19 November 2009

Ini langkahmu yang kesekian

Ini langkahmu yang kesekian

Ini langkahmu yang kesekian menyeruak keheningan mencoba gumuli malam bagai lacur kau perlakukan setiap lekuk tubuh kesenyapan...
kau jambak
kau cabik
jerit rerintih tertindih tak karuan oleh hasratmu yang tertekan
; dasar Dajal!... jerit embun memuai jadi lendir-lendir didihan

ini langkahmu yang kesekian berpapasan denganku yang menggantung di buritan
aku diam
aku hanya terdiam
sungguh
aku hanya terdiam...
gendewa yang tergenggam dengan busur terpasang tinggal direntang kuyakin kan meluncur deras bak lipatan kilat menancap di kejora bianglala, tak mungkin itu ku lakukan kerna darahmu telah mengental bersublamim kembali encer di ketiak megaku

sulur-sulur mulai mencium bumi bahkan mulai menguliti permukaan bibir landai lembahlembah dan ngarai
disaat gerhana datang nanti, kuyakin sulur-sulur itu telah menjadi batangbatang julang

ini langkahmu yang kesekian tak bosan kumemandang walau lekuk luka lirih menyapa
aku tetap terdiam dan tetap menjaga di sini dimana rentangan waktu sekilas kan berganti dini

...
Poncowae Lou
Tangerang, 24 September 2009 jam 8;49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar