Puisi parodi ; Cikarang - Ciawi
Inspirasi ; puisi karya chairil anwar 'Kerawang-bekasi'
Kami yang sampai kini betah ngendon antara Cikarang dan ciawi
tidak bisa berucap "Modol" dan bermanismanis kata lagi.
siapa yang peduli tanpa basabasi menguak mimpi-mimpi kami,
yang berteduh di kelopak-kelopak hati yang teriris sembilu dan belati ?
Kami ngedumel ma' mel... padamu dalam hiruk di siang ini
saat rasa mual mengimpit batu dan perut meringis menahan kentut
Kami lapar sangat. Yang tiga hari empat malam belum terisi
tahu!.... tahukah kamu, Tuan?
Kami sudah mencoba menanak batu meminum limbah
Tapi tak ada yang memelas, memandang hidup kami di belantara rimba ini
Kami hanyalah rakyat jelata
tapi kami adalah milik negara
yang seharusnya kau entaskan kami sesuai butir-butir pancasila
apakah jiwajiwa kami ini harus terlentang dan kau tak berbuat apa-apa?
ataukah keberadaan kami tak berarti apa-apa?
Kami bingung, kami tidak lagi bisa ngedumel padamu
Kaulah sang penguasa, bukankah begitu tuan?
Kami ngedumel padamu di siang terik ini
Jika ada ucapku kau dengar!.... niscaya kau mengerti, apa arti perhatianmu pada kami
jangan!... jangan singkirkan kami
jangan!... jangan perhinakan keberadaan kami
kerna kami juga anak negri
kerna kami juga ingin mengabdi
kerna kami juga cinta pada negri ini
Kami adalah sel-sel darahmu
jangan biarkan kami membusuk
tanpa berusaha terlepas dari kebodohan kami
biar... biarkanlah kami tetap disini
mengendus puntung dan bungkus-bungkus basi
kerna kami tak mau mati suri.. kami betah di sini
antara Cikarang dan Ciawi
....
Poncowae Lou
Tangerang, 30 Oktober 2009-14;21




Tidak ada komentar:
Posting Komentar