20 November 2009

DENOK DEMPLON


Sumber photo ; http://mardiantok.files.wordpress.com/2009/07/mbahsurip3.jpg

DENOK DEMPLON
Geguritan coro ngoko ingkang pecicilan
*) Kudedikasikan U/ adik angkatku 'Pratiwi setyaningrum'

mendit jun isi banyu ra' kroso wis sumingkir suryo nyeda'i ndalu
adohe golek toya wis ben tambah dino tambah kudu dilakoni
jenenge kali jembar sing kasebat kali gede, banyune ra' muni krupyuk-krupyuk koyo jamane aku ijik cilik

Tak kancani sliramu sing ayu lha mung sliramu ing atiku
nrabas alas
nasak-nasak kebon wis ben pamrihe cepet tekan omah
gandeng sumber banyu 10 kilo kuwi sing cedak

; lha kados pundi Yoo Gusti Alloh... punopo kawulo kedah kalah ngadepi kahanan mekaten?

Denok demplon! cah ayu sing tak tresnani.... ijik eling ora karo jeritmu dek jaman sliramu nangis ing tengah alas gungliwang liwung iku?
atiku miris tenan ndeleng sliramu kebetheng ngendit jun isi toya

Kuatno atimu cah ayu!
aku sanggup mendit gunung yen sliramu njaluk

; cup menengo cah ayu denok demplon sir-siranku
ora usah mlayu
ora usah mlaku... hayo tak gendong oncat soko kahanan urip susah
aku sanggup nresnani sliramu, koyo aku sanggup ngegendong sliramu

; wakakakakkkkkk tawa mbah surip bergema ing atiku
tak gendong kemana-mana
tak gendong kemana mana
wakakakakakkkkk dari pada nguntal watu luwih becik.... tak gendong kemana-mana


*)) Tanslite pakai bahasa planet nih hehe ;

Puisi jawa yang jenaka ; DENOK DEMPLON

membawa air pakai jun tidak terasa matahari hampir tenggelam
jauh mencari air agar teap bertahan hidup
yang namanya sungai lebar di sebut sungai gede, airnya dulu krupyuk-krupyuk jamannya saya masih kecil

aku temani dirimu yang ayu hanya kamu yang aku cintai
lewati hutan
lewati kebun cepat sampai di rumah
kerna sumber air jauhnya 10 kilo dari rumah

: Bagaimana Yaa Allah... apakah aku harus kalah menghadapi keadaan ini?

Denok demplon perawan cantik yang aku cintai... ingatkah kamu waktu kamu menjerit dan menangis ditengah hutan rimaba itu?
hatiku sedih melihat dirimu yang kesasar membawa jun isi air

kuatkan hatimu perawan ayu!
aku sanggup mengangkat gunung kalau kamu minta

; cup jangan menangis denok demplon yang aku taksir
tidak usah lari
tidak usah jalan... hayo saya gendong meloncati keadaan hidup susah ini
aku sanggup mencintaimu, seperti aku sanggup menggendongmu

; wakakakakkkkkk tawa mbah surip bergema ing atiku
tak gendong kemana-mana
tak gendong kemana mana
wakakakakakkkkk dari pada makan batu lebih baik.... tak gendong kemana-mana

....
Ponco Wae
Tangerang, 7 Agustus 2009
lagibae, jam 5 lewat 52 sore

KUMERINDU PADA RANAH

KUMERINDU PADA RANAH

kumerindu pada ranah dimana guratgurat mega dan beningnya air belik memancarkan pengharapan
hijauhijau daun
rindangrindang batang pisang yang mengayun disapu melodi birama rasa
rindangrindang nyiur menyapa mesra
dicangkul gembur sawah tegal pekarangan
sapi membajak sangat riang tak terbeban

kucurankucuran atap tak mengenal pancaroba tak mengenal kemarau tak mengenal keluhkesah kelu lidah
cairan kimiawi dibuang tak dibutuhkan
kecipak-kecipak sak murbeng kewan air hidup rukun dalam habitat
kelotak kelotik sak murbeng kewan alas tak tersentuh jemarijemari yang berkuku tajam berlipat gunting menghulu parang

; adakah itu sobat?

kumerindu pada ranah dimana belaian cacian berbalas dalam makna kebaikan
kurang dan lebih diterima dengan legowo ikhlas dan berucap syukur
kerna semua akan berakhir di ujung
dimana senyum tulus dan tawa hambar tercatat ; "kembali itu lebih baik"

kumerindu pada bau pasir lepen yang sempat kita buat istana dan kereta kencana dengan buihbuihnya
saat kumenciumnya
aku ingin selalu memiliki dan ingin selalu begitu hingga gebyak layar diturunkan

; kumerindu ranah sebesar kumerindu belaian kasih sayang

...
Ponco Wae
Tangerang,11 Agustus 2009
Barusan, 10.05 pagi

19 November 2009

RUANG BACA

RUANG BACA

pilarpilar langit penyangga ujung kata dibaluri kulit ari sanggama
pernikpernik tanda baca titiktitik tanpa jeda
intuisi bermain bagai bethoven sedang tenggelam dilautan ketiadaan
anak nelayan tak picingkan mata menatap riakriak kecipak di bibir sauh
sedang di tapal batas ke-aku-an, sampah sampah tersapu ombak membuat gunung tepatnya gugusan ketidak tahuan
di ublak ublak
di obokobok
keruh!
diam...
jernih
diteguk antah
ditelan tak mengenyangkan,
buktinya aku masih betah meradang

ruang petak duakalidua
pengab terasa tanpa ventilasi tanpa ornamen tanpa baling baling kapal udara
disinilah aku beranak pinak
disinilah aku onani
disinilah aku b'ol
sungguh..
belum sempat kujamah gerai kemilau bianglala, senja hari mulai menyapa

nyalakan lampunya ma!, cepat sekali gelap gulita
biarkan aku disini mengeja rasa agar saat kugauli parasmu, cinta ini tak hanya penghias mata saja

...
Poncowae Lou
Tng, 11 Mei 2009 - 10.49

ALMANAK BAPAKKU PUNYA KAKEK, KAKEKNYA PUNYA BAPAK

Cerita ringan ;
ALMANAK BAPAKKU PUNYA KAKEK, KAKEKNYA PUNYA BAPAK

; tepat sehari sebelum dikumandangkan kata Merdeka ke dinding ke hulu ke hilir negri...
waktu terasa panjang hingga demam malaria kambuh menyikut nadi dan sungsum pertiwi
(almanak itu dimulai dengan bahasa puitis yang dramatis tapi nylekuntis... bagiku yang suka terkagum-kagum dengan cara membawakan bahasa seperti ini, memaksa kerja bakti bebenah rumah orang tuaku, aku hentikan sementara )

kubiarkan pikiranku ikut melayang bersama buih-buih bibirku yang dengan alunan hati mengikuti aliran cerita yang terkadang sangat deras hingga menyeretku ke hilir.

; Tahu tidak nak!
kata-kata itu bagiku pemaksaan pemusatan pikiran agar orang yang diajak bicara atau yang mendengarnya terpusat padanya.

Aku yang semula tidak tertarik dengan Almanak ini yang sangat tua dan rapuh, mulai bau dan hancur dimakan kutu. Aku sempat mau melempar ke tong sampah yang memang dari tadi sudah ada disampingku, niatku ini aku batalkan.

Rak-rak buku yang congkak dengan buku-buku yang kusut lusuh penuh debu di ruang baca almarhum bapakku, mau tidak mau harus aku belai. Bagaimana tidak, semua penghuni yang dulu bagai markas tentara yang selalu hiruk pikuk seakan sedang latihan berperang ini sekarang tinggal dihuni satu helai rambut uban yang satu persatu rontok, dialah Ibundaku yang renta... yang rentan dari segala penyakit ... yang sensitif oleh suara.. yang renyah setiap ada yang bisa diajak berbicara.

Libur 3 hari ini aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya, selain mendekatkan diri dengan ibunda yang dapat aku jenguk satu dua tahun sekali ini, sekalian merasakan kembali suasana waktu anak-anak dan remajaku.
Ibundaku ini tinggal ditemani tembok kamarnya serta seorang pembantu yang kulihat sangat perhatian ke ibuku. Nyamuk dan tokek yang biasanya menjelang maghrib berbunyi dengan hitungan-hitungan mistik yang terkadang menjadi ketukan-ketukan tangan menghitung nasib, sebagai irama kehidupan ibuku dalam menghitung hari-hari rentanya.

: Besok pagi, tepat tanggal 17 agustus umurmu berkurang satu-satu, disitulah kedewasaan mulai teruji dengan benang-benang kusut persoalan.
(Tulisan itu kembali mengikatku dari labirin kosong menjadi ada dan kembali kosong)

Begitu tulisan itu benar-benar tepat sekali dengan saat ini tanggal 16 Agustus 2009 aku membaca untukmu wahai sobat-sobatku. Batinku sempat berpikir ; apakah tulisan ini memang tertuju padaku ya sobat?
agar aku tidak ngantuk maka mataku yang semalam sempat berajojing dengan gelora irama karaoke Inul Fiesta aku ganjal dengan sepatu bot milik almarhum bapak yang selama ini dipakai untuk ganjal pintu disaat pintu ruang baca ini pintunya ingin di buka lebar-lebar.

; Tahu tidak nak?

Deg!... kalimat itu kembali terbaca olehku.
Mengapa kalimat sederhana seperti ini justru membiusku dari tidak tertarik menjadi pingin membaca kelanjutannya?

; negri ini terbentuk tidak serta merta datang dari si Dipertuan agung penjajah, tapi hasil dari perjuangan termasuk aku. walau porsiku hany mengusir cecunguk penjajah yang aslinya orang pribumi yang takut kelaparan, takut miskin harta tapi tidak takut bahwa sewaktu-waktu posisi ini berbalik maka orang-orang seperti ini pantasnya jadi injakan kakiku.

hemm.., tidak usah ngomong aku juga tahu kek!, kalau negri ini terbentuk bukan dari nasi diemplek-emplek dicampur kelapa terus dimakan ; gerutuku dengan tulisan tersebut.

; Kamu jangan motong ucapanku ya? dengerin dulu apa maksudku tahu!

wahahaha... aku jadi tertawa saat baca di almanak tersebut dengan tulisan dengan nada marah.
Emangnya kalau aku ngejawab apa kakek mau pukul aku? ; ucapku geli dengan buku ini.

: Anak kok kagak punya kuping ya? nih rasain hukuman kakek!

Braak!.... tumpukan buku di atas rak yang tepat di atasku yang sedang membaca sambil bersandar di rak tiba-tiba jatuh dan menimpa kepalaku.
Hiiii!... sempat aku bergidik... ; oke deh kek! kakek kagak usah hukum aku, aku juga tahu kalau buku yang diatasku tadi seharusnya kutaruh dilantai sebelum membaca tulisanmu ini... ucapku dalam hati.

Lha aku ini sudah tua kek! punya anak satu dan istri baru satu... yang pantas nakut-nakutin kakek itu aku lho!... wakakakakkkk lha kalau kakek yang sudah mati masih suka iseng ke cucu... cucu juga bisa kagak kirim do'a dan baca yasin tuk kakek lho.... ; ucapku lagi menghibur hati sambil cengar-cengir.

Semakin aku masuk ke dalam isi buku ini yang ternyata berisi tentang konflik, tentang kles pertama, kles ke dua hingga terjadinya perang pertama dan kedua, dalam cangkum negri ini. Di almanak bapakku punya kakek, kakeknya punya bapak ini seperti buku sejarah yang dibuka tanpa tedeng aling-aling.
Walau aku sempat terjerat dengan cerita ini, tapi otakku yang masih normal tetap menganalisa secara spontan kejelasan informasi ini dengan apa yang sempat aku baca dan aku pelajari.
Dan ternyata apa yang akhri-akhir ini diisukan tentang pemutaran dan pemelintiran sejarah negri ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ditulis di almanak ini.

"Den!.... Den Beinjo!... Raden dipanggil ibu untuk makan siang Den!... ibu sudah menunggu di meja makan" ucap pembantu ibundaku yang bernama Prihatin di depan pintu.

"Ya!.. bilang bunda, aku mau mandi dulu"

"Ya Den!"

Buku yang sampulnya bertuliskan almanak KGRT Wonodikromo dengan tulisan latin yang hurufnya saling bergandengan tangan ini dengan ejaan lama, dalam genggam tanganku sedang buku lainnya yang saat ini sudah aku masukan ke kardus rencananya akan aku pak dan kubawa pulang ke Tangerang. Sedang yang kurasa sangat rusak dimakan kutukupret kumasukan ke kantong plastik dan tempat sampah, untuk dibuang ke tempat sampah depan rumah.

"Tolong simbok buang yang sudah aku taruh di kantong sampah ya?... sekalian rapikan ruang ini?"

"Ya Den!"

......

Pagi ini Tanggal 17 agustus 2009 jam di komputerku menunjukan pukul 9:21 aku mulai kembali membaca almanak ini untukmu sobat, agar rasa penasaranku juga dapatnya menular di pikiranmu.

; Tepat sekali nak! sekarang sudah tanggal 17 agustus dimana tanggal dan bulan yang sudah ditetapkan Allah untuk bangsa ini mengenyam kemerdekaan kembali kau baca bukan?
tulisan ini tercantum di bab baru yang berjudul "hari merdeka"

Deg!... aku yang membaca tulisan di pagi ini yang mendekati detik-detik proklamasi semakin kaget dibuatnya. Ini buku tulisan tangan dengan tinta pena yang ditulis di atas kertas merang ini semakin mendatangkan penasaran.

: Jangan buru-buru ditutup buku ini nak!... aku tahu kamu penasaran dengan tulisanku ini. Mengertilah... aku ini bernama Kanjeng Gusti raden Tumenggung Wonodikromo yang disingkat jadi KGRT Wonodikromo... Aku hidup sebelum negri ini yang nantinya bernama Indonesia mengenyam kemerdekaan. Walau aku bisa meramal jauh kedepan negri ini, tapi aku sebenarnya tidak tahu dan tidak bisa menerka siapakah yang membaca tulisanku ini.

Aku yang mendengar sebutan nama itu yang tertulis di sampul buku dan tertulis kembali di dalam ceritanya membuat aku kembali menerawang ke silsilah orang tuaku.
Ya... itu memang benar... bapakku yang kelahiran Ponorogo sebenarnya asal keturunannya KGRT Wonodikromo.

Aku bolak-balik buku yang bertuliskan depan almanak ini dengan rasa penasaran.

Dan akhirnya aku menemukan jawaban dari teka-teki buku ini disaat ibundaku yang aku cintai dan aku sayangi mulai duduk di sampingku. Dengan lembut buku itu dia ambil dari tanganku. Matanya berkaca-kaca, mungkin teringat dengan almarhum bapak atau memang ibu sudah tahu maksud dari almanak ini yang di penutup buku bertuliskan hari jum'at kliwon tanggal 17 agustus sedang tahunnya 1445.

"Anakku Bei... jangan pedulikan tanggal pembuatannya dan sampai kapan cerita buku ini sesuai dengan keadaan jaman negri ini. Yang jelas, sampai kamu punya cucu dan cucumu punya anak... cerita negri ini bisa terbaca dengan jelas di almanak ini. Tapi masalahnya adalah..... apakah kamu percaya bahwa nanti negri ini akan semakin makmur?... akan semakin berwibawa?.... akan semakin gemah ripah loh jinawi sesuai almanak ini?....menurut ibu... Wallaualam!... kita boleh percaya boleh tidak dengan buku ini, yang jelas kita yang hidup di jaman ini tidak dapat membuktikan kenyataan di kejayaan negri ini nantinya, bukan?.. Yang jelas lagi!... kita yang hidup di jaman ini harus punya keyakinan bahwa anak cucu kita dapat mengenyam kehidupan lebih baik dari pada jaman sekarang. Semoga saja ya nak, semua ini dapat terwujud?"

"Ya bunda!...nanda yakin bahwa kakeknya punya kakek yang bernama KGRT Wonodikromo terbukti adanya. Tapi bunda...?" ucapku berakhir tanda tanya ke bunda.

"Tapi apa Beinjo?"

"Kenapa buku ini tidak diterbitkan seperti layaknya ramalan Jongko Joyo Boyo?"

"Tidak mungkin nak!... buku almanak ini hanya bermanfaat buat keluarga kita saja... kalau sampai kita setelah membaca lalu berniat menyebarkan ke khalayak umum ya harus siap-siap menanggung akibatnya"

"waduh keng Ibu kok sampai seperti itu sih?"

"Apa kamu tidak baca di sampul dan di catatan kaki setelah buku ini ditutup?"

"Baca sih bu! tapi..."

"Tapi apanya?"

"Nanda tadi sempat engajak sobat- sobat nanda Beinjo untuk mendengar cerita dalam buku ini melalui ucapan nanda ini Bunda"

"Waduh Biyung!... ibu tidak mau turut campur kalau sampai kamu dan teman-temanmu dapat tula ya?... memang anak-anak jaman sekarang tidak pernah percaya dengan cerita yang begini-beginian" ucap Ibundaku marah seraya ngeloyor masuk kamar, meninggalkan aku dalam kebimbangan.

"Masak sih?" pikirku tidak percaya sambil mataku memandang buku almanak itu yang ditaruh ibunda di meja TV. Saat aku berniat mengambil buku almanak itu, aku dikejutkan dengan perubahan warna buku almanak. Buku Almanak itu mengeluarkan sinar kekuning-kuningan. Sinar itu semakin lama semakin menyilaukan mataku. Aku yang melihat semua ini hanya sempat terbengong tidak percaya.
Disaat sinar itu menghilang, ternyata buku itu menghilang pula dari tempatnya.

Aku yang semula tidak percaya dengan kejadian-kejadian mistis seperti ini sempat merasakan perubahan yang tepatnya di tengkukku. Seakan bulu kudukku berdiri. Tubuhku terasa dingin sekali. Kakiku yang semula tegak berdiri sekarang lunglai lemas tak berdaya.

: Ucapkan merdeka nak!...
suara berat dan jelas sekali tepat di depanku.
Saat aku yang semula terduduk dilantai dengan wajah menunduk, perlahan-lahan memberanikan diri memandang figur seorang lelaki jawa yang berperawakan tinggi tegap dengan kumisnya yang lebat njepaplang, tepat berdiri di depanku.

; Jangan kaget!.. aku hanya sebentar menemuimu nak!

Aku yang semula ketakutan perlahan-lahan memberanikan diri memandang wajahnya seraya mencium tangan kanannya yang disodorkan padaku. Tangan yang kekar ini terasa menggenggam erat-erat tanganku.
Aku mulai merasakan kehangatan mengalir ke sekujur tubuhku.

: Ucapkan merdeka nak!

"Merdeka!" ucapku pelan seraya berdiri dengan tetap menggenggam tangannya, "Merdeka!... merdeka!... merdeka!" ucapku semakin bersemangat.
Saat aku mau mengucapkan kata merdeka yang ke empatnya... figur lelaki yang memakai baju kebangsawanan jawa dengan memakai beskap dan atribut kejawennya yang aku yakini adalah kakek buyutku, menghilang dari mataku.

"Selamat jalan Kek!... Indonesia memang telah merdeka kek!... Merdeka!"

...
Tulisan ini aku karang kemarin sore tgl 16/8/09 dan aku selesaikan saat ini
Tangerang, 17 Agustus 2009 jam 10.31 wib

Atas nama ;
cucu dan cicit para pahlawan Indonesia
Ponco Wae
-------------
Dirgahayu RI ke 64
MERDEKA!
CUKUP
Inspirasi ; Dua sajak karya Timur Sinar Suprabana

rasa kecewa diambang mati
membuat bianglala meredupkan sinar

; apa yang dapat dititi?

...
Poncowae Lou
Kampung Gunung, 18 Agustus 2009-4;57sore

Sajak-sajak Poncowae Lou ; Mayapada ke 1

Sajak-sajak Poncowae Lou ; Mayapada ke 1

Isolasi 1013

padahal sering kudongengkan padamu, dimana kabutkabut yang menempel di kelopak matamu adalah kristal-kristal salju

padahal aku sering cerita padamu, di balik awan itu ada rongga yang dapat kamu masuk dan pastilah kamu akan senang...
disana segala terpenuhi hingga cawan terakhirmu tetapkan terisi

padahal aku sering ajak kau diskusi walau kutahu kau memang tak ada gairah untuk itu
tapi aku tak bosan... aku tak pernah capek mengajakmu ; menyeimbangkan hati

padahal aku sering memberi contoh, dimana lubang jalan cobalah beri tanda agar pengguna lain tak terperosok juga
atau kau memang bebal?

padahal aku tak pernah bosan menjinjing bebanmu agar kau bisa membedakan mana yang berat diantara jinjinganmu

padahal aku tak pernah bosan membasuh luka sekujur tubuhmu dengan basuhan kasih sayang
; ketahuilah saudaraku... semua orang akan tetap membawa dosa dan kesalahannya
dan tak ada waktu yang namanya penangguhan

padahal aku tak pernah bosan saudaraku
kerna aku adalah deru debu jalanan yang terhempas tanpa bilang kelelahan

~~~
mayapada hospital malam, 21 Agustus 2009


Tali

aku hanyalah seutas tali
saat kau pegang erat penuh yakin
InsyaAllah kehendak-Nya menyapamu dengan lembut
; percayalah... itu janji-Nya

~~~
mayapada hospital pagi, 22 agustus 2009


Albumim

muntah darah
berak darah
hitam pekat
seyogyanya, sandarkan dirimu pada iman yang tepat

~~~
mayapada hospital pagi 22 Agustus 2009


Di ruang Endoscopy

lorong menuju-Mu terasa dekat Yaa Allah
kebesaran-Mu menyita hati
sungguh...
hidup dan mati ternyata seutas benang merah

~~~
mayapada hospital pagi 22 agustus 2009


Teka teki hati

di wajahmu terpantul cahya pengharapan
?
kau terlihat ingin tenggelam beriring lembayung senja menyapa

~~~
mayapada hospital pagi 22 agustus 2009


Larung

obatnya orang sakit ; Istighfar

~~~
mayapada hospital pagi 22 agustus 2009


Menunggu orang sakit

sakit!?

~~~
mayapada hospital pagi 22 agustus 2009


Menunggu rembulan terbit

mauku
harapmu tersampaikan
pada rembulan, dimana telah kau ikat perjanjian

~~~
mayapada pagi 22 agustus 2009

Peregangan

ambil nafas dalam-dalam
hembuskan perlahan-lahan selama kamu bisa
disitu ada tanda-tanda kebesaran-Nya pantas selalu disyukuri

~~~
mayapada selepas buka 22 agustus 2009


Coretan

awan itu menggelembung menggelinding mencium jabal Nur
kau usap gumpalan keringatmu dengan ujung surban putihmu yang mewangi
; Subhanallah... langit mencatat harum namamu

~~~
mayapada hospital 2009


Seorang badui

; mengapa kau bershalawat untuknya?... apakah pernah lihat siapa dia?

aku yakin ajarannya... mengapa kamu ikut thawaf?... apakah kau kenal dengan beliau?

; akulah yang kau maksud... tahukah kamu?... malaikat jibril membisikan padaku... kau termasuk orang yang terpilih nanti mendampingiku di surga

Alhamdulillah

~~~
mayapada hospital 2009

Pecicilan di hospital

suster!...tolonglah saudaraku dari lolong sendu sakitnya

; Ya!

kamu cantik

; apa hubungannya?

ada!... suster telah mengobatiku dari letih lesu

; ?

percayalah sus!... pecicilanku hanya tertuju padamu

; gedubrak!... prang!... pletak!... pyar!

~~~
mayapada hospital 22 agustus 2009
Poncowae Lou

Sajak-sajak Poncowae Lou ; Mayapada ke 2

Sajak-sajak Poncowae Lou ; Mayapada ke 2

Syahwat di bulan ramadhan

sayang!
bagiku kau setan penguasa siang terang benderang

...
mayapada hospital 24 agustus 2009-23;05


Bid'ah

wujud keberadaannya ada
sedang ada keberadaan-Nya tak berwujud
; Manunggaling kawula Gusti

...
mayapada hospital 24 agustus 2009-03.27 pagi


Sepulang tarawih

sebegitu banyak hidangan yang terpajang di meja makan
hanya satu yang ingin aku telan...
dirimu sayang!

...
mayapada hospital 24 agustus 2009-03.57 pagi


Imzak tiba

ikat erat-erat syahwat di jendela
kita meluncur bersama tanpa hawa
dimana kenikmatan besar kan menyapa

...
mayapada hospital 24 agustus 2009-23.25


Tudung saji

;saur ma!

InsyaAllah

; buka ya ma?

jangan pa!

: kenapa?

tinggal saus tiram di balik tudung saji

; cukuplah ma!

idih papa, mama saja geli

; ?

...
mayapada hospital 25 agustus 2009-03.12pagi

Tarawih

saat alif ditegakkan di awal sepertiga ramadhan
berduyun-duyun orang nyadong berkah

saat ba' ta' ditundukan di pertengahan bulan ramadhan
lengang masjid... lengang langgar

saat Hamzah dalam takbir akbar
berdesakdesak berebut cium tangan
; sadarkah kita wahai sobat!... tanda-tanda menduakan Allah dipraktekan

saat ya' bersujud di akhir sepertiga ramadhan
tanda tanya berkecamuk dalam hati
; adakah yang terlewati di ramadhan yang akan berakhir ini?

Astaghfirullahu hal'adzim

...
mayapada hospital 25 agustus 2009-sehabis sahur 03;49


Bubur saring panas dingin

jangan ikuti maunya lidah
badan sakit
jiwa sengsara

...
mayapada hospital 24 agustus 2009-21.19


Mendulang

emasmu sepuhan
ditelan waktu kan karatan

berlianmu memuncar
asah sedikit lagi kinclong bercahya

mengertilah saudaraku!
berilah sedikit serpihanserpiham pada pendaki musafir hati
niscaya, senyummu kan selalu mengembang kerna di musim petik buahmu ranum menawan

...
Mayapada hospital 24 agustus 2009-21;33


Suntikan terakhir

Insyaflah sebelum terlambat

...
mayapada hospital 24 agustus 2009-23.00
Poncowae Lou

Sajak-sajak Poncowae Lou ; ADIGANG ADIGUNG ADIGUNO

Sajak-sajak Poncowae Lou ; ADIGANG ADIGUNG ADIGUNO
Inspirasi ; puisi sobat Rama Prabu 'Potong Jemari, Titah Tuhan?'

Balad

di balad - kota taif malam itu
tangan lembutmu tunjukan panggung di tengah perempatan jalan itu dimana hukum pancung menggelatarkan sukmasukma yang nista

bayang-bayang itu mengutil rasaku hingga ke jedah
terbang kembali ke asalku dimana putih dan hitam menyatu jadi abu-abu

...
Cipondoh, 11 September 2009 - 9;06


Masjid pemancungan

: masjid ini apa namanya tuan?

..............
.................... !

: Oo begitu

terbayang di pelupuk mataku deru dera sedan dan darah mengalir muncrat cabikkan noda

saat ku terdiam..
jerit isak kesakitan menyayat
limbung aku

Yaa Allah, Ampuni dosanya

...
Cipondoh, 11 September 2009 - 9;13


Tanah Haram

ada sepenggal do'a dan shalawat Nabi SAW yang mengalir tak hentihenti hingga ke hulu

...
Cipondoh, 11 September 2009-9;22


Sholat jum'at pertama di masjid Nabawi

tergelar sajadah membentang mata memandang
bulir-bulir manikam menetas
airmata sesal tak terbendung

; adakah kesempatan lagi bagiku Yaa Allah tuk memandang-Mu sepuas hati dari istana-Mu ini?

...
Cipondoh, 11 September 2009-9;32

Sajak-sajak Ponco Wae ; Pembersih kubah Masjid

Sajak-sajak Poncowae Lou ; Pembersih kubah Masjid

Marbud dan bulan sabit

saat bulan sabit memekarkan senyumnya
saat bintang gemintang menadarkan niatnya
tuhan-tuhan mati

senyummu meredam gejolak hasrat
terbang meniti bianglala, tercapaikah?

; InsyaAllah

...
Tangerang, 15 September 2009-9;01

Marbud gelar sajadah panjang

Bersandarkan ke dinding surau berpelepah daun enau
surat Mulk berganti surban
rajutan manikammu begitu membentang hingga aku tak tahu mana yang ujung mana pangkalnya

; Subhanallah... suara merdumu menggeletarkan sukmaku yang malas membuka kelopak mata lamalama

Bapak!
maafkan aku yang melumut tiada malu

...
Tangerang, 15 September 2009-9;13

Pembersih kubah masjid

saat tasbih jatuh dari jemarinya
Kau genapkan hitungannya

saat sujud terakhirnya membumi menganak airmata
Kau cukupkan niatnya

saat pengharapannya bagai garis lurus menuju pada-Mu
Kau rengkuh dan Kau timang dia

tahukah Yaa Allah!
aku
sungguh
iri dan cemburu padanya

...
Ponco Wae
Tangerang, 15 September 2009-9;32
Puisi peribahasa ;
"Gereklah langit olehmu, engkau takkan kusaraki juga"
*) Puisi peribahasa ini aku dedikasikan U/ sobatku Eti Puji

cermincermin retak...
dapatkah kau simpulkan temali hatiku pada batang julang penyangga langit, di Situ banyu ijo sempat kurangkai kata pada keremangan malam hingga penat berubah jadi kenikmatan

(mewangi kembang damar sa' penduluman)

cermincermin retak...
dapatkah kau gadaikan waktukku tuk sejenak melebur jadi angas-angas anglo yang membinarkan harap
tapi mengapa justru aku terkesima padamu, hingga aku tak beranjak
sedang perjalananku tinggal sejengkal, itupun kalau tak terjegal aral

cermincermin retak...
sekali ini kumematut diri di depanmu dengan iga yang menggelembung tertiup bayu
ternyata aku harus kembali arah, dimana asalku beruak-ruak lara dikebiri rasa
niat diri mencuri perhatian ternyata "Seperti menjilat keluan bagai kerbau"

cermin
cermin
retak...
aku tak butuh kamu lagi

...
Ponco Wae
Tangerang, 17 September 2009-10;09 pagi


Cara membuat puisi peribahasa yang aku perkenalkan disini beberapa bulan yang lalu adalah sbb:

1. Tema diambil dari salah satu peribahasa.
2. Tema tersebut dikembangkan dalam cerita/penulisan tentang kekinian atau kejadian jaman sekarang.... Baca Selengkapnya
3.Untuk menguatkan bahwa puisi ini berbeda dengan puisi yang lain, maka perlu dimasukan peribahasa yang padanan artinya sama dengan peribahasa yang kita jadikan tema.
4. Puisi peribahasa tetap diberi judul dengan peribahasa yang kita jadikan tema.

selamat mencoba sobat2ku tercinta. Kuharap dengan eksprimenku ini lalu sobat2 semua bersedia mensosialisasikan dengan cara membuat puisi peribahasa dan diposting disini maupun di media yang lain.

trims
salam persobatan
Ponco Wae

MENGELUARKAN UNEG-UNEG

MENGELUARKAN UNEG-UNEG

; ooooh indahnya pergumulan kita tadi ya?

bahanbahan yang semula bening transparan halus membeludru jadi kumal langsat merah jambu
kupiting imaji hingga jadikan pernik-pernik dari pulasan jingga mentari senja... mentereng dengan besutan kata demi kata yang tertata persis seperti lukisan senja itu sendiri

semakin menyusup di rerimbunan bulu ketiakmu yang berbulanbulan tak dicukur atau memang bulu itu tuk menyamai bulu-bulumu yang tersimpan rapat di tempat yang pastinya hanya dikau dan dia yang tahu...
hemm
aku tak tahu

hasrat mematut diri memang membutuhkan cermin
cermin dalam hidup adalah suri tauladan

hasrat memintal asa memang membutuhkan cengkir
kencengnya pikir
aral rintang batu rijang kuasan kusam tak surutkan langkah
; tak perlu menanti

sayang!
aku kebelet kencing nih...
maukah kau sedikit tengadahkan kepala dengan mulut terbuka dan lidah menjulur seperti biasanya?

; hemm

ter...
rriii...
ma...
kasih yang!

...
Ponco Wae
Tangerang, 23 september 2009 - 4;49 sore

Ini langkahmu yang kesekian

Ini langkahmu yang kesekian

Ini langkahmu yang kesekian menyeruak keheningan mencoba gumuli malam bagai lacur kau perlakukan setiap lekuk tubuh kesenyapan...
kau jambak
kau cabik
jerit rerintih tertindih tak karuan oleh hasratmu yang tertekan
; dasar Dajal!... jerit embun memuai jadi lendir-lendir didihan

ini langkahmu yang kesekian berpapasan denganku yang menggantung di buritan
aku diam
aku hanya terdiam
sungguh
aku hanya terdiam...
gendewa yang tergenggam dengan busur terpasang tinggal direntang kuyakin kan meluncur deras bak lipatan kilat menancap di kejora bianglala, tak mungkin itu ku lakukan kerna darahmu telah mengental bersublamim kembali encer di ketiak megaku

sulur-sulur mulai mencium bumi bahkan mulai menguliti permukaan bibir landai lembahlembah dan ngarai
disaat gerhana datang nanti, kuyakin sulur-sulur itu telah menjadi batangbatang julang

ini langkahmu yang kesekian tak bosan kumemandang walau lekuk luka lirih menyapa
aku tetap terdiam dan tetap menjaga di sini dimana rentangan waktu sekilas kan berganti dini

...
Poncowae Lou
Tangerang, 24 September 2009 jam 8;49

kwek kwek kwek

kwek kwek kwek
*) sajak jenaka yang spontan U/ Hudan Hidayat

kwek kwek kwek
; ach itu pasti suara bebek tetangga mengarak anakanaknya si kucrit kucrot dan kucret di rawa pinggir gang depan rumahku

Hussyaah!... husssyaaah!...
; ach itu suara pak temon, khas sekali dia mengatur barisan bebek menjadi barisan bebek yang terbaik di kampungku ini, kampung gunung

kuraup air di jamban dengan sepuluh kepalan jemari berkalikali
; ach... sepagi ini aku harus siap-siap menuju peron dimana sepur tua telah menantiku
khusus hanya menantiku tuk menyebrang lautan rasa
aku tahu sobat!
salah satu labuhanku masih terbentang jauh... sejauh bulat sorot matamu memandang tajam curiga padaku

kau selingkuh mas?

; hemm jawabku, menggapit pinggang rampingmu dan kubanting di reyotnya dipan berbilik bambu

kau selingkuh mas?, tanya istriku mengulang lagi dari balik nafas terlepas dalam ayunan birahi

; apa ada bedanya?

ya mas!...
matamu memburu bayangbayang yang entah sosok siapa itu
sedang gerakmu mulai lunglai lungkrah lesu kurang susu

; aku akan tetap disini sayang... selama bebekbebek pak temon tetap berbunyi ; kwek kwek kwek
apa pedulinya aku?

hemm, geram istriku menggeretakkan gingsulnya tanggal satu

; tersenyumlah manis!... pergiku memang membentangkan mimpimimpi bersanding dengan rasaku
tapi tak mungkin kau kuijinkan masuk kesitu
aku takut matamu akan membuta
hatimu akan mengeras bagai biji pala

hemm, geram istriku perlahanlahan sirna

; maafkan aku cah ayu!... aku hidup di dua dunia
maya dan nestapa
seyogyanya manisku sayangku cah ayuku denok demplonku mengerti...
disana aku hanya menarinari sejenak, berorgasme lalu berubah jadi kepompong
maka...
ijinkan pula aku jadi kupu-kupumu yang selalu kau sayang

...
PP
Pecicilan Ponco
Tangerang, 25 September 2009-9;21

Bulan diam

Bulan diam

di pelataran ini yang dulu kita pernah merumput menjumput seserabut bonggolbonggol teki rerumputan
batang sengon meranggas beterbangan kliko-klikonya melepas, tanggalkan diri... menua
di sudut ekor pandangku, berbatang-batang pohon pisang memagari pelataran hingga rerindang cemara menerobos.. menjulang... julang!
jamban tempat kita menggosok daki kekerabatan masih bertengger di tempatnya walau lelumut seinci demi seinci menyelimutinya

hemm...

kutengadah bertaburkan lintang kemukus, lintang barat dan lelintang lain membuat gugusan
; mana bulan?

hemm...
rembulan diam!

Di pelataran ini yang dulu kita pernah bercengkrama bersenda gurau, merindu...
dia menggigil kedinginan
dia merintih
dia sempat menangis
dia sempat putus asa
dia sempat gundah gulana

hemm
wahai pelataranku
relakan mereka memadu kasih
biarkanlah merekamereka berlari mengejar bintang gemintangnya
masih ada aku yang menyapumu menyapamu disaat dedaun membanjiri permukaanmu

lihat!
lihatlah mereka...
ternyata mereka sama sepertimu, merindu...
pada tembikar usang di alas tikar rapuh
pada sepiring jadah dan uli-ulian yang lengketkan kerongkongan
pada serbuk bunga mawar jingga yang selalu menyembul di rona hatiku

hemm
rembulan diam
suasana lama kembali merona ;
sungguh
sakit rasanya

Rembulan diam...
di pelataran ini kucoba melepas lara dan biarkan angin menisik reresik sukma

harapku tersampaikan
dimana bening embun malam membasuh sekujur raga yang terlanjur dalam mencintanya

rembulan diam
pelataran kembali menghunjam
sepi
sunyi
dingin malam menghantar rerindu dendam

...
Ponco wae
Tangerang, 30 September 2009-10;24

lolongan anjing gigolo

lolongan anjing gigolo
Inspirasi ; puisi karya Resa Pundarika 'Fire of Hope'

disini
di bawah kolong jembatan layang ada kali jodo
; matikan lilinmu, cukuplah kumeraba malammu

disini
di bawah ketiak langit merah saga ada kramat tunggak
; matikan irama musikmu, biarkan aku yang menari di kelopak ranummu

disini
di antara kepulan asap dan gincu memudar ada taman lawang
; kau gorok aku dengan lidahmu

dan...
disana di redup lampu sentir berwarni-warni dengan irama genderang setan bertalutalu, ternyata ada hentakan kakikaki meregang tegang
kelambu terkuak
tanjakan telah dilalui...
tertuntaskan

tak ada lagi pilihan lain
selain ikuti arus hingga ke pengasingan terakhirmu ;
ku
bu
ran

...
Ponco Wae
Tangerang, 30 September 2009-13.28

Sajak Hujan bersambut badai

Sajak Hujan bersambut badai

tak mungkin kau mampu genapkan hitungan
tak mungkin kau mampu melukis awan gemawan
tak mungkin kau mampu mengeja kahanan
sesering ini kau berkutat dalam lumpur kemunafikan
hingga tandatanda yang sengaja Ku-turunkan dari gelombang amarah justru kau gunakan tuk mengkambing hitamkan-Ku

sajak badai yang mengalun merdu mengiringi gelombang setinggi gunung anakkan menarinari di atas peraduanmu
: Aku suka... yang mati biar mati sajalah, yang sengsara biar sengsaralah
siapa tahu dengan cara-Ku menyapa seperti ini kamu.... kamu.... kamu dan kamu-kamu ini tahu,
..... inilah sebagian dari cara-Ku menegurmu

sajak badai dalam hujan
mampukah menguak nadirmu tuk berangkul berjibaku dengan egomu yang memburu?

; tak mungkin kau genapkan hitungan-Ku
satu persatu tanggal
satu persatu hanyut
tak perlu lagi sesal bila otakmu bebal

seandainya itu aku begini... aku begitu ; ucapmu

; apa peduli-Ku?

...
Poncowae Lou
Tangerang, 3 Oktober 2009 barusan 11;14

Parikan jenaka : GEMBLUNG KARTOLO

Parikan jenaka : GEMBLUNG KARTOLO
Kolaborasi ; Arif Gumantia dan Pecicilan ponco

Dek wingi aku tuku lotre
ongkone manteb nol ga nol ga nol je
kartolo iki kumat gemblunge
numpak dokar eee ceblok benggole

wakakakkkk

lanjut kang

Arif Gumantia ;

ipit-ipit genine merang
kesrimpet taline kutang
akeh sing bingung sandang papan
barang sing nylepit kok regane larang

hahahhahahhah

dodolan upo kok ning ratan
dagangan rusak ke injek tronton
duasar blai kang arif ki tenana
sing nylepit ki rak entuk ditonton

wakakakakkkkk
lanjut Kang Arif


duasar markesot si gemblung kartolo
gowal gawel rak nganggo opo opo
suwe di taksir kok ora kroso
opo terpaksa nunggu kon dadi rondo?

wakakakkkkkkkk

Arif Gumantia ;

dodolan bolah neng ngisore gapuro
akeh maceme sing laris werno ireng
jarene sekolah neng monconegoro
tibake tekah omah lha kok meteng

hahhahahhahahha

wakakakakkkkkk

wedus gembel piaraane mbah marijan
dielus elus lakok kedut kedut
perasaanku deweke ijik perawan
jebule irunge wae sing gawe kepencut

wakakakkkkkk

Arif Gumantia ;

yu painem nggawe jadah bakar
bentuke bantat rodok jemek
awan-awan kloso digelar
mripate merem ngisore melek

hahhahhaha

wakakakkkk

painem kroso wetenge luwe
jadah di untal untune ketelen
dasar mas arif sak senenge dewe
rondone uwong dilarang balen

wakakakkkkk

...
Arif Gumantia-Ponco Wae
Madiun - tangerang ; 06 Oktober 2009

*) Terjemahan BEBAS SEBEBAS BEBASNYA ;
hehe

kemarin aku beli lotre
angkanya manteb nol tiga nol tiga nol je
kartolo ini kumat gilanye
naik dokar jatuh uang logamnye

wekekekkkkk (yang ini aku tidak bisa menterjemahkannya wakakakakkkk)

bergerak-gerak apinya merang
keserimpet tali kutang
banyak yang bingung cari pekerjaan
barang yang njepita ternyata harganya mahal

wakakakakakkkk (sama... aku tidak bisa menterjemahkannya wakakakakkkk)

jualan nasi kok di tengah jalan
dagangan hancur diinjak truk tronton
dasar kuarang asem kang arif ini
yang njepit-njepit tidak boleh ditonton

lanjut kang arif

duasar markesot si gemblung kartolo
gowal gawel tidak pakai celana
sudah lama ditaksir kok tidak merasa
apakah harus menunggunya jadi janda

wakakakakakakakkkk ( artinya: mboh ra weruuh wakakakakkkk)

jualan balon di bawah gapura
bermacam macam yang laku hanya yang hitam
katanya sekolah ke mancanegara
pulangpulang ternyata sudah hamil duluan

wakakakakkkkk (artinya ; apaan tu! wakakakakkkk)

wedus gembel piaraane mbah marijan
dielus elus lakok kedut kedut
perasaanku si dia masih perawan perawan
ternyata hidungnya yang bikin kepencut

yu painem membuat j jadah bakar
bentuknya bantat agak lengket
siang-siang tikat digelar
matanya terpejam yang bawah melek

hahhahhaha

wakakakkkk

painem merasa perutnya lapar
jadah didimakan giginya ikut ketelan
dasar mas arif sesuka hatinya sendiri
janda orang dilarang rujukan

wakakakkkkk


...
Arif'Gemblung'Gumantia dan Ponco'Pecicilan'Wae

Cerita pecicilan ; SEMOGA BUKAN KAMU SOB!

Cerita pecicilan ; SEMOGA BUKAN KAMU SOB!

Ini cerita yang akan aku sampaikan bukanlah kelanjutan dari cerita mayapadaku yang berjudul 'Hanya Allah solusinya' tapi ini sekedar cara atau alat bagiku untuk mengendurkan urat sarafku saja, yang mana beberapa hari menunggu orang opname tentunya memerlukan badan yang prima bukan? Maka perlulah kita membuka lebih lebar jaring imajinasi agar banyak kita petik sesuatu yang bermanfaat bagi kita khususnya dan Insyaallah bermanfaat bagi pembaca.
Bagiku disetiap tempat akan mendatangkan cerita tersendiri yang dapat kita angkat dalam tulisan. Tinggal kita maunya mau dibentuk apa inspirasi itu terserah rasa kita.

Aku rasa semua orang pernah membesuk orang opname bukan? Apa yang dapat sobat petik disetiap kejadian yang kita lihat di rumah sakit tersebut oleh mata hati kita?
Menurut aku, disaat kita memasuki dan melihat bahkan bersentuhan langsung dengan pasien, akan menimbulkan kedekatan kita pada-Nya.
Ternyata sehat itu mahal sobat!... maka hargailah hidupmu dengan cara menjaga kesehatanmu.

Sungguh sobat!... cerita yang akan aku sampaikan ini sebenarnya baru akan aku mulai sob!, maka anggaplah tulisan di atas sebagai pembukaan yang bukan basa-basi.

Cerita aku mulai dari waktu aku dan istriku menunggu kakak iparku di UGD rumah sakit Mayapada ya sob?

Saat aku melihat istriku begitu tegang dan sedih bahkan menangis melihat kondisi kakaknya sangat parah, Aku sebagai suami yang baik tentulah berniat menghibur dan meredamkan kedukaan hati istriku. Aku berusaha memecahkan permbicaraan dengan merubah pribadiku seakan seorang alim ulama yang dapat menegarkan hati umatnya.
Ternyata langkahku ini dengan bahasa agamis yang mudah dimengerti lelembut hehe.. membuat hati istriku perlahan-lahan tenang.
Setelah suasana dapat aku kendalikan barulah penyakit pecicilanku dapatnya mendulum senyum di bibir istriku bahkan sempat istriku dapat tertawa. Waduh kok aneh ya aku? wekekekekkkk
Aku sedikit tekankan ke istriku bahwa disetiap kejadian pastilah ada suatu hikhmah yang dapat kita petik.

Kami berdua menunggu di ruang tunggu UGD dimana kesibukan orang yang lalu lalang sungguh lumayan menarik untuk diambil dan aku bingkai dengan baju canda. hahaha ternyata istriku semakin tertawa.

"Kenapa cewek yang baru lewat jalannya sedikit ngangkang ma?" bisikku ke istriku yang akhirnya ikut melihat ke cewek cantik yang kumaksud yang tubuhnya langsing dibalut celana panjang agak ketat memasuki lorong.

"Memangnya kenapa pa?"

"Dia jalan begitu kerna dia merasa kurang nyaman dengan pembalut yang dikenakan" jawabku pelan, istriku tersenyum sambil mencubit pahaku. wakakakakkkk

Memang asyik ya membaca kelemahan orang? hehe tapi jangan menjadikan ucapan kita ini semakin mengarah ke pelecehan lho!
untung saja kejadian ini tanggal 20 agustus, puasa belum masuk wakakakakkk
Insyaallah apa yang aku candakan ke istriku, di mata Allah bukan suatu perbuatan tercela ya sobat? wekekekkkk... cari teman tuk menyelamatkan diri nih wakakkkkkk

Setelah bercanda sejenak, kami kembali ke baju serius hingga kakak iparku masuk ke ruang rawat di kamar isolasi nomor 1013. Tidak ada canda yang aku tampilkan disini selain keseriusanku dalam mengurusnya. Dimulai ngurus UGD hingga administrasi bahkan sampai menunggunya disetiap malam. Yang jelas justru sikapku ini kalau sobat-sobatku semua melihatku pastilah gayaku yang culun ini yang pantas sobat ganti menertawakan aku wakakakakakkk
jadi impaskan? wakakakkkkk

Sekarang kakak iparku mulai rawat jalan, tentulah aku mulai hari ini dapat sedikit memiliki hari-hariku yang selama ini sempat tersita. Tapi tetap saja hikhmah dari kejadian ini mampu aku petik. salah satunya aku sempat membuat dan memposting dua kumpulan sajakku bukan?

Ruang isolasi 1013 adalah ruang yang disekat menjadi 3 ruang rawat, 1 kamar mandi dan sedikit gudang perawat untuk menaruh peralatan medisnya. Ruang ini walau termasuk ruang klas III tapi ACnya bagai AC ruangVVIP, bagaimana tidak... lha dari pagi ketemu pagi ruangan tetap dingin sekali. Boleh dibilang ke arah titik beku.
Aku sebenarnya tidak suka dengan ruang berAC seperti ini. Saat bicara saja, uap keluar dari mulutku... layaknya di kutub utara saja ha ha ha.
Jadi mengingatkan aku waktu aku naik gunung gandul yang tak bersalju eee salah ya? wekekkkk
Selidik punya selidik ternyata alat pengaturnya yang tidak berfungsi hehe terlanjur GR aku.

Ruang 1013 B adalah dimana kakak iparku Surati di rawat inap, sedang di ruang A hampir tiap hari silih berganti pasien yang dirawat disitu. Ada yang masuk ruang A paginya lha siangnya sudah pulang. Ada yang masuk malam... paginya sudah mati. Namanya saja ruang isolasi, jelas yang masuk di ruang ini sangat berbeda permasalahannya dengan di ruang rawat inap yang lain.
Aku sebagai pengamat nikmat Allah tentulah semakin merasa perlu bebenah diri juga dengan iman yang kadang naik terkadang pula turun drastis.

Ruang 1013 C akhirnya jadi celah untuk aku mengamati pasien serta berkenalan dengan yang menunggunya, yang pastilah keluarga terdekatnya atau suaminya nih.
Dalam berbicara dengan orang ini ternyata aku perlu punya jiwa yang sabar dan mata yang terkadang perlu dipelototkan, sedang bibirku terkadang ikut mengikuti mimiknya yang sedikit lucu. tapi aku tetap sopan tak tak ingin menyakiti hatinya. Kerna hanya dengan dia saja aku harus mengisi hari-hariku dalam mengusir dinginnya malam serta cerahnya pagi. Sedang dengan kakak iparku tentulah aku lebih serius dalam berbicara agar beliau semakin kuat menghadapi cobaan yang berupa penyakit yang harus beliau rasakan selama ini.

Akhirnya aku tahu kalau lelaki yang aku ajak bicara ini adalah suaminya pasien ruang 1013 C adalah disaat pagi menjelang sore ini ada kejadian dimana kuasa Allah berhasil menunjukan kebesaran-Nya di depan mataku.
kronologisnya seperti ini ;
Saat aku balik ke ruang sehabis membeli koran pagi di lantai bawah, aku dikejutkan suara perempuan yang terkunci di kamar mandi. Aku sempat kaget, kegaduhan ini tidak hanya terjadi di kamar mandi saja, tapi juga terjadi di kamar 1013 C yang pintu slorokannya ditutup rapat dari dalam.
Aku yang sempat lama tertegun melihat kegaduhan ini hanya bisa menoleh ke kiri ke arah suara perempuan serta ke kanan ke arah suara laki-laki yang aku kenal sepertinya sedang diajak bicara sama tim medis.
Tidak begitu lama ada beberapa suster ikut masuk ruang dengan cara mendorong tubuhku yang berdiri di depan pintu untuk bergeser.
Ada satu suster yang sempat menegurku ; "Bagaimana sih pak!.. ada orang minta tolong terkunci di kamar mandi kok hanya bengong begini sih"

Suster tersebut akhirnya membuka pintu kamar mandi : "Lho ibu ya yang terkunci di kamar mandi?... memangnya bapak dimana bu?... lha yang gaduh di kamar ibu siapa bu?"

: Itulah sus!... maksudku itu siapa... kenapa suster datang-datang ngegrundel ke aku sih, umpatku dalam hati.

Kubiarkan suster judes itu menuntun ibu pasien kamar 1013 C ke arah kamarnya, kulihat pintu kamarnya mulai terbuka.
Aku mulai melangkah ke kursi yang ada di sudut ruang, untuk merampungkan koran yang memang belum sempat aku baca. Saat pantatku akan aku taruh ke kursi, aku dikejutkan suara ibu itu memanggil nama suaminya.

"Suami saya kena apa sus?... mengapa tempat tidurku ditiduri suamiku sus?... kok suamiku tidak bergerak sus?... ada apa ini sus?"

Aku yang mendengar suara jeritan dan tangisan seperti itu, memaksa aku lari nimbrung memasuki kamarnya. Dan... memang benar sob!... suaminya sedang tidur lelap... tubuh dan tangannya digoyang-goyang tetap tidak bergerak. Hampir 10 menit reaksinya seperti itu
Ada dua dokter yang mulai memasuki ruang dengan tergopoh-gopoh. Sedang ada dua suster yang mulai memasang alat kejut jantung segala.
Disaat alat kejut akan disentuhkan dadanya yang terbuka, bapak tersebut yang ternyata Pecicilan Ponco bangun terduduk.

"Ada apa dok?" tanya Pecicilan Ponco bingung, dokter dan suster serta aku yang melihat kejadian seperti ini dibuat kaget dan takut.

"Detak jantung bapak tadi sempat berhenti!" ucap dokter yang namanya aku tidak kenal mulai berani bicara, "sebenarnya bapak tadi tertidur atau bagaimana?"

Bapak yang bernama lengkap Pecicilan Ponco mulai bercerita dengan sangat lancar, sampai-sampai istrinya yang sakit dan di opname beberapa hari di rumah sakit ini hanya bisa berucap "Alhamdulillah... Subhanallahu... Allahu Akbar... beberapa kali"

Aku yang sejak tadi berdiri di belakang ibu Ponco hanya bisa menjawab pendek saja "Amin Yaa Allah... Amin Yaa Allah.." lafal ini aku ucapkan setiap ibu Ponco Berdzikir dengan linangan air mata.
mengapa aku berucap seperti itu?
Kerna aku yang kenal lebih dari seminggu ini mengetahui kondisi fisik pan Ponco di setiap kami ngobrol.

Sikap kami berdua ini memancing dokter dan suster-suster memandang kami berdua.

"Kulihat ibu semakin sehat ya?... lalu apa yang membuat ibu sangat mensyukuri peristiwa yang aneh yang menimpa suami ibu tadi?" tanya suster Mariam Tonggos dengan ramahnya sambil mengelus-elus pundak bu Ponco.

"Ternyata apa yang menimpa suami saya tadi adalah inginnya Allah menunjukan kebesaran-Nya. Apalagi bulan ini bulan Ramadhan bulan ibadah yang penuh berkah"

"Ya ibu! semua orang sudah tahu itu, selain itu apa yang ibu rasakan sekarang?" tanya dokter Emi dengan ramah.

"Saya sekarang sehat dok dan sus!... selain itu Allah juga telah menyembuhkan penyakit suami saya"

"Emangnya suami ibu sakit apa?" tanya suster Mariam Tonggos penasaran.

"Gagap yang akut Sus!"

"Ooo" jawab mereka serentak. Entah huruf "O" yang panjang ini berarti takjub atau meremehkan orang, aku tidak tahu.

"Sekecil apapun nikmat Allah, perlu selalu kita syukuri Sus!" ucapku pendek lalu menjabat tangan ibu Ponco dan menjabat erat-erat tangan pak Ponco yang sekarang sembuh dari penyakit gagapnya yang membuat selama hidupnya rendah diri atau minder.

Semua yang hadir di ruang 1013 C mengaminin ucapanku.
Ternyata kuasa Allah meliputi alam semesta dan seisinya pantaslah selalu kita syukuri nikmat-Nya.

Amin

...
Ponco Wae
Tetangga Kampung gunung, 29 Agustus 2009-12:35

SAUR ISENG

SAUR ISENG

jalan panjang terang lengang jam dua kelewat malam
ujung komplek jalan tembus warung tegal cari saur menyambut imzak nanti
sebungkus nasi berlauk kuah ayam berpauk ikan tongkol habis dipanasi, aku ajak berlari
dikejar bayang...
ternyata takut bukan bualan

setengah jam kemudian sampailah aku di ruang rawat
pasien sedang sekarat tidur terlelap
bungkusan kubuka kedinginan...
aduh sobat!
nasi dan lauk pauk sedang beradu mulut
aku bilang padanya ; sabar-sabar orang sabar disayang Tuhan

; glek!.. glek!.. glek
air teh manis hangat-hangat taitokek kutelan
di akhir suapan ucapkan hamdallah ; Alhamdulillah

imzak akhirnya datang
kuterlentang kekenyangan

saat dengkur berubah wujud jadi suster cantik yang pipinya berlesung pipit
menyapaku dengan lembut
; pak!.. pak! bangun ya? hari sudah siang, waktunya pasien di waslap

kapan giliran saya sus?

; giliran bapak nanti ya?... bukan di waslap tapi mandi jenasah. mau pak?

he he

...
Ponco Wae
mayapada hospital, 26 agustus 2009-22;14

sajak-sajak Poncowae Lou ; Pelikan

sajak-sajak Poncowae Lou ; Pelikan

Daratan landai

sebelum kentongan tandabaya bunyi...
surauku keburu rubuh

tak ada isak

...
Cipondoh, 8 September 2009-5:03 sore

Saat jabal menggigil

hamba tak berani berudzon pada-Mu Yaa Allah...
yang pantas hamba lakukan saat ini menyisir dosa dan mengurai sesal dengan menyebut asma-Mu

...
Cipondoh, 8 September 2009 - 5;11 sore


Daging glonggongan


; sobat!... tega nian kamu?
ucapku lirih penuh sedih

; bagaimana kalau aku yang memenuhi perutmu dengan berkibik-kibik air?

kutahu jawabmu pasti ; tidak!

; lain kali pakailah otakmu sebelum bertindak ya?

...
Cipondoh, 8 September 2009 - 5;18 sore


Kipas-kipas

; pandai nian kau bilang ambil hikmahnya

; pernahkah kau berpikir tuk bertukar posisi?

aku yakin kau juga akan merintih
dimana tenda penampungan bagai pepesan ikan teri
selimut malam adanya embun lereng yang tak bersahabat
sedang ulat-ulat kelaparan kian melata di perut yang kering kerontang

rasa ibamu sekedar seremonial belaka

...
Cipondoh, 8 September 2009 - 5;29 sore


Buka puasa sore ini


sore ini aku akan berbuka puasa
dengan menu iga bencana tanah jawa dan minumnya darah nestapa

...
Cipondoh, 8 September 2009 - 5;33

300 ORANG TERTIMBUN DI TIGO

300 ORANG TERTIMBUN DI TIGO
(Surat terbuka untuk Allah)
U/ sobatku Sandi Lekas dan Korban bencana Padang Pariaman

terhenyakku...
sukmaku melayang tuk menghantar lara menyayat dari lembah Gunung Tigo yang meratap

: apalagi yang hendak dibawa pergi Yaa Allah... selain isak yang tak lagi meneteskan airmata?

300 bukanlah angka yang sedikit, sedang jemari tangan kami berbalik arah menikung menghitung tak akan henti bergetar

Mungkin disinilah aku harus merangkup pilu berkepanjangan
menetaskan kegundahan yang bercampur didihan nestapa
sungguh Yaa Allah!... aku tak berniat menghujat-Mu
seberapa nikmat-Mu selama ini ternyata sering kami anggap itu memang sudah kewajiban-Mu saja

Yaa Allah
kalau kami dianggap anak-anak yang menginjak dewasa, maka kami-kami inilah yang mengeja bengal menentang arah yang sudah jelas terpampang di jidat kami
maka ampunilah sikap kami-kami ini

beri kesudahan prahara ini Yaa Allah, walau Engkau telah berfirman bahwa cobaan yang Kau turunkan tak melebihi kemampuan kami
tapi dera-Mu lebih menghunjam di nadir, di jantung, di jalan-jalan yang mulai memburam yang sesungguhnya kerna kebodohan kami-kami sendiri

Yaa Allah
aku paham semua ini pasti kehendak-Mu
maka ampunilah aku yang lancang mengirim surat terbuka ini pada-Mu

Yaa Allah... sebelum dan sesudah surat ini Kau terima, aku ucapkan terima kasih atas perhatian-Mu selama ini padaku dan pada kami-kami ini yang tentunya selalu Kau kasihi

Hormat saya
Hamba-Mu yang belajar mensyukuri nikmat-Mu
Fulan bin Fulan

...
Ponco Wae
Tangerang, 04 Oktober 2009 barusan 10.47 wib

Siapakah yang tak luka?

Siapakah yang tak luka?
Inspirasi puisi karya Samsudin Adlawi 'Sarang'

Di tepian bibir ranjang kuayun-ayun ujungujung jemariku halus teratur... seteratur nyawaku yang perlahan-lahan berlindung di balik ketiak dini
dedaun kering hinggap di kelam mimpi-mimpiku beberapa siang... beberapa malam... beberapa subuhku
hingga aku sempat tak bisa membedakan apakah ini mimpi ataukah nyata

pagi ini aku beburu kijang di belantara lara
di tengah pengaduanku akan nasib kurcaci-kurcaci yang tenggelam dalam ratap
induknya mati
anaknya mati
sanak-sanaknya mati
sungguh
tak terbayang...
tenggelam
di lautan sunyi

sesiang ini deritamu mampu melumat bibirku yang tak henti berdzikir
agar ampun-Nya menyibak dan bersarang di dada... merajut hingga landai pantai

Sungguh Yaa Allah
sematkanlah senyum pengharapan agar secarik kertas yang terkesan buram ini kembali terhiasi celoteh riang anak-anak negri yang melantunkan 'ijo royo-royo negri yang gemah ripah'
seperti dulu Yaa Allah... dikala senandung puji-pujian selalu tertuju pada-Mu
hanya tertuju pada-Mu

...
Ponco Wae
Tangerang, 13 Oktober 2009, 11.24

Marilah bersulang sayang

Marilah bersulang sayang
puisi spontan yang sempat kutulis di album photo Mas Hudan Hidayat

Tepian langit itu merunduk dekati pilar rebahan dangau
dengus kerbau olahan tegalan beringsut cari teduhan sesiang ini menerik semakin meninggi
sedang pelepah nyiur menguning keemasan di timpa cahya

marilah bersulang sayang
lekuk tubuh parasmu memabukan apalagi saat ini palu godamku telah mengacung-acung ingin menghantam

marilah bersulang sayang
tak perlu lagi tuak
tak perlu lagi sloki
tak perlu lagi gincumu yang kemarin sempat menohok tulang kerongkonganku

kutukutu kupret menari bersama kunangkunang di jidatmu
ingin rasanya kujilati separuh wajahmu yang lengket kena pelet asal nylompret kepepet.. pet.. pet

lesung pipitmu mulai memburam sayang... juga hidungmu yang mbangir itu kok makin tenggelam
terlanjur kau lumuri dengan ludah basi tadi malam

marilah bersulang sayang
marilah sayang
jangan buat mataku jalang mulutku garang, tak segan-segan menggumulimu siang dan malam

...
Ponco Wae
Tangerang, 14 Oktober 2009-12.10

Sajak bersulang : Teja Alhabd, Imron'Lifespirit'Tohari, Poncowae Lou

sajak bersulang tiga penyair :
Teja Alhabd, Imron'Lifespirit'Tohari, Poncowae Lou


P E T A K A

1#

Empat penjuru langit menyergap
Gunung-gunung runtuh menyukat bencana
pekik pilu menyayat rahang jiwa
Bukit bukit gemuruh menghempaskan diri
tak peduli
kau atau aku berkubur dalam air mata.

Tiga puluh empat sujudku berzikir
sebanyak baris, sebanyak titik
sebanyak sabda melepas busur petaka dari darah busuk.


2#

adatah ada kau dengar dengan telinga hati
retak tanah terbelah ribuan liter airmata, atau bahkan
jutaan liter airmata menenggelamkan kesombongan insan
bersama detak nadi, denyut tersendat
bertompang pada selang-selang ketidak berdayaan
jerit hiba bagai dentum meriam

Oh!

yaa Khalikah
yaa Khalikul alam

masihtah patut menyombongkan diri dihadapanMu?
dunia kian tua
ajal mengintip
mengajak bersetubuh!

harustah terbekap lena
sedang kerling indah kekasih duniawi, adanya fana …


3#

Kusibakan reruntuh hati yang melena dalam diam
gunung-gunung batu mencabikcabik sebidang tanah harapan
aku hanya sempat mengentaskan ketakutanku sendiri
sedang jerit berkepanjangan melepuh di urat-urat nadi
entah
kesekian ini
aku terpojok
terhimpit
tertikam belatiku sendiri
cerai burai rerotan mengikat rasa

Yaa Allah
Yaa Rabbi

ijinkan aku mencium sejenak sejengkal lelakuku yang mulai matisuri
agar saat hentakan terakhir tiba...
aku masih bisa tersenyum

__________________________
_______________________________________
14 october 2009, Sajak bersulang : Teja Alhabd, Imron'Lifespirit'Tohari, Poncowae Lou
--------------------

Sajak- sajak Poncowae Lou ; OH

Sajak- sajak Poncowae Lou ; OH

Oh labuhanku

entah harus bilang apa
semua riuh telah kusampul dalam lara

oh
labuhanku
oh

...
Tangerang, 21 Oktober 2009


Oh seruni

di taman itu
seruni mengkuncupkan ronanya
saat bayu sibakan dahan

daunnya luluh lantak

...
Tangerang, 21 oktober 2009-11;27

Oh ilalang


di alas jelaga tumbuh ilalang
dangau tak bertuan mati meradang

dari kejauhan sayupsayup lebah liar menyebarang lautan
menjerit
merintih

ilalang sedih
tak ada lagi nyanyian mengiringi lelapnya disaat kemarau sebentar lagi tiba

oh ilalang...
biarkan dia pergi
saat bulubulu halusnya tumbuh kuat
niscaya dia kembali seraya mencium keningmu lembut sekali

percayalah

...
Tangerang, 21 Oktober 2009-11;35

Oh hutan

saat pesonamu tebarkan tanya
; dimanakah huma berada?

...
Tangerang, 21 Oktober 2009-11;44

Senyap

Senyap

ternyata masih ada detak yang berdentam di sela daun tales

...
Poncowae Lou
Tangerang, 22 Oktober 2009-15;54

Sajak-sajak jadul Poncowae Lou

Sajak-sajak jadul Poncowae Lou;
Teruntuk ibunya anakku Bagas Mario W"

Anyam

selembut embun
sedini ini
menyelinap di sela rumput dan daundaun yang mulai menghijau

senjapun berganti malam
kuanyam harap di titik buram yang mulai nampak menggairahkan hingga lahirlah benih kejujuran

; hanya kamu yang mampu mengerti

...
Taman burung TMII, 31 Desember 1991

Burung bulu merah

entah siapa
atau memang harus bisa
melihat
kepakkepak sayap yang tegar kuat menghantam angin pesisir yang panas?

terkesiap
ah...
selena membawa fajar

...
Taman burung TMII, 31 Desember 1991

Aku dengar suaramu

dari balik jendela
riap keriap cemara lembut disapa angin senja,
bianglala membelah
antara hidup dan mimpi

kutermenung...
kenapa langit mendung masih saja menggumpal di wajahmu?

...
Taman burung TMII, 31 Desember 1991

Tahun kesatu
- kado istimewaku untuk istriku yang satu di tahun baru 1992

kuberi lampion sebongkah emas murni
biar ruang ini jadi indah kemilau

aku dendang seruni dengan petikpetik kecapi
biar ruang ini terhadir bidadara tersenyum menyejukan mata

aku tancapkan tiang-tiang penyangga antara hari ini dan esok lusa
dengan suatu kepastian
ya...
lahirlah suatu arti kehidupan

...
Pantai carita, 1 Januari 1992

Maka

kamu kan tetap menemukanku yang selalu merengkuhmu

...
Ciledug-Tangerang, 24 juni 1992

Cerita tentang musang yang tertangkap

kutangkap dimatamu
bening diburu
..........
takutmu lambang kasih sayang
bibirmu bergetar tak bergairah

; kasihan ayah!... anaknya kecil-kecil tiada lagi semang

hemm

Tenanglah kamu anakku
mimpi-mimpimu telah menghilang kerna pagi telah menjelang
ciumlah pipi ibu...ciumlah pipi ayah, anakku
selamatlah hidupmu
selamatlah duniamu

....
Ciledug-Tangerang, 7 Februari 1993

catt ; sajak "cerita tentang musang yang tertangkap", aku tulis disaat istriku sedang mengandung anakku Bagas Mario Wibisono yang lahir tanggal 18 Juli 1993.

oh ilalang - poncowae Lou

oh ilalang - poncowae Lou

AKU versi pecicilan



AKU
versi Pecicilan

aku ini binatang melata
melihat lantai langsung pinginnya sanggama
bagaimana tidak tubuhku kerempeng
tidur tengkurap hidungku gepeng

kalau sudah sampai tempatku
tolong aku wahai bang sopir
bangunkan aku dari buaian

wakakakkkkkk

; capek deh, saut bang sopir kegirangan

...
Pecicilan Ponco

Puisi parodi ; Cikarang - Ciawi



Puisi parodi ; Cikarang - Ciawi
Inspirasi ; puisi karya chairil anwar 'Kerawang-bekasi'

Kami yang sampai kini betah ngendon antara Cikarang dan ciawi
tidak bisa berucap "Modol" dan bermanismanis kata lagi.
siapa yang peduli tanpa basabasi menguak mimpi-mimpi kami,
yang berteduh di kelopak-kelopak hati yang teriris sembilu dan belati ?

Kami ngedumel ma' mel... padamu dalam hiruk di siang ini
saat rasa mual mengimpit batu dan perut meringis menahan kentut
Kami lapar sangat. Yang tiga hari empat malam belum terisi
tahu!.... tahukah kamu, Tuan?

Kami sudah mencoba menanak batu meminum limbah
Tapi tak ada yang memelas, memandang hidup kami di belantara rimba ini

Kami hanyalah rakyat jelata
tapi kami adalah milik negara
yang seharusnya kau entaskan kami sesuai butir-butir pancasila

apakah jiwajiwa kami ini harus terlentang dan kau tak berbuat apa-apa?
ataukah keberadaan kami tak berarti apa-apa?
Kami bingung, kami tidak lagi bisa ngedumel padamu
Kaulah sang penguasa, bukankah begitu tuan?

Kami ngedumel padamu di siang terik ini
Jika ada ucapku kau dengar!.... niscaya kau mengerti, apa arti perhatianmu pada kami

jangan!... jangan singkirkan kami
jangan!... jangan perhinakan keberadaan kami
kerna kami juga anak negri
kerna kami juga ingin mengabdi
kerna kami juga cinta pada negri ini

Kami adalah sel-sel darahmu
jangan biarkan kami membusuk
tanpa berusaha terlepas dari kebodohan kami

biar... biarkanlah kami tetap disini
mengendus puntung dan bungkus-bungkus basi
kerna kami tak mau mati suri.. kami betah di sini
antara Cikarang dan Ciawi

....
Poncowae Lou
Tangerang, 30 Oktober 2009-14;21
03 November 2009 jam 15:21


Sajak berdialek Muara Enim, Sumsel ; RIBANG KEMAMBANG
*) Puisi ini aku buat tuk sobatku Jejak Sandi, Palembang

dikde gala' aku mandang langit
betabo benih peci'an mataghi
meluas jalan naek dan tughun
sepotong do'a aku dendangkan

dek kusangke di balik gunung
mengalun meghdu sayup dik ke sampai
antu banyu menghitung untung
dimane rimbe kian digunduli

inilah ritenye jaman baholak
bekembang nian niage di tepi sungai musi
dimane jeme berombong rukun
mengatur sentosa palembang darussalam

endok ay dimane ini mak
sungai lematang meluber genangi huma kite
ape kite peghlu tinggal di pucuk guntur
sedang hidup meraut kenyataan?

; entah


...
Transilte boso planet yo?
Juru bahasa Muara Enim : Jejak Sandi, Palembang
hehe

RIBANG KEMAMBANG
(Senang sekali)

tak enggan aku memandang langit
bertabur benih kecipak surya
membentang jalan naik dan turun
sepenggal do'a aku dendangkan

tak kusangka di balik gunung
mengalun merdu sayup tak sampai
penebang liar menghitung untung
dimana rimba kian digunduli

inilah ceritanya jaman dahulu
berkembang pesat perniagaan tepi sungai musi
dimana rakyat berduyun rukun
membina sentosa palembang darussalam

aduh emak gimana ini
sungai lematang meluap banjiri rumah kami
apakah perlu kami tinggal di puncak petir
sedang hidup meraut kenyataan?

; entah


...
Poncowae Lou
Tangerang, 3 November 2009-15;21

Sajak Poncowae Lou : Selasih

09 November 2009 jam 10:30 | Sunting Catatan | Hapus

Sumber gambar ; http://www.johnwilliamwaterhouse.com/assets/images/content/waterhouse/hi/waterhouse71.jpg

Sajak Poncowae Lou : Selasih

matahariku kurang padam di pengasingannya antara tembok kusam dan jelaga yang bersawang
sedang selasih menampi harihari sunyinya
yang jatuh satu persatu, kopong... kosong
; syukurlah masih ada satu yang di tampah walau tak membentuk harap

sodong yang gentoyong, ume kita yang tenang
bertudung rindang bebuah mengayom hati.
tak henti-henti selasih menumbuk katakata dengan lesung beriiring gending pangkur jenggleng
; ada apa dengan hati... rasa ngilu menghimpit cerna nafasku?

aku yang saat itu jadi angin, hanya dapat menyentuh daun telingamu yang njepiping
; mengapa kau diam selasih?... apa tak kau dengar bisikku?

pagi ini aku jadi domba yang kau kupas bulu-bulu halusku dengan lidahmu
sesiang nanti aku jadi burung merak yang kau cabuti sayapku dengan bibir indahmu
sesore hari aku jadi kerbau yang kau cocok hidungku dengan seribu jarummu

; selasih!... aku lelah

...
Tangerang, 09 Nopember 2009-10;25

Agro

15 November 2009 jam 12:59

Sumber photo ; http://www.langitperempuan.com/wp-content/uploads/2008/07/petani_perempuan.jpg

Agro

I/

badai semalam tadi menyapa lembut bibir pantai
sungguh
sangat lembut sobat,
tapi mampu merebahkan kecongkakan gedunggedung julang berdinding kaca

puting beliung sepagian bersanggama dengan gelombang samudra
sungguh
sangat romantis sobat,
dia mampu mengawinkan rasa takut dan trauma histeri yang berkepanjangan

~~~~~

II/

aku tak merasa menanam
tapi aku merasa membelinya

; Tuhan!, tolong jangan Kau tanyakan kepadaku kapan aku memanennya

~~~~~

III/

petani kini bercocok tanam di ladang orang
saat mati : Gali lubang kuburannya sendiri

~~~~~

IV/

agraris ;
tengkulak berjubah cukong
petani bersarung duka nestapa
aku tertawa berpialang dosa

~~~~~

V/

; negri kita ini ajaib, sobat!
menanam tongkat kayu jadi kebohongan publik

~~~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 15 Nopember 2009-12;06

Silahkan mampir di link kami ini ; http://id-id.facebook.com/pages/Lentera-Komunikasi-Sastra/184466689448

Tanah 1001 kubur

Tanah 1001 kubur
Inspirasi ; berita di Televisi ; Pemakaman raja waingapu

di sumba nusa tenggara timur
ada banyak cerita yang dapat menghantarmu sambil berkuda susuri padang savana
jelajahi tanah 1001 kubur

saat raja mati
saat peti jenazah akan dibenamkan ada tanda-tanda alam ;
langit menghitam
jelaga bersawang
rerumput menunduk
tapak-tapak kaki kian terbenam dalam derasnya air mata

saat raja mati
diamnya raga percikan kharisma...
rakyat membatu
kumparan
hilang
nyali

; tak ada yang abadi

~~~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 16 Nopember 2009
silahkan mampir di link ;
http://www.facebook.com/pages/Lentera-Komunikasi-Sastra/184466689448

Merapu



sumber photo ; http://sumbaisland.com/wp-content/gallery/sumba-photo-2009/sumbaisland_photo2.jpg

Merapu

ternyata Tuhan ada dimana-mana

~~~
Poncowae Lou
Tangerang, 16 Nopember 2009
mampir di link ; http://id-id.facebook.com/pages/Lentera-Komunikasi-Sastra/184466689448

Catt ; Merapu adalah keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa penduduk asli waingapu, sumba, NTT

Kukirim kado untukku di hari matiku sekali ini


Sumber photo ; http://hampirmati.files.wordpress.com/2009/06/merenung.jpg

Kukirim kado untukku di hari matiku sekali ini

; apa yang kuingat dari diriku yang mengecambah di hamparan rawa bolong selain rasa ngilu?

bening kasat mata dengan lelakon kewan seto... kirik ndakik kecemplung luweng
bukankah itu nyata?

sebatas perjalanan yang menggariskan ronarona kepiluan, ternyata ada yang dapat aku tengarahi sebagai jemari yang ingin merengkuh.. mengulum... menjambak dan menghantamkan batu rijang yang tajam ke dadaku

; apakah ini tanda berhentinya nafas disaat kehampaan menjerat?
ah!... aku terdiam

pijar lentera beringsut memudar dari kelopak mataku yang katarak katakata
; siapa lagi yang pantas aku persalahkan?
hemm!...
tentunya
aku

...
Poncowae Lou
Tangerang, 09 Nopember 2009-11;22

Sajak-sajak Poncowae Lou ; Aroma surga


Sumber lukisan : http://www.indonesiaindonesia.com/f/26490-top-nih-lukisan/

Sajak-sajak Poncowae Lou ; Aroma surga

Seharusnya

; maaf tuan!... jangan berkata seharusnya di forum seperti ini

? (dibaca ; Tuing.. tring.. ting.. ting)

; Seandainya saja tuan!, ucapku perlahan-lahan di balik kerah jas bulumu.
dengan berandai-andai, tuan dapat berkata suka-suka

~~~~~

Jum'at 11:22

; Tuhan!... fulan bin fulan alpa

~~~~~

Giliran padam

kami mati tuan, lebih kali delapan jam
sedang air zam-zam tak mengucur dari padasan

; kapan tuan mati?

tak ada ritual mandi jenasahmu
tak ada seremoni seteguk anggur merahmu

; kapan tuan mati?
pastikan giliranmu kau masih ada disitu

~~~~~

Cerita basi pria pendosa dan janda tua

; aku tahu lho penismu hanya satu berbuih anyir beraroma surga

mau?, bisik pria pendosa yang mendulum ludah kering, menghantam jakunnya yang naik turun

; ah!... bukan aku yang ngomong lho!

he he, ucap pria pendosa itu yang ngeloyor pergi menowel pantat janda tua yang menggerinjal girang

dasar semprul!, batinku yang sempat melihat adegan tak senonoh di siang yang oh.. oh teriknya

lupakan... lupakan... lupakan itu Yaa Allah, bisikku membelai sorban yang mulai pucat pasi


hemm...
Jum'at yang memilukan

~~~~~

Lihat dari dekat lihat dari jauh

; ada yang sama saat kulihat wajahmu dari dekat maupun dari jauh, sayang

apa sayangku?, bisikmu manja sambil merebahkan tubuhmu di dadaku yang kerempeng

; ternyata kau dilihat dari jauh dekat tetap tiga ribu lima ratus

~~~~~
Poncowae Lou
Tangerang, Jum'at 13 Nopember 2009
silahkan mampir di link ini ; http://id-id.facebook.com/pages/Lentera-Komunikasi-Sastra/184466689448

Apakah definisi Puisi?

Apakah definisi Puisi?
Penulis ; Poncowae Lou

hehe

Pecicilan Poncowae Lou datang lagi dan langsung mengundang sobat-sobat semua untuk menggerutu dan ngomelin tulisan ini ya?
wakakakkkkkk

rusuh ra' rusuh yo kudu rusuh to?
wakakakkkkkk

Bisa aku mulai sob?

Tulisan ini aku mulai dari komentar sobat kita Handoko F Zainsam yang mengomentari esaiku yang berjudul "Siapakah yang di balik inisial HH?" :

"Aku menyimak: Pisau.. pisau.. pi sau pi sepisau sepi.. berdarah... kata berdarah.. rasa berdarah.. cinta berdarah tanpanya ia tak mengerti hidup. Darah yang membuat hidup. Namun kenapa darah menjadi sangat menakutkan.

