Siapakah yang tak luka?
Inspirasi puisi karya Samsudin Adlawi 'Sarang'
Di tepian bibir ranjang kuayun-ayun ujungujung jemariku halus teratur... seteratur nyawaku yang perlahan-lahan berlindung di balik ketiak dini
dedaun kering hinggap di kelam mimpi-mimpiku beberapa siang... beberapa malam... beberapa subuhku
hingga aku sempat tak bisa membedakan apakah ini mimpi ataukah nyata
pagi ini aku beburu kijang di belantara lara
di tengah pengaduanku akan nasib kurcaci-kurcaci yang tenggelam dalam ratap
induknya mati
anaknya mati
sanak-sanaknya mati
sungguh
tak terbayang...
tenggelam
di lautan sunyi
sesiang ini deritamu mampu melumat bibirku yang tak henti berdzikir
agar ampun-Nya menyibak dan bersarang di dada... merajut hingga landai pantai
Sungguh Yaa Allah
sematkanlah senyum pengharapan agar secarik kertas yang terkesan buram ini kembali terhiasi celoteh riang anak-anak negri yang melantunkan 'ijo royo-royo negri yang gemah ripah'
seperti dulu Yaa Allah... dikala senandung puji-pujian selalu tertuju pada-Mu
hanya tertuju pada-Mu
...
Ponco Wae
Tangerang, 13 Oktober 2009, 11.24
19 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar