Sajak Hujan bersambut badai
tak mungkin kau mampu genapkan hitungan
tak mungkin kau mampu melukis awan gemawan
tak mungkin kau mampu mengeja kahanan
sesering ini kau berkutat dalam lumpur kemunafikan
hingga tandatanda yang sengaja Ku-turunkan dari gelombang amarah justru kau gunakan tuk mengkambing hitamkan-Ku
sajak badai yang mengalun merdu mengiringi gelombang setinggi gunung anakkan menarinari di atas peraduanmu
: Aku suka... yang mati biar mati sajalah, yang sengsara biar sengsaralah
siapa tahu dengan cara-Ku menyapa seperti ini kamu.... kamu.... kamu dan kamu-kamu ini tahu,
..... inilah sebagian dari cara-Ku menegurmu
sajak badai dalam hujan
mampukah menguak nadirmu tuk berangkul berjibaku dengan egomu yang memburu?
; tak mungkin kau genapkan hitungan-Ku
satu persatu tanggal
satu persatu hanyut
tak perlu lagi sesal bila otakmu bebal
seandainya itu aku begini... aku begitu ; ucapmu
; apa peduli-Ku?
...
Poncowae Lou
Tangerang, 3 Oktober 2009 barusan 11;14
19 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar