19 November 2009

Apakah definisi Puisi?

Apakah definisi Puisi?
Penulis ; Poncowae Lou

hehe

Pecicilan Poncowae Lou datang lagi dan langsung mengundang sobat-sobat semua untuk menggerutu dan ngomelin tulisan ini ya?
wakakakkkkkk

rusuh ra' rusuh yo kudu rusuh to?
wakakakkkkkk

Bisa aku mulai sob?

Tulisan ini aku mulai dari komentar sobat kita Handoko F Zainsam yang mengomentari esaiku yang berjudul "Siapakah yang di balik inisial HH?" :

"Aku menyimak: Pisau.. pisau.. pi sau pi sepisau sepi.. berdarah... kata berdarah.. rasa berdarah.. cinta berdarah tanpanya ia tak mengerti hidup. Darah yang membuat hidup. Namun kenapa darah menjadi sangat menakutkan.

Lanjut Mas Ponco.

Buat temen2: Jujur sampai detik ini pun aku jaga tak penah tahu apa definisi dari puisi. Meski aku menggelutinya di dunia akademisi. Ada ratusan definisi dan semuanya tak pernah lengkap dan mampu menjangkaunya. Hingga profesor yang membimbingku juga stres jika ditanya definisi puisi. Akhir kata; "Mas, ambil aja terserah kamu siapa yang km rujuk". begitu kira-kira ucapannya....

Makanya para sahabatku yang baik hati, definisikan sesui dengan keinginanmu tentang apa itu puisi. jangan terhegemoni oleh siapapun. Termasuk tulisaku ini. Namun bisa menjadi pelajaran dan masukan dari dan oleh siapapun itu. Guru kita adalah hidup, alam, kenyataan, sahabat, saudara, adik, kakak, dan semua-muanya pokoknya. Dan banggalah ketika ada teman yang mengapresiasi. Dialah kritikus yang sebenarnya tanpa kepentingan materi dan kekuasaan. Semuanya atas nama cinta. Salut buat Bang HuHi. Lanjut... khannnnnn....? (!) hehehe

Dari komentar mas Handoko yang santai itulah aku justru tertarik melanjutkan uneg-unegku yang terus terang... hehe (sssssttt... aku kasih tahu ya? aku hanya asal nulis hehe... maklum aku bukan jebolan sastra tapi aku keponakannya Pakde Sastra Mangku Wanitauda ngadek saknalika... kwakakakkk)

Untuk mengupas lebih dalam tentang definisi puisi, maka terlebih dahulu kita mengucapkan Basmallah... Husst ini bukan bercanda lho, tapi memang berjanda wakakakkkk

santai saja ya sob?
Maklum kalau aku terlalu serius, bukanya aku semakin tua dan cepet mati tapi justru aku jadi lebih awet tuanya
wakakakkkk

"Guru kita adalah hidup, alam, kenyataan, sahabat, saudara, adik, kakak, dan semua-muanya pokoknya"
Yak... beeentuul!

Terbanglah selama sobat bisa terbang, tentulah dengan rasa. Disaat kita membaca puisi, sebenarnya kita mulai memasuki wilayah rasa/Intuisi.
Kembali lagi seperti yang di tulis mas Handoko di esainya yang baru, yaitu : "Ketika Puisi sebagai Medium Penyampai"
Disini sobat handoko lebih luas lagi dalam memaknai apa arti puisi dalam pandangan subyektif masing-masing pembacanya.

Lebih lanjut sobat Handoko berkata :

Keindahan memiliki keterkaitan erat dengan emosi estetis dengan “significant form”. Kant menyebutnya “form of purpose” (wujud yang bertujuan). Keindahan yang memiliki tujuan inilah yang sebenarnya akan menjadi hal yang mampu menggerakkan “mind” (pikiran) seseorang. Artinya, mereka bisa melakukan hal-hal yang di luar nalar atau rasio sebagi sideeffect-nya.

Mekanisme ini tercipta lantaran keindahan mampu memengaruhi seseorang. Jika keindahan ini tak memiliki “penggerak”, maka asumsinya seperti kecantikan yang terasing. Hal ini akhirnya menghilangkan kecantikan itu sendiri. Alih-alih mengingatkan kita pada kisah narsisus dalam mitologi Yunani, malah tak ada yang bisa mengetahui keindahan itu selain tersampaikan.

Menggerakkan “mind” atau pikiran memiliki arti beberapa hal, di antaranya (1) menggerakkan imaji untuk menemukan sebuah sensasi rasa, dan (2) menjalankan atau menyetujui terhadap apa yang menjadi esensi dari wacana yang dibangun oleh keindahan itu.

Wooow bukan main sob!

"Menggerakkan “mind” atau pikiran memiliki arti beberapa hal, di antaranya (1) menggerakkan imaji untuk menemukan sebuah sensasi rasa, dan (2) menjalankan atau menyetujui terhadap apa yang menjadi esensi dari wacana yang dibangun oleh keindahan itu"

(1) menggerakkan imaji untuk menemukan sebuah sensasi rasa : Setiap penyair yang mulai menangkap ide atau apalah istilahnya. Biasanya sebelum menulisnya akan melakukan semacam perenungan (walau perenungan itu bisa bersamaan dengan menulis atau bisa di endapkan beberapa saat atau bahkan beberapa hari)
Dalam menggerakan imaji tentulah diperlukan power atau daya dorong yang dapat menguatkan generator di impul rasa sehingga disaat tanda-tanda start dirasa oleh impul tersebut siap, maka pena akan bergerak mengikuti naskah yang sebenarnya sudah dicetak oleh otak.
Lha disinilah aku sering berkata bahwa dalam penulisan suatu karya, baik itu karya sastra maupun karya seni yang lain, pastilah ada keterlibatan Allah didalamnya. Tanpa keterlibatan Allah dalam karya kita maka nonsen bagi kita untuk terkagum-kagum dengan tulisan kita setelah tulisan atau karya itu selesai kita buat.

"Kesuksesan sebuah puisi adalah disaat penyairnya mampu menyampaikan gagasan maupun imajinasinya dengan gambaran-gambaran dan paradigma yang akhirnya di ujung pembacaan puisi oleh penikmatnya, (di hati penikmat) itu tertinggal tanda tanya yang seharusnya pembaca itu sendiri mencari sendiri maknanya. Dan itu sangat mengasikan sekali apabila aku yang seorang penulis puisi dalam memasuki lorong rasa, ekspresi, diksi, rima dan sanjak dari karya penyair lain"

Untuk memaha puisi yang sebenarnya banyak sekali corak dan gayanya, maka diperlukan kemampuan diri. Contohnya yaitu, disaat kita akan berenang sedang kita belum bisa berenang maka terlebih baiknya ya kita belajar renang dulu. Lha kalau kita yang memang sudah merasa bisa berenang sedang lautan yang kita hadapi itu sungguh maha luas dan maha dahsyat... ya tentunya kita memerlukan alat yang memenuhi syarat penyebrangan.
Seperti itulah menurutku dalam memahami suatu puisi.

Apalagi kalau kita mendalami dan membaca karya puisi dengan bait yang panjang. Jelas ada faktor kesulitan.
Menurutku kesulitanya adalah terkadang penyampaian sang penyair itu hanya sebatas permainan kata tanpa ruh, sehingga kalau rasa kita masuk baris per baris atau perkalimat bahkan kita kupas per bait, itu tidak dapat ketemu, kerna ada ujungnya yang menyangkut di bait berikutnya atau terkadang ketemu justru di akhir puisi sebagai klimaknya.

Ini kusertakan karya sobatku Jejak Sandi yang sempat kukupas beberapa minggu yang lalu serta karya sobat Faradina Izdhihary, walau masing-masing hanya satu bait, sebagai contoh saja.

Surat dari Sumatera

"kudengar senandung luka
yang menyayat dari sajakmu
ketika seorang bocah pelanpelan membaca
ada jerit tertinggal sunyI"........................> di bait ini sang penyair seakan mengajak penikmat karyanya membuka buku karya seseorang, dimana di dalam buku atau tulisan orang tersebut bercerita kesedihan, sunyi yang mendalam. bait ini terwakili dengan adanya figur anak kecil serta suasana yang lengang.
Kurasa bait ini penyair cukup berhasil.

