Sumber gambar ; http://www.johnwilliamwate
Sajak Poncowae Lou : Selasih
matahariku kurang padam di pengasingannya antara tembok kusam dan jelaga yang bersawang
sedang selasih menampi harihari sunyinya
yang jatuh satu persatu, kopong... kosong
; syukurlah masih ada satu yang di tampah walau tak membentuk harap
sodong yang gentoyong, ume kita yang tenang
bertudung rindang bebuah mengayom hati.
tak henti-henti selasih menumbuk katakata dengan lesung beriiring gending pangkur jenggleng
; ada apa dengan hati... rasa ngilu menghimpit cerna nafasku?
aku yang saat itu jadi angin, hanya dapat