19 November 2009

Bulan diam

Bulan diam

di pelataran ini yang dulu kita pernah merumput menjumput seserabut bonggolbonggol teki rerumputan
batang sengon meranggas beterbangan kliko-klikonya melepas, tanggalkan diri... menua
di sudut ekor pandangku, berbatang-batang pohon pisang memagari pelataran hingga rerindang cemara menerobos.. menjulang... julang!
jamban tempat kita menggosok daki kekerabatan masih bertengger di tempatnya walau lelumut seinci demi seinci menyelimutinya

hemm...

kutengadah bertaburkan lintang kemukus, lintang barat dan lelintang lain membuat gugusan
; mana bulan?

hemm...
rembulan diam!

Di pelataran ini yang dulu kita pernah bercengkrama bersenda gurau, merindu...
dia menggigil kedinginan
dia merintih
dia sempat menangis
dia sempat putus asa
dia sempat gundah gulana

hemm
wahai pelataranku
relakan mereka memadu kasih
biarkanlah merekamereka berlari mengejar bintang gemintangnya
masih ada aku yang menyapumu menyapamu disaat dedaun membanjiri permukaanmu

lihat!
lihatlah mereka...
ternyata mereka sama sepertimu, merindu...
pada tembikar usang di alas tikar rapuh
pada sepiring jadah dan uli-ulian yang lengketkan kerongkongan
pada serbuk bunga mawar jingga yang selalu menyembul di rona hatiku

hemm
rembulan diam
suasana lama kembali merona ;
sungguh
sakit rasanya

Rembulan diam...
di pelataran ini kucoba melepas lara dan biarkan angin menisik reresik sukma

harapku tersampaikan
dimana bening embun malam membasuh sekujur raga yang terlanjur dalam mencintanya

rembulan diam
pelataran kembali menghunjam
sepi
sunyi
dingin malam menghantar rerindu dendam

...
Ponco wae
Tangerang, 30 September 2009-10;24

Tidak ada komentar:

Posting Komentar