19 November 2009

Ibu guruku seorang penyair yang religi

Ibu guruku seorang penyair yang religi
Penulis ; Poncowae Lou

Bila kita ingin terbang, maka kepakkanlah sayapmu perlahan-lahan... lalu kepakkan lebih kuat dan semakin kuat... kuat dan semakin kencang.
Bila kita ingin mendaki gunung, maka persiapan yang utama adalah persiapan mental dan fisik seharusnya prima.Mengukur kemampuan sendiri adalah mutlak agar kita tidak sia-sia dalam menggapai mimpi.
Bila kita ingin susuri samudra yang maha luas, maka siapkanlah sekoci dan pelampungmu apabila badaikan menyapamu dengan ramahnya di tengah perjalanan.
Begitu pula dengan keinginan kita dalam bidang kehidupan yang lain pastilah kita sebelum mengerjakan sesuatun yang belum kita tahu ya sebaiknya bertanya pada yang lebih tahu.
Siapakah yang lebih tahu? jelaslah Sang Maha Tahu.
Bagaimana kita berdialok dengan-Nya? tentulah dengan Ruh, dimana ruh adalah Aku dan Aku bukanlah ruh.
Mengapa ruh adalah Aku sedang Aku bukanlah ruh? itulah kuasa-Nya yang sedang berbicara. Sekecil apapun rahasia Allah apabila Allah berkehendak pada orang-orang tertentu, maka orang tersebut tahu maksudnya Allah tapi tidak mampu bercerita ke orang lain.
Disinilah dimulainya seseorang berusaha mendekati kekasihnya yang begitu menggetarkan, sampai-sampai air mata tak mampu lagi terbendung dan tak mampu lagi ditampung dalam baqi kasih sayang-Nya.
SubhanAllah walhamdulillah walailahailallahu Allahuakbar

hehe
sok serius ya aku nih
wekekekkkk

"sedetik saja/kumohon padamu/hubungkan simpul hatiku dengan ruhmu//biarkan aku mengenalmu sedekat kematian yang menunggu di ujung tenggorokanku"........> bait pembuka yang brilian dan luaaar binasa hehe salah ya?
"sedetik saja/kumohon padamu/hubungkan simpul hatiku dengan ruhmu"....> kepasrahan yang total, tanpa ragu dan tanpa berpikir apakah totalitas ini menguntungkan dalam kehidupan ini, baik secara materiilmaupun secara spirituil.
Sungguh sob!
kalimat seperti ini kalau kita membacanya sepenuh hati tanpa menggelayutnya akar-akar kemunafikan maka air mata menggenang, mengaliri sukma yang sempat dikebiri duniawi.
Totalitas kepasrahan seorang hamba pada Tuhannya yang melebihi dari pada nilai kehidupannya selama ini.
ini dapat terbaca dari kalimat 'simpul hatiku dengan ruhmu' ; hati adalah rumahnya ruh. disaat pintu hati mulai terisi energi positif, maka gerak pikir dan cara menata hidupnya sudah bercermin ke kedalaman kalbu.

mengapa di puisi ini kata pengganti orang ke dua 'mu'... 'kau'... 'nya' yang identik dengan penyebutan
Tuhan... Allah yang biasanya di huruf awal menggunakan huruf kapital justru menggunakan huruf kecil?
Kerna dengan penyebutan orang ke tiga dengan huruf kecil, menimbulkan permaknaan yang lain.
Maka tidak salah kalau puisi ini bisa ditafsirkan ke makna yang lain.contohnya ; puisi ini bisa aku tafsirkan yaitu hubungan antara ibu dan anak. dimana anak adalah belahan hati. Disitu ada pergolakan dan perenungan bagi sang ibu atas perjalanan hidupnya bersama sang anak.

'hatiku dan ruhmu'?....... dari kalimat ini yang ku pisah akan menimbulkan sudut pandang yang berbeda. Dimana 'hatiku' yang diikat dengan 'ruhmu' sangatlah mengundang persepsi berbeda-beda disetiap penikmat puisi.

Begitulah kelihaian si Ibu guru Istiqomah atau yang lebih kita kenal dengan nama pena Faradina Izdhihary ini mengguratkan penanya di kanfas hati.
Ditilik dari jenjang pendidikannya, aku orang yang suka pecicilan ini tidaklah pantas memanfaatkan kelembutan hati seorang ibu walau kumanfaatkan dirinya ini dalam membuka tabir karya puisinya ini.
Faradina Izdhihary adalah nama putrinya yang manis seperti karya-karya ibundanya tentunya, yang mampu kita dirajutnya jadi satu agar semakin tunduk sujud kepada-Nya.

Bukan main.

Sebagai sarjana sastra yang mengabdikan diri sebagai guru SMA adalah sesuatu yang sangat tepat dan lebih tepat lagi setelah aku beberapa minggu yang lalu sempat berdialok lewat FB, ternyata beliau termasuk guru berprestrasi di sekolahnya.
sekali lagi aku berucap ; bukan main sob! Alhamdulillah aku dapat kenal dengan pribadi yang unggul, pribadi yang super hehe kayak Mario teguh ya aku?
wekekekkkk

"Kumohon padamu
sedetik saja
hubungkan simpul hatiku dengan ruhmu
biarkan aku mengenalmu
sedekat kematian
yang menunggu di ujung tenggorokanku"...... kesadaran yang didasari pengetahuan akan ilmu Allah menyebabkan beliau mampu berdzikir di bait-bait puisinya.
Bait ini sangatlah kuat. Walau bait ini berdiri sendiri, kandungan makna yang dihantarkannya sudah mampu tersampaikan ke penikmat karyanya.

"biarkan aku mengenalmu
sedekat kematian
yang menunggu di ujung tenggorokanku"..... Ibu guru kita ini berusaha mengenalnya selayaknya pribadi yang mulai jatuh cinta dan ingin tahu seluk beluk sang pujaan hatinya. Disinilah ibunda ini walau menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami bertutur dangan nyaman tapi tidak mengurui penikmat karyanya.
Mengapa aku bilang seperti ini?
Kerna ibu kita ini menggunakan kalimat yang lugas, tegas dan jelas.
Bahasa sampiran, metafora, hiperbola dan lain-lain di bait pertama ini tidak terlihat, berbeda dengan bait ke duanya.

Kesuksesan sebuah puisi adalah disaat penyairnya mampu menyampaikan gagasan maupun imajinasinya dengan gambaran-gambaran dan paradigma yang akhirnya di ujung pembacaan puisi oleh penikmatnya, (di hati penikmat) itu tertinggal tanda tanya yang seharusnya pembaca itu sendiri mencari sendiri maknanya. Dan itu sangat mengasikan sekali apabila aku yang seorang penulis puisi dalam memasuki lorong rasa, ekspresi, diksi, rima dan sanjak dari karya penyair lain.
walau begitu, aku hanyalah seorang biasa yang suka jemu dan suka gaya-gaya puisi yang mungkin sobat-sobat disini kurang sukai. Jadi lumrah saja akan timbul pro dan kontra dengan kupasanku ini. Termasuk kontranya kupasan ini dengan maksud penyairnya.
Kerna walau bagaimanapun, tidak ada salah dalam mengapresiasi puisi. Kerna puisi itu dapat ditafsir oleh siapapun menurut pengalaman sebagai penulis puisi maupun sebagai penikmat puisi saja.

"Hanya sedetik
biarkan ruhmu mengalir dalam darahku
dan aku akan mengingat kenang itu
sebagai cahaya
yang dipinjamkan kunang
pada dini hari
ketika embun mengecup ilalang
bergetaran pori-poriku mengejang
memeluk ruhmu"..........> hemm... dalam sholat kusyuk, dalam sholat malam yang hening dan pasrah serta ikhlas, maka akan kita temukan suasana seperti ini. Kusyuk tidaklah identik dengan serius. erna kusyuk adalah suasana yang tidak bisa kita cari, tapi kusyuk itu sendiri akan datang sendiri kepada kita disaat kita memang siap menghadap Allah dengankepasrahan yang mutlak. Tanpa ada embel-embel pengharapan bahwa nanti dari sholatnya ini kita akan dapat imbalan pahala. Disaat kita menghadap kepada-Nya sedang hati kita mengharapkan keuntungan atas menghadap kita kepada-Nya. maka apa yang kita dapat adalah hanyalah capek melakukan sholat yang isinya kosong.
Hubungannya kusyuk dengan puisi ini sangatlah dekat sekali. dimana di bait ini ada tertulis ;
"ketika embun mengecup ilalang/bergetaran pori-poriku mengejang/memeluk ruhmu"
walau sebenarnya dari keseluruhan bait ini juga sudah dapat mengarah artian/makna ini hanya bedanya dari keseluruhan bait ini masih bisa mengarah ke makna yang lain.
Lha makna yang lainnya kuharap sobat-sobat penikmat puisi ini yang wajib mengurai sendiri
wekekekkkk ... (Makhlum mulai pecicilanku kumat ya? hussst Mulut ditutup! hehe)


"Cuma sedetik
ruhmu memagut hatiku
kutancapkan jauh hingga ke pusaran nadi
inilah hidupku
dalam ruhmu
tak berbatas waktu yang menyeru pagi
meninggalkan dingin
yang mendekapku dalam gelisah
resah ketika detakku tak mampu
merengkuh ruhmu selalu".......> hmm...buat aku termangu mendalami bait ini, seakan penyair berbicara pada waktu dimana kekhusyukannya dalam mendekatkan diri kepada-Nya seolah-olah trans/ lepasnya ruh dari raga pada saat itu.

Dibait ini penyair melakukan pengulangan kalimat, walau maksud dari bait ke tiga ini sebagai penegasan dari bait ke dua. tapi makna dari bait ini tidak jauh dari bait ke dua. Yaitu menceritakan kusyuk, ikhlas, pasrah, taqwa.maaf sob! itu yang aku rasakan.

"betapa sedetik saja
ruhmu membanjir deras dalam jiwa
selamanya menghangati hidup
yang menghujan tanda tanya
dari langit langit harapku

pengharapan atas ruhmu
selamanya dalam nafasku
hingga hela terakhir ketika udara
tak mau menyapa"

Inti dari dua bait di bawah ini adalah menyatunya sang Aku yang disaat pengharap hening hati tercapai akan menimbulkan kenentraman dan ada percik-percik cahya yang bersenyawa dalam jiwa sang penyair itu sendiri.

Boleh dibilang, puisi ini menceritakan pengalaman pribadinya yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.

SEDETIK SAJA

Kumohon padamu
sedetik saja
hubungkan simpul hatiku dengan ruhmu
biarkan aku mengenalmu
sedekat kematian
yang menunggu di ujung tenggorokanku

Hanya sedetik
biarkan ruhmu mengalir dalam darahku
dan aku akan mengingat kenang itu
sebagai cahaya
yang dipinjamkan kunang
pada dini hari
ketika embun mengecup ilalang
bergetaran pori-poriku mengejang
memeluk ruhmu

Cuma sedetik
ruhmu memagut hatiku
kutancapkan jauh hingga ke pusaran nadi
inilah hidupku
dalam ruhmu
tak berbatas waktu yang menyeru pagi
meninggalkan dingin
yang mendekapku dalam gelisah
resah ketika detakku tak mampu
merengkuh ruhmu selalu

betapa sedetik saja
ruhmu membanjir deras dalam jiwa
selamanya menghangati hidup
yang menghujan tanda tanya
dari langit langit harapku

pengharapan atas ruhmu
selamanya dalam nafasku
hingga hela terakhir ketika udara
tak mau menyapa.



Terima kasih
salam persobatan
Ponco wae
Tangerang, senin 19 Oktober 2009 – 8;02




Biodata Penulis :

Nama Asli : Purnomo Ponco Wibowo

Jl. Terompet Blok AF No.6

Cipondoh-Tangerang

Banten

  1. Menulis Media online ;

    1. Yahoo Answers Indonesia Kategori Persajakan

    2. Kemudian.com

    3. Kapasitor,net

    4. Multiply.com kategori Apresiasi Puisi

    5. Matadunia.com

  2. Semasa muda (SLA) pernah menulis di beberapa surat kabar Jawa Tengah dan DIY tentang Puisi/persajakan.

  3. Pendiri dan pernah mengelola Sanggar Sastra ‘Srada Giri’ di Kabupaten Wonogiri 1980an.

  4. Pernah mengisi kolom teka teki Silang dan kocok kata di tabloid Citra, tahun 1991 s/d 1993 sebagai pengarang/penulis pertanyaan.

  5. Pernah mengajar secara otodidak bagi anak-anak dan remaja yang gemar di seni Drama, prosa, puisi, musik dan pidato di lingkungan RT/RW 25 Bojong Nangka-Kelapa Dua- Tangerang. Tahun 2003 s/d 2006.

  6. Saat ini sebagai wakil ketua Komunitas sastra “Lentera Komunikasi Sastra” (LEKAS) yang berdiri dari tahun 2007.

  7. Blog ;









Tidak ada komentar:

Posting Komentar