Sangat berbeda dengan karya sobat Faradina Izdhihary yang berjudul "Sedetik saja" ;

"Kumohon padamu
sedetik saja
hubungkan simpul hatiku dengan ruhmu
biarkan aku mengenalmu
sedekat kematian
yang menunggu di ujung tenggorokanku"...... kesadaran yang didasari pengetahuan akan ilmu Allah menyebabkan beliau mampu berdzikir di bait-bait puisinya.
Bait ini sangatlah kuat. Walau bait ini berdiri sendiri tanpa ada bait-bait selanjutnya. Kandungan makna di bait ini yang dihantarkannya sudah mampu tersampaikan ke penikmat karyanya.

(2) menjalankan atau menyetujui terhadap apa yang menjadi esensi dari wacana yang dibangun oleh keindahan itu : Keindahan suatu puisi bukan saja didasari oleh indahnya diksi, rima, ekspresi, rasa, metafora, metamorfosa kata dan terkadang bersanjaknya suatu puisi. tapi puisi itu sendiri sebaiknya mampu dipahami penikmat puisi itu sendiri. Walau makna yang ditangkap selalu berbeda dari apa yang sebenarnya disampaikan penyairnya. tapi itulah Indahnya suatu puisi.

Sedang tanda-tanda puisi yang kuat selain yang sudah aku sampaikan diatas, sebenarnya juga haruslah kesan dari puisi itu mampu membekas di otak pembaca. Baik itu puisi mengandung tanda tanya yang harus dipecahkan pembacanya sendiri dengan dimensi masing masing, bahkan juga hentakan yang sangat sangat kencang yang mampu membuat kita berdecak kagum atas olahan kata dan perenungan suatu puisi itu sendiri.
Dan yang jelas lagi, puisi itu mampu dipetik maknanya sesuai kemampuan pembacanya dalam mencerna kandungan isi puisi itu sendiri.

Apakah selera pembaca puisi selalu sama dalam menyukai pola atau gaya puisi?

Aku rasa tidak semua orang mampu memahami suatu puisi yang beraneka gaya ini.
Ada yang bergaya ngerock... ada yang bergaya ngejazz dan ada pula yang bergaya kontemporer

Lha Itulah Eloknya puisi, kebebasan dalam pemaknaan dan kemerdekaan dalam memilih gaya diserahkan kepada kita sendiri.

Anda mau apa?
hehe
terserah anda.

: "Aku lebih suka puisi yang suka-suka aku"
Wakakakakkkkkkk

Jadi definisi puisi menurutku yaitu
"(Ide + Perenungan) : (Imaji x Perbendaharaan kata) - pemadatan kata = Puisi Suka-suka aku"

wekekekkkkk

....
Poncowae Lou
Tangerang, 11 Nopember 2009 ; 10;01
http://id-id.facebook.com/pages/Lentera-Komunikasi-Sastra/184466689448



Biodata Penulis :

Nama Asli : Purnomo Ponco Wibowo

Jl. Terompet Blok AF No.6

Cipondoh-Tangerang

Banten

  1. Menulis Media online ;

    1. Yahoo Answers Indonesia Kategori Persajakan

    2. Kemudian.com

    3. Kapasitor,net

    4. Multiply.com kategori Apresiasi Puisi

  2. Semasa muda (SLA) pernah menulis di beberapa surat kabar Jawa Tengah dan DIY tentang Puisi/persajakan.

  3. Pendiri dan pernah mengelola Sanggar Sastra ‘Srada Giri’ di Kabupaten Wonogiri 1980an.

  4. Pernah mengisi kolom teka teki Silang dan kocok kata di tabloid Citra, tahun 1991 s/d 1993 sebagai pengarang/penulis pertanyaan.

  5. Pernah mengajar secara otodidak bagi anak-anak dan remaja yang gemar di seni Drama, prosa, puisi, musik dan pidato di lingkungan RT/RW 25 Bojong Nangka-Kelapa Dua- Tangerang. Tahun 2003 s/d 2006.

  6. Saat ini sebagai wakil ketua Komunitas sastra “Lentera Komunikasi Sastra” (LEKAS) yang berdiri dari tahun 2007.

  7. Blog ;



Tidak ada komentar:

Posting Komentar