bagi sobat Jejak sandi yang berasal dari palembang akan membatin : ngomong opo to bah yoyok?
begitu pula JJ Prabu dan Nana Yang sastrawan yang betawi dan sunda ini pastilah hanya bisanya bengong dan mengucap : Wooow keyen abah yoyok! kalau bisa bulan-bulan berikutnya abah yoyok TIDAK lagi membaca seperti ini ya? wakakakkkkkk

Begitulah suatu komunitas yang dibentuk oleh bangsa indonesia ini dari berbagai suku bangsa, disinilah kita dapat berbagi kebaikan dan Insayallah berbagi kebajikan pula.

Berbeda gaya Abah Yoyok pastilah berbeda pula gaya mas Erry Amanda dalam menggendingkan tulisan berbahasa jawa. Beliau selesai membaca yang kurang lebih aku sendiri yang orang jawa saja tidak paham (hehe aku lagi belajar jujur nih) beliu membaca pula artinya dalam bahasa sansekerta eee salah maksudku bahasa indonesia yang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).



Terus terang tadi malam banyak sekali sobat-sobat yang hadir, tapi sayangnya tidak semua orang yang hadir menjalin persobatan di FB denganku sehingga saya hanya menebar senyum setiap berpapasan dengan tamu yang belum saya kenal.
Yang jelas dewan pembina Tangerang serumpun banyak yang hadir, ada mas Jodhi yudono, Abah Yoyok, Uki Bayu Sejati, Madin Tsawan. Yang tidak hadir karena kesibukannya adalah Kurniawan Junaedhi.
Para tamu yang datang dari Komunitas Mata Aksara ; Handoko F Zainsam, Na Lesmana.
Lentera Komunikasi sastra (LEKAS) ; Jejak Sandi dan MH putra.
Serta tamu istimewa yang karyanya akan menjadi Tema di riungan tangerang Serumpun ke 5 bulan juli nanti, yaitu Tri Utami.

Saya selaku koordinator pelaksana riungan Tangerang serumpun ke 4 ini merasa senang atas kerja samanya sobat-sobat tim yang lain seperti JJ Prabu, Alif Komunitas Empang, Ayu K Empang, Eti dan Yandri yang saya tugaskan menjemput mas Hudan.

Saya ucapkan terima kasih kepada kalian semua. Tanpa sobat-sobat tentunya riungan ke 4 ini tidak mungkin terjadi.
Tidak lupa aku ucapkan terima kasih kepada mas Hudan Hidayat dan Kirana Kejora yang sudi berbagi ilmu kepada kami semua demi sastra Indonesia yang lebih bermartabat.

terima kasih
salam persobatan
poncowae Lou
Pengelana Kata-kata yang sejenak singgah di Tangerang Serumpun

Kronologis lahirnya Antologi puisi LEKAS "Kenang sebayang"

04 Juli 2010 jam 17:11


Kronologis lahirnya Antologi puisi LEKAS "Kenang sebayang"

LEKAS adalah singkatan dari Lembah Kasih yang dirubah nama lagi menjadi Lentera Komunikasi Sastra.
Komunitas LEKAS berdiri pada tanggal 20 Nopember 2007, tanggal ini kami ambil sebagai tanggal kelahiran LEKAS, dimana di tanggal itu sobat kami vals (Yogjakarta) mengajak kami membentuk komunitas guna menjaring karya-karya penyair muda indonesia yang biasa karyanya ditampilkan di situs jejaring sosial di kategori sastra. Seperti yahoo Answers kategori persajakan, Kemudian.com, Multuply.com, Kapasitor.net, Facebook.com

Komunitas ini berawal dari dunia maya atau internet online yang berniat bergerak menerbitkan buku-buku sastra, terutama antologi puisi dan kumpulan cerpen.

Awalnya kami disini seperti pengguna situs jejaring sosial lainnya. Selain kami ingin menjalin persobatan, kami juga mencoba menyalurkan hobi dan kesukaan yang sama yaitu dunia sastra tulis.
Ternyata dari persobatan dunia maya ini, kami masih mampu merasakan simpati dan empati kami dikala tahun 2006 terjadi bencana alam di Jokjakarta, kami mampu menghimpun karya-karya sobat-sobat kami di internet yang peduli bencana untuk mengirim karya yang dihimpun sobat kami Vals yang tinggal di Jokja dijadikan buku yang terbuat dari foto copian yang dijual di masyarakat jokja dan dananya sobat vals salurkan di warga-warga yang sedang berduka tersebut.

Kurang lebih satu tahun kemudian lahirlah LEKAS yang ide ini bermula pada tanggal 20 november 2007 dari sahabat hariyanto (vals) Jogjakarta yang merupakan user pemakai Internet dalam dunia maya persajakan ( YA persajakan, kemudian.com)
Dari idenya ini kami membentuk suatu komunitas yang mana kami-kami ini merupakan orang yang ada di berbagai propinsi di Indonesia bahkan ada yang di luar negeri.

Memang ini persobatan yang aneh, dimana setiap anggota tim ini sebelum mulai menampung karya-karya yang masuk ke tim, kami belum pernah bertatap muka. Saat Lekas mulai menyeleksian karya-karya, barulah kami lebih sering kontak melalui HP maupun melalui YM.

Sobat-sobat yang berkecimpung di komunitas LEKAS antara lain :
1.Heru Arisandi (Jejak Sandi) dari Pelembang,
2. Purnomo Ponco Wibowo (Poncowae Lou) dari Tanggerang Kota,
3. Delima Sri Lestari Widya Astuti (Delima de Wilde sri) dari Belanda,
4. Maulana Hudaya Putra (Poetra) dari Sumatera utara (medan)
5. Vals (Hari Rahman) dari Jokjakarta
Dan dua sobat lagi yang dalam perjalanan LEKAS mengundurkan diri karena kesibukan mereka, yaitu ;
a. Stanislavlad (Semarang)
b. Lea (Hongkong) posisinya diganti sobat kami Mahadewa Cakti (Jokjakarta)

Sebagai Komunitas sastra, LEKAS adalah komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas lain dalam menerbitkan karya.
Tidak ada satu pun penulis yang karyanya ada dibuku perdana LEKAS, yaitu Antologi puisi LEKAS "Kenang sebayang" yang dikenakan biaya. Baik itu biaya pengiriman karya, penerbitan hingga launching nanti. Semua biaya ditanggung tim.

Memang metode ini menimbulkan keterlambatan penerbitan, tapi kami yakin bahwa niat kami yang tulus ikhlas ini dapat terlaksana atas kehendak-Nya.
Tanpa campur tangan Allah ta'ala, kami yakin niat kami ini sudah lama gagal.

Dulu LEKAS (Lembah Kasih) sekarang menjadi (Lentera Komunikasi sastra)

LEKAS juga punya mimpi, yaitu setiap buku yang terjual akan dipergunakan di bidang sosial dan pendidikan anak-anak kurang mampu.
Memang sangat aneh dan tidak mungkin dilakukan di jaman yang serba egois ini, tapi kami percaya dan yakin bahwa setiap niat yang tulus ikhlas kita pasti akan dikabulkan Allah ta'ala.



Demikianlah sekelumit perjalanan lahirnya LEKAS dan terbitnya buku Antologi puisi LEKAS "Kenang sebayang" yang akan launching pada :
Hari/tanggal : Minggu, 01 agustus 2010
Pukul : 15.00 s/d selesai
Lokasi : PDS HB Yassin. Taman Ismail Marzuki - Cikini - Jakarta Pusat

Kabar gembira : Penulis di buku ini masing-masing akan mendapatkan 1 (Satu) buku secara gatis, tentunya diharap beli beberapa buku agar dana cepat terkumpul dan cepat pula disalurkan kepada anak-anak kurang mampu yang membutuhkan dibidang pendidikan.
Contoh ; Beli dua gratis satu (Maaf ini baru wacana. Tim LEKAS belum memutuskan)

Cara pesan : sementara tolong kirim alamat kirim ke inbox ini dan ke inbox anggota tim LEKAS lainnya.
Tolong cantumkan pesan berapa buku.
Kami infokan kembali ke inbox sobat sobat semua.

Antologi puisi LEKAS "Kenang sebayang" :
Penerbit : Mata Aksara
Epilog : Khrisna Pabichara
Cover : Handoko F Zainsam
Ilustrasi : MH Poetra
Cetak pertama : 1000 exsemplar
Halaman : 180 Halaman
Harga : Rp 37.500,- (belum ditambah ongkos pengiriman)



Daftar nama penulis puisi yang karyanya ada di buku antologi LEKAS "Kenang sebayang"
(dari 60 lebih penulis yang masuk, tinggal 31 penulis yang karyanya lolos seleksi oleh kurator yang telah di tunjuk tim LEKAS) :

1.Delima Lestari Widya Astuti
2.Arie Oktara
3.Bibi Cantik
4.Damai Prastyo
5. Daniel Prima
6.Eko Putra
7.Febimiss
8.Faradina Izdhihary
9.Fatimah
10.Hari Jogja
11.I.B Lingga Kesmetri Wardana
12.Imron Tohari
13.Jejak Sandi
14.Lany Sulystiawati
15.M.H.Poetra
16.M.Kusuma Al-Franz
17.Rini Setianingsih
18.Nur Hidayah
19.Nur Hayati
20.Poncowae Lou
21.Pendeka Minang
22.Prastyo Samandiman
23.Putra Rastamanis
24.Bahrani Amir
25.Eti Puji
26.Yayan R Triansyah
27.S.Waluyo Siswoyo
28.Elang Indra
29.Jehan Zain
30.Vicky Zulkifli Rauf
31.Dewa Malam

1. Siapapun anda yang berniat bahkan niat itu dilaksanakan dengan membeli buku ini, berarti anda sama saja membantu program pemerintah dalam mengentaskan bangsa dari kebodohan.
Harapan kami dapatnya sobat-sobat membeli buku ini jangan melihat harganya, tapi melihat manfaat dari penjualan buku ini.
Syukur-syukur, sobat-sobat bersedia membeli buku ini diatas harga yang sudah kami cantumkan diatas.

2. Buku Antologi puisi LEKAS "Kenang sebayang" tidak dijual bebas di toko buku.

Sekali lagi, kami mohon maaf bagi sobat-sobat yang karyanya tidak lolos seleksi. Kami masih memberi kesempatan bagi sobat-sobat untuk kembali mengirim karyanya berupa puisi dan cerpen. Tentunya setelah Tim LEKAS kembali membuka penerimaan karya.

Trima kasih
salam persobatan
Tim Lentera Komunikasi sastra
(LEKAS)

Waktu bintang gemintang dapat kau hitung

07 Juli 2010 jam 16:58


Waktu bintang gemintang dapat kau hitung
u/ Komunitas Tangerang serumpun

awan gemawan julurkan lidah, menahan mentari sembunyikan kurapnya
tak henti mengaduh
mengeluh
menghujat
bahkan diri pun dicaci... memaki pak yu!

entah yang seberapa kali kubilang... di kedalaman samudra, mutiara meruam suar menebar riak menggantung gantang se... laki
: aku sempat bermurung... mengulur menarik mengulur bak benang serutan nadir

"sekembali kau pada tanah... apa yang dapat kau diamkan dalam dentam secawan nyali?"

; Waktu bintang gemintang dapat kau hitung...
kegetiran hidup dapat terasa manis apabila datang rasa introspeksi diri

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 07 juli 2010-16:26

Ibu, siangku malam

08 Juli 2010 jam 14:26


Ibu, siangku malam
; Ibundaku Sukiyatni binti fulan

serupa wajah memudar di dalam tilam
sesengguk sedih menyulam malam
entah yang keberapa kali jarum menyapa tajam lentik jemarimu sedang ublik yang menggantung di gedek terasa memudar cahya...
kuterkantuk di lelap ayun pahamu sedang bibir mungilmu meraba hatiku berdendang seloka
; lelaplah lelap putraku, bisikmu penuh damai

bagai pengarum jeram
lika-liku
curam karang
dan deras landainya seruam- seruam
sedang riak-riak menuntunku ke yang Satu...
; ibu, siangku malam
tak henti kau haturkan restu menjulang Arsy
sedang kusering lengah
tak tahu menentu arah

; terlambatkah aku ibu?

serupa wajah itu tersenyum, dialah ibuku yang menetas di sanubari
jadi rindu harap... harap...
besuk pulangku bersua ibu

; sebelum melupa menjaring sukmamu, terimalah sembah sungkemku padamu Ibu

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 8 Juli 2010-14:09
ctt ; "sebelum melupa menjaring sukmamu" = Pikun
Kuharap di sisa umurmu wahai ibuku (78 Tahun) lafas lafal nafas do'amu tak henti untuk putra-putri,
cucu, cicit dan mantu-mantumu

Amin!

Puisi pecicilan : Kopiah pakde dari Ilenk

08 Juli 2010 jam 16:25


Puisi pecicilan : Kopiah pakde dari Ilenk
: Ileng Rembulan

cerminku cermin!
muntahkan wajahku berpantul bening kopiah bertengger di kepalaku
tersambut ilenkku ilenk memantasku
: wooow cantiknya kamu memajangku di kelam malam, Ilenk?

"sampean iki sudah sepuh sanget, jangan neka-neko. tersandung bata tiba lara bagaimana?" ucap ilenk menggantung di pucuk mbang-mbung

kepalaku semakin berdenting denting tuing tuing
itu kopiah ku elus halus bak menjamah iga beludru
kujawil istriku yang melambung dalam dengkur siang itu
; bune!... bune!... simpan ini kopiah wasiat (walau siji harus dirawat) saat tiba danyang dan dayang,
persembahkan tuk putra raja
jangan pikirkan aku, ubanku yang beribu-ribu lebih nyaman di kepalaku

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 08 Juli 2010-15:38
ctt ; aku ingin berkata, sejujur jujurnya jujur ya lebih baik demikian pulakan?
sudah tua masak dibilang tua?
hehe

Riungan Tangerang Serumpun ke 5

09 Juli 2010 jam 11:14 | Sunting Catatan | Hapus


Hadirilah dan meriahkan Riungan Tangerang Serumpun dalam Malam Apresiasi Seni Budaya

Acara utama ; Mengupas lebih dalam lagi Antologi puisi karya Tri Utami "Abhayagiri"
Pembicara : Uki Bayu Sejati
Moderator : Jodhi Yudono

MC ; Jj Prabu, Mbah Kuntet Dilaga dan Indah Ayu Lestari




Riungan Tangerang Serumpun ke 5 akan diadakan ;
pada hari/tanggal : kamis, 29 juli 2010
Pukul : 19.00 s/d selesai
Lokasi : Restoran Pesona Laut - Rajanya ikan bakar- Sea Food, Jl. KH. Hasyim Ashari, Cipondoh-Tangerang



Sobat-sobat dipersilakan untuk tampil membaca puisi, musikalisasi puisi atau dalam bentuk apapun, dengan catatan :

1. Mencatatkan nama dan karya yang akan dibaca lewat Inbok FB ; Jj Prabu, Poncowae Lou, Divin Nahb, Nana Sastrawan atau Eti Puji.
silahkan pilih satu Inbox tersebut ya? jadi tidk usah inbox yang tercantum diatas dikirimi semua lho!

2. Kami akan menerima pendaftaran hingga 24 jam sebelum acara dimulai.

3. Dihari "H" nya, dimohon segera konfirmasi kembali. Penyelenggara memberi tenggang waktu 10 menit setelah MC selesai membuka acara.
Silahkan sampaikan konfirmasi sobat-sobat kepada : JJ Prabu selaku penyusun acara.



Tangerang serumpun disetiap riungannya mencoba mengapresiasi disetiap kegiatannya dalam bentuk bedah karya, tanya jawab dan pembacaan Puisi, Cerpen, Novel yang sedang diangkat menjadi tema. Oleh karena itu, apabila para undangan berkehendak naik panggung, dianjurkan membaca atau memusikalisasinya dari karya-karya yang menjadi tema di riungan tangerang serumpun.
tujuanya ; Dengan kita membaca atau memusikalisasi karya sobat yang lain, adalah salah satu cara kita mencoba menghargai karya orang.
Bukan berarti kami melarang sobat-sobat untuk tampil membawakan karya sobat sendiri.
Justru kami semakin membuka peluang ke sobat-sobat semua apabila sobat-sobat berkehendak karya sobat menjadi tema di riungan tangerang serumpun dibulan-bulan yang akan datang. Tentunya jauh-jauh hari diharap sobat-sobat menghubungi kami agar kegiatannya semakin menarik untuk diapresiasi.

Undangan ini selain terbuka juga gratis untuk umum.
(Kecuali hidangan yang sobat -sobat pesan menjadi tanggung jawab sobat sendiri dengan pengelola Pesona laut)

Ingat!
Kami hanya menyediakan tempat untuk silahturahmi dan apresiasi saja.

Terima kasih
salam persobatan Tangerang serumpun :
Divin Nahb
Jodhi Yudono
Yoyok We (Abah Yoyok)
Kurniawan Junaedhi
Uki Bayu Sejati
Madin Tasyawan
Heryus Saputra
Jj Prabu
Eti Puji
Nana Sastrawan
Mbah Kuntet Dilaga
Komunitas Empang
Yadi Yandriansyah
Poncowae Lou

Acara tambahan : Komunitas Lentera Komunikasi Sastra (LEKAS) mengadakan
promo buku Antologi puisi LEKAS dengan judul "Kenang sebayang" yang akan launching pada,

Hari/tanggal : Minggu, 01 agustus 2010
Pukul : 15.00 s/d selesai
Lokasi : PDS HB Yassin. Taman Ismail Marzuki - Cikini - Jakarta Pusat


Lokasi : Restoran Pesona Laut - Rajanya ikan bakar- Sea Food, Jl. KH. Hasyim Ashari, Cipondoh-Tangerang


Rute secara tulisan biar sobat2 tidak bingung :

1. Dari Jakarta/Bintaro/Ciputat keluar Tol pondok pinang ; dari BSD lurus arah cikokol.
sampai disitu nanti ada jalan layang. mobil silahkan ambil ke kiri untuk naik jembatan layang tersebut.
terus lurusssss saja melewati kota modern... terus lurusss. lha nanti ketemu jembatan layang lagi yang mengarah ke bandara, kalideres , cengkareng tapi JANGAN NAIK. silahkan mobil ambil kiri atau luar jembatan layang. lha dibawah jembatan layang tersebut ada perempatan. tolong mobil ambil ke kanan ke arah cileduk, kebayoran lama atau ke jakarta.
dari perempatan tersebut, keberadaanrestoran pesona laut kurang lebih 2 kilo. posisi pesona laut ada di sebelah kiri jalan setelah pom bensin yang sedang di renovasi.(200 meter dari pom bensin)

2. Dari arah Kebayoran Lama/ Bintaro ; Sobat tinggal lurus saja hingga ketemu perempatan Cileduk sobat lurus lagi. Kurang lebih 3 kilo 4 kilo dari cileduk nanti sobat ketemu yang namanya Situ atau Danau Cipondoh. lokasi restoran Pesona laut kurang lebih 700 meter dari danau Cipondoh. Posisinya sebelah kanan jalan setelah pom bensin P&K (pom bensinini sebelah kiri jalan).

3. Cengkareng/Kalideres/Grogol ; Sobat lurus saja saja hingga ketemu pintu gapura selamat datang Tangerang. dari gapura sekitar 500 meteran ada jalan (Banyak Angkot dan ojek pada mangkal) jalan itu disebut Jembatan Ampera. Terus masuk ke kiri, sobat lurus saja hingga mentok pertigaan yang mempertemukan jalan dari arah cileduk-cikokol tangerang. Sobat Belok kanan. Nah dai situ petunjuknya sama dengan poin 2.

4 dari jakarta keluar lewat pintu Kebon Nanas : lurus arah cikokol.
sampai disitu nanti ada jalan layang. mobil silahkan ambil ke kiri untuk naik jembatan layang tersebut.
terus lurusssss saja melewati kota modern... terus lurusss. lha nanti ketemu jembatan layang lagi yang mengarah ke bandara, kalideres , cengkareng tapi JANGAN NAIK. silahkan mobil ambil kiri atau luar jembatan layang. lha dibawah jembatan layang tersebut ada perempatan. tolong mobil ambil ke kanan ke arah cileduk, kebayoran lama atau ke jakarta.
dari perempatan tersebut, keberadaanrestoran pesona laut kurang lebih 2 kilo. posisi pesona laut ada di sebelah kiri jalan setelah pom bensin yang sedang di renovasi.(200 meter dari pom bensin)


Terima kasih
semoga penjelasan ini dapatnya dimengerti.