Cerita ringan ;
ALMANAK BAPAKKU PUNYA KAKEK, KAKEKNYA PUNYA BAPAK
; tepat sehari sebelum dikumandangkan kata Merdeka ke dinding ke hulu ke hilir negri...
waktu terasa panjang hingga demam malaria kambuh menyikut nadi dan sungsum pertiwi
(almanak itu dimulai dengan bahasa puitis yang dramatis tapi nylekuntis... bagiku yang suka terkagum-kagum dengan cara membawakan bahasa seperti ini, memaksa kerja bakti bebenah rumah orang tuaku, aku hentikan sementara )
kubiarkan pikiranku ikut melayang bersama buih-buih bibirku yang dengan alunan hati mengikuti aliran cerita yang terkadang sangat deras hingga menyeretku ke hilir.
; Tahu tidak nak!
kata-kata itu bagiku pemaksaan pemusatan pikiran agar orang yang diajak bicara atau yang mendengarnya terpusat padanya.
Aku yang semula tidak tertarik dengan Almanak ini yang sangat tua dan rapuh, mulai bau dan hancur dimakan kutu. Aku sempat mau melempar ke tong sampah yang memang dari tadi sudah ada disampingku, niatku ini aku batalkan.
Rak-rak buku yang congkak dengan buku-buku yang kusut lusuh penuh debu di ruang baca almarhum bapakku, mau tidak mau harus aku belai. Bagaimana tidak, semua penghuni yang dulu bagai markas tentara yang selalu hiruk pikuk seakan sedang latihan berperang ini sekarang tinggal dihuni satu helai rambut uban yang satu persatu rontok, dialah Ibundaku yang renta... yang rentan dari segala penyakit ... yang sensitif oleh suara.. yang renyah setiap ada yang bisa diajak berbicara.
Libur 3 hari ini aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya, selain mendekatkan diri dengan ibunda yang dapat aku jenguk satu dua tahun sekali ini, sekalian merasakan kembali suasana waktu anak-anak dan remajaku.
Ibundaku ini tinggal ditemani tembok kamarnya serta seorang pembantu yang kulihat sangat perhatian ke ibuku. Nyamuk dan tokek yang biasanya menjelang maghrib berbunyi dengan hitungan-hitungan mistik yang terkadang menjadi ketukan-ketukan tangan menghitung nasib, sebagai irama kehidupan ibuku dalam menghitung hari-hari rentanya.
: Besok pagi, tepat tanggal 17 agustus umurmu berkurang satu-satu, disitulah kedewasaan mulai teruji dengan benang-benang kusut persoalan.
(Tulisan itu kembali mengikatku dari labirin kosong menjadi ada dan kembali kosong)
Begitu tulisan itu benar-benar tepat sekali dengan saat ini tanggal 16 Agustus 2009 aku membaca untukmu wahai sobat-sobatku. Batinku sempat berpikir ; apakah tulisan ini memang tertuju padaku ya sobat?
agar aku tidak ngantuk maka mataku yang semalam sempat berajojing dengan gelora irama karaoke Inul Fiesta aku ganjal dengan sepatu bot milik almarhum bapak yang selama ini dipakai untuk ganjal pintu disaat pintu ruang baca ini pintunya ingin di buka lebar-lebar.
; Tahu tidak nak?
Deg!... kalimat itu kembali terbaca olehku.
Mengapa kalimat sederhana seperti ini justru membiusku dari tidak tertarik menjadi pingin membaca kelanjutannya?
; negri ini terbentuk tidak serta merta datang dari si Dipertuan agung penjajah, tapi hasil dari perjuangan termasuk aku. walau porsiku hany mengusir cecunguk penjajah yang aslinya orang pribumi yang takut kelaparan, takut miskin harta tapi tidak takut bahwa sewaktu-waktu posisi ini berbalik maka orang-orang seperti ini pantasnya jadi injakan kakiku.
hemm.., tidak usah ngomong aku juga tahu kek!, kalau negri ini terbentuk bukan dari nasi diemplek-emplek dicampur kelapa terus dimakan ; gerutuku dengan tulisan tersebut.
; Kamu jangan motong ucapanku ya? dengerin dulu apa maksudku tahu!
wahahaha... aku jadi tertawa saat baca di almanak tersebut dengan tulisan dengan nada marah.
Emangnya kalau aku ngejawab apa kakek mau pukul aku? ; ucapku geli dengan buku ini.
: Anak kok kagak punya kuping ya? nih rasain hukuman kakek!
Braak!.... tumpukan buku di atas rak yang tepat di atasku yang sedang membaca sambil bersandar di rak tiba-tiba jatuh dan menimpa kepalaku.