Lanjut Mas Ponco.

Buat temen2: Jujur sampai detik ini pun aku jaga tak penah tahu apa definisi dari puisi. Meski aku menggelutinya di dunia akademisi. Ada ratusan definisi dan semuanya tak pernah lengkap dan mampu menjangkaunya. Hingga profesor yang membimbingku juga stres jika ditanya definisi puisi. Akhir kata; "Mas, ambil aja terserah kamu siapa yang km rujuk". begitu kira-kira ucapannya....

Makanya para sahabatku yang baik hati, definisikan sesui dengan keinginanmu tentang apa itu puisi. jangan terhegemoni oleh siapapun. Termasuk tulisaku ini. Namun bisa menjadi pelajaran dan masukan dari dan oleh siapapun itu. Guru kita adalah hidup, alam, kenyataan, sahabat, saudara, adik, kakak, dan semua-muanya pokoknya. Dan banggalah ketika ada teman yang mengapresiasi. Dialah kritikus yang sebenarnya tanpa kepentingan materi dan kekuasaan. Semuanya atas nama cinta. Salut buat Bang HuHi. Lanjut... khannnnnn....? (!) hehehe

Dari komentar mas Handoko yang santai itulah aku justru tertarik melanjutkan uneg-unegku yang terus terang... hehe (sssssttt... aku kasih tahu ya? aku hanya asal nulis hehe... maklum aku bukan jebolan sastra tapi aku keponakannya Pakde Sastra Mangku Wanitauda ngadek saknalika... kwakakakkk)

Untuk mengupas lebih dalam tentang definisi puisi, maka terlebih dahulu kita mengucapkan Basmallah... Husst ini bukan bercanda lho, tapi memang berjanda wakakakkkk

santai saja ya sob?
Maklum kalau aku terlalu serius, bukanya aku semakin tua dan cepet mati tapi justru aku jadi lebih awet tuanya
wakakakkkk

"Guru kita adalah hidup, alam, kenyataan, sahabat, saudara, adik, kakak, dan semua-muanya pokoknya"
Yak... beeentuul!

Terbanglah selama sobat bisa terbang, tentulah dengan rasa. Disaat kita membaca puisi, sebenarnya kita mulai memasuki wilayah rasa/Intuisi.
Kembali lagi seperti yang di tulis mas Handoko di esainya yang baru, yaitu : "Ketika Puisi sebagai Medium Penyampai"
Disini sobat handoko lebih luas lagi dalam memaknai apa arti puisi dalam pandangan subyektif masing-masing pembacanya.

Lebih lanjut sobat Handoko berkata :

Keindahan memiliki keterkaitan erat dengan emosi estetis dengan “significant form”. Kant menyebutnya “form of purpose” (wujud yang bertujuan). Keindahan yang memiliki tujuan inilah yang sebenarnya akan menjadi hal yang mampu menggerakkan “mind” (pikiran) seseorang. Artinya, mereka bisa melakukan hal-hal yang di luar nalar atau rasio sebagi sideeffect-nya.

Mekanisme ini tercipta lantaran keindahan mampu memengaruhi seseorang. Jika keindahan ini tak memiliki “penggerak”, maka asumsinya seperti kecantikan yang terasing. Hal ini akhirnya menghilangkan kecantikan itu sendiri. Alih-alih mengingatkan kita pada kisah narsisus dalam mitologi Yunani, malah tak ada yang bisa mengetahui keindahan itu selain tersampaikan.

Menggerakkan “mind” atau pikiran memiliki arti beberapa hal, di antaranya (1) menggerakkan imaji untuk menemukan sebuah sensasi rasa, dan (2) menjalankan atau menyetujui terhadap apa yang menjadi esensi dari wacana yang dibangun oleh keindahan itu.

Wooow bukan main sob!

"Menggerakkan “mind” atau pikiran memiliki arti beberapa hal, di antaranya (1) menggerakkan imaji untuk menemukan sebuah sensasi rasa, dan (2) menjalankan atau menyetujui terhadap apa yang menjadi esensi dari wacana yang dibangun oleh keindahan itu"

(1) menggerakkan imaji untuk menemukan sebuah sensasi rasa : Setiap penyair yang mulai menangkap ide atau apalah istilahnya. Biasanya sebelum menulisnya akan melakukan semacam perenungan (walau perenungan itu bisa bersamaan dengan menulis atau bisa di endapkan beberapa saat atau bahkan beberapa hari)
Dalam menggerakan imaji tentulah diperlukan power atau daya dorong yang dapat menguatkan generator di impul rasa sehingga disaat tanda-tanda start dirasa oleh impul tersebut siap, maka pena akan bergerak mengikuti naskah yang sebenarnya sudah dicetak oleh otak.
Lha disinilah aku sering berkata bahwa dalam penulisan suatu karya, baik itu karya sastra maupun karya seni yang lain, pastilah ada keterlibatan Allah didalamnya. Tanpa keterlibatan Allah dalam karya kita maka nonsen bagi kita untuk terkagum-kagum dengan tulisan kita setelah tulisan atau karya itu selesai kita buat.

"Kesuksesan sebuah puisi adalah disaat penyairnya mampu menyampaikan gagasan maupun imajinasinya dengan gambaran-gambaran dan paradigma yang akhirnya di ujung pembacaan puisi oleh penikmatnya, (di hati penikmat) itu tertinggal tanda tanya yang seharusnya pembaca itu sendiri mencari sendiri maknanya. Dan itu sangat mengasikan sekali apabila aku yang seorang penulis puisi dalam memasuki lorong rasa, ekspresi, diksi, rima dan sanjak dari karya penyair lain"

Untuk memaha puisi yang sebenarnya banyak sekali corak dan gayanya, maka diperlukan kemampuan diri. Contohnya yaitu, disaat kita akan berenang sedang kita belum bisa berenang maka terlebih baiknya ya kita belajar renang dulu. Lha kalau kita yang memang sudah merasa bisa berenang sedang lautan yang kita hadapi itu sungguh maha luas dan maha dahsyat... ya tentunya kita memerlukan alat yang memenuhi syarat penyebrangan.
Seperti itulah menurutku dalam memahami suatu puisi.

Apalagi kalau kita mendalami dan membaca karya puisi dengan bait yang panjang. Jelas ada faktor kesulitan.
Menurutku kesulitanya adalah terkadang penyampaian sang penyair itu hanya sebatas permainan kata tanpa ruh, sehingga kalau rasa kita masuk baris per baris atau perkalimat bahkan kita kupas per bait, itu tidak dapat ketemu, kerna ada ujungnya yang menyangkut di bait berikutnya atau terkadang ketemu justru di akhir puisi sebagai klimaknya.

Ini kusertakan karya sobatku Jejak Sandi yang sempat kukupas beberapa minggu yang lalu serta karya sobat Faradina Izdhihary, walau masing-masing hanya satu bait, sebagai contoh saja.

Surat dari Sumatera

"kudengar senandung luka
yang menyayat dari sajakmu
ketika seorang bocah pelanpelan membaca
ada jerit tertinggal sunyI"........................> di bait ini sang penyair seakan mengajak penikmat karyanya membuka buku karya seseorang, dimana di dalam buku atau tulisan orang tersebut bercerita kesedihan, sunyi yang mendalam. bait ini terwakili dengan adanya figur anak kecil serta suasana yang lengang.
Kurasa bait ini penyair cukup berhasil.

Sangat berbeda dengan karya sobat Faradina Izdhihary yang berjudul "Sedetik saja" ;

"Kumohon padamu
sedetik saja
hubungkan simpul hatiku dengan ruhmu
biarkan aku mengenalmu
sedekat kematian
yang menunggu di ujung tenggorokanku"...... kesadaran yang didasari pengetahuan akan ilmu Allah menyebabkan beliau mampu berdzikir di bait-bait puisinya.
Bait ini sangatlah kuat. Walau bait ini berdiri sendiri tanpa ada bait-bait selanjutnya. Kandungan makna di bait ini yang dihantarkannya sudah mampu tersampaikan ke penikmat karyanya.

(2) menjalankan atau menyetujui terhadap apa yang menjadi esensi dari wacana yang dibangun oleh keindahan itu : Keindahan suatu puisi bukan saja didasari oleh indahnya diksi, rima, ekspresi, rasa, metafora, metamorfosa kata dan terkadang bersanjaknya suatu puisi. tapi puisi itu sendiri sebaiknya mampu dipahami penikmat puisi itu sendiri. Walau makna yang ditangkap selalu berbeda dari apa yang sebenarnya disampaikan penyairnya. tapi itulah Indahnya suatu puisi.

Sedang tanda-tanda puisi yang kuat selain yang sudah aku sampaikan diatas, sebenarnya juga haruslah kesan dari puisi itu mampu membekas di otak pembaca. Baik itu puisi mengandung tanda tanya yang harus dipecahkan pembacanya sendiri dengan dimensi masing masing, bahkan juga hentakan yang sangat sangat kencang yang mampu membuat kita berdecak kagum atas olahan kata dan perenungan suatu puisi itu sendiri.
Dan yang jelas lagi, puisi itu mampu dipetik maknanya sesuai kemampuan pembacanya dalam mencerna kandungan isi puisi itu sendiri.

Apakah selera pembaca puisi selalu sama dalam menyukai pola atau gaya puisi?

Aku rasa tidak semua orang mampu memahami suatu puisi yang beraneka gaya ini.
Ada yang bergaya ngerock... ada yang bergaya ngejazz dan ada pula yang bergaya kontemporer

Lha Itulah Eloknya puisi, kebebasan dalam pemaknaan dan kemerdekaan dalam memilih gaya diserahkan kepada kita sendiri.

Anda mau apa?
hehe
terserah anda.

: "Aku lebih suka puisi yang suka-suka aku"
Wakakakakkkkkkk

Jadi definisi puisi menurutku yaitu
"(Ide + Perenungan) : (Imaji x Perbendaharaan kata) - pemadatan kata = Puisi Suka-suka aku"

wekekekkkkk

....
Poncowae Lou
Tangerang, 11 Nopember 2009 ; 10;01
http://id-id.facebook.com/pages/Lentera-Komunikasi-Sastra/184466689448



Biodata Penulis :

Nama Asli : Purnomo Ponco Wibowo

Jl. Terompet Blok AF No.6

Cipondoh-Tangerang

Banten

  1. Menulis Media online ;

    1. Yahoo Answers Indonesia Kategori Persajakan

    2. Kemudian.com

    3. Kapasitor,net

    4. Multiply.com kategori Apresiasi Puisi

  2. Semasa muda (SLA) pernah menulis di beberapa surat kabar Jawa Tengah dan DIY tentang Puisi/persajakan.

  3. Pendiri dan pernah mengelola Sanggar Sastra ‘Srada Giri’ di Kabupaten Wonogiri 1980an.

  4. Pernah mengisi kolom teka teki Silang dan kocok kata di tabloid Citra, tahun 1991 s/d 1993 sebagai pengarang/penulis pertanyaan.

  5. Pernah mengajar secara otodidak bagi anak-anak dan remaja yang gemar di seni Drama, prosa, puisi, musik dan pidato di lingkungan RT/RW 25 Bojong Nangka-Kelapa Dua- Tangerang. Tahun 2003 s/d 2006.

  6. Saat ini sebagai wakil ketua Komunitas sastra “Lentera Komunikasi Sastra” (LEKAS) yang berdiri dari tahun 2007.

  7. Blog ;