Hiiii!... sempat aku bergidik... ; oke deh kek! kakek kagak usah hukum aku, aku juga tahu kalau buku yang diatasku tadi seharusnya kutaruh dilantai sebelum membaca tulisanmu ini... ucapku dalam hati.
Lha aku ini sudah tua kek! punya anak satu dan istri baru satu... yang pantas nakut-nakutin kakek itu aku lho!... wakakakakkkk lha kalau kakek yang sudah mati masih suka iseng ke cucu... cucu juga bisa kagak kirim do'a dan baca yasin tuk kakek lho.... ; ucapku lagi menghibur hati sambil cengar-cengir.
Semakin aku masuk ke dalam isi buku ini yang ternyata berisi tentang konflik, tentang kles pertama, kles ke dua hingga terjadinya perang pertama dan kedua, dalam cangkum negri ini. Di almanak bapakku punya kakek, kakeknya punya bapak ini seperti buku sejarah yang dibuka tanpa tedeng aling-aling.
Walau aku sempat terjerat dengan cerita ini, tapi otakku yang masih normal tetap menganalisa secara spontan kejelasan informasi ini dengan apa yang sempat aku baca dan aku pelajari.
Dan ternyata apa yang akhri-akhir ini diisukan tentang pemutaran dan pemelintiran sejarah negri ini tidak jauh berbeda dengan apa yang ditulis di almanak ini.
"Den!.... Den Beinjo!... Raden dipanggil ibu untuk makan siang Den!... ibu sudah menunggu di meja makan" ucap pembantu ibundaku yang bernama Prihatin di depan pintu.
"Ya!.. bilang bunda, aku mau mandi dulu"
"Ya Den!"
Buku yang sampulnya bertuliskan almanak KGRT Wonodikromo dengan tulisan latin yang hurufnya saling bergandengan tangan ini dengan ejaan lama, dalam genggam tanganku sedang buku lainnya yang saat ini sudah aku masukan ke kardus rencananya akan aku pak dan kubawa pulang ke Tangerang. Sedang yang kurasa sangat rusak dimakan kutukupret kumasukan ke kantong plastik dan tempat sampah, untuk dibuang ke tempat sampah depan rumah.
"Tolong simbok buang yang sudah aku taruh di kantong sampah ya?... sekalian rapikan ruang ini?"
"Ya Den!"
......
Pagi ini Tanggal 17 agustus 2009 jam di komputerku menunjukan pukul 9:21 aku mulai kembali membaca almanak ini untukmu sobat, agar rasa penasaranku juga dapatnya menular di pikiranmu.
; Tepat sekali nak! sekarang sudah tanggal 17 agustus dimana tanggal dan bulan yang sudah ditetapkan Allah untuk bangsa ini mengenyam kemerdekaan kembali kau baca bukan?
tulisan ini tercantum di bab baru yang berjudul "hari merdeka"
Deg!... aku yang membaca tulisan di pagi ini yang mendekati detik-detik proklamasi semakin kaget dibuatnya. Ini buku tulisan tangan dengan tinta pena yang ditulis di atas kertas merang ini semakin mendatangkan penasaran.
: Jangan buru-buru ditutup buku ini nak!... aku tahu kamu penasaran dengan tulisanku ini. Mengertilah... aku ini bernama Kanjeng Gusti raden Tumenggung Wonodikromo yang disingkat jadi KGRT Wonodikromo... Aku hidup sebelum negri ini yang nantinya bernama Indonesia mengenyam kemerdekaan. Walau aku bisa meramal jauh kedepan negri ini, tapi aku sebenarnya tidak tahu dan tidak bisa menerka siapakah yang membaca tulisanku ini.
Aku yang mendengar sebutan nama itu yang tertulis di sampul buku dan tertulis kembali di dalam ceritanya membuat aku kembali menerawang ke silsilah orang tuaku.
Ya... itu memang benar... bapakku yang kelahiran Ponorogo sebenarnya asal keturunannya KGRT Wonodikromo.
Aku bolak-balik buku yang bertuliskan depan almanak ini dengan rasa penasaran.
Dan akhirnya aku menemukan jawaban dari teka-teki buku ini disaat ibundaku yang aku cintai dan aku sayangi mulai duduk di sampingku. Dengan lembut buku itu dia ambil dari tanganku. Matanya berkaca-kaca, mungkin teringat dengan almarhum bapak atau memang ibu sudah tahu maksud dari almanak ini yang di penutup buku bertuliskan hari jum'at kliwon tanggal 17 agustus sedang tahunnya 1445.
"Anakku Bei... jangan pedulikan tanggal pembuatannya dan sampai kapan cerita buku ini sesuai dengan keadaan jaman negri ini. Yang jelas, sampai kamu punya cucu dan cucumu punya anak... cerita negri ini bisa terbaca dengan jelas di almanak ini. Tapi masalahnya adalah..... apakah kamu percaya bahwa nanti negri ini akan semakin makmur?... akan semakin berwibawa?.... akan semakin gemah ripah loh jinawi sesuai almanak ini?....menurut ibu... Wallaualam!... kita boleh percaya boleh tidak dengan buku ini, yang jelas kita yang hidup di jaman ini tidak dapat membuktikan kenyataan di kejayaan negri ini nantinya, bukan?.. Yang jelas lagi!... kita yang hidup di jaman ini harus punya keyakinan bahwa anak cucu kita dapat mengenyam kehidupan lebih baik dari pada jaman sekarang. Semoga saja ya nak, semua ini dapat terwujud?"
"Ya bunda!...nanda yakin bahwa kakeknya punya kakek yang bernama KGRT Wonodikromo terbukti adanya. Tapi bunda...?" ucapku berakhir tanda tanya ke bunda.
"Tapi apa Beinjo?"
"Kenapa buku ini tidak diterbitkan seperti layaknya ramalan Jongko Joyo Boyo?"
"Tidak mungkin nak!... buku almanak ini hanya bermanfaat buat keluarga kita saja... kalau sampai kita setelah membaca lalu berniat menyebarkan ke khalayak umum ya harus siap-siap menanggung akibatnya"
"waduh keng Ibu kok sampai seperti itu sih?"
"Apa kamu tidak baca di sampul dan di catatan kaki setelah buku ini ditutup?"
"Baca sih bu! tapi..."
"Tapi apanya?"
"Nanda tadi sempat engajak sobat- sobat nanda Beinjo untuk mendengar cerita dalam buku ini melalui ucapan nanda ini Bunda"
"Waduh Biyung!... ibu tidak mau turut campur kalau sampai kamu dan teman-temanmu dapat tula ya?... memang anak-anak jaman sekarang tidak pernah percaya dengan cerita yang begini-beginian" ucap Ibundaku marah seraya ngeloyor masuk kamar, meninggalkan aku dalam kebimbangan.
"Masak sih?" pikirku tidak percaya sambil mataku memandang buku almanak itu yang ditaruh ibunda di meja TV. Saat aku berniat mengambil buku almanak itu, aku dikejutkan dengan perubahan warna buku almanak. Buku Almanak itu mengeluarkan sinar kekuning-kuningan. Sinar itu semakin lama semakin menyilaukan mataku. Aku yang melihat semua ini hanya sempat terbengong tidak percaya.
Disaat sinar itu menghilang, ternyata buku itu menghilang pula dari tempatnya.
Aku yang semula tidak percaya dengan kejadian-kejadian mistis seperti ini sempat merasakan perubahan yang tepatnya di tengkukku. Seakan bulu kudukku berdiri. Tubuhku terasa dingin sekali. Kakiku yang semula tegak berdiri sekarang lunglai lemas tak berdaya.
: Ucapkan merdeka nak!...
suara berat dan jelas sekali tepat di depanku.
Saat aku yang semula terduduk dilantai dengan wajah menunduk, perlahan-lahan memberanikan diri memandang figur seorang lelaki jawa yang berperawakan tinggi tegap dengan kumisnya yang lebat njepaplang, tepat berdiri di depanku.
; Jangan kaget!.. aku hanya sebentar menemuimu nak!
Aku yang semula ketakutan perlahan-lahan memberanikan diri memandang wajahnya seraya mencium tangan kanannya yang disodorkan padaku. Tangan yang kekar ini terasa menggenggam erat-erat tanganku.
Aku mulai merasakan kehangatan mengalir ke sekujur tubuhku.
: Ucapkan merdeka nak!
"Merdeka!" ucapku pelan seraya berdiri dengan tetap menggenggam tangannya, "Merdeka!... merdeka!... merdeka!" ucapku semakin bersemangat.
Saat aku mau mengucapkan kata merdeka yang ke empatnya... figur lelaki yang memakai baju kebangsawanan jawa dengan memakai beskap dan atribut kejawennya yang aku yakini adalah kakek buyutku, menghilang dari mataku.
"Selamat jalan Kek!... Indonesia memang telah merdeka kek!... Merdeka!"
...
Tulisan ini aku karang kemarin sore tgl 16/8/09 dan aku selesaikan saat ini
Tangerang, 17 Agustus 2009 jam 10.31 wib
Atas nama ;
cucu dan cicit para pahlawan Indonesia
Ponco Wae
-------------
Dirgahayu RI ke 64
MERDEKA!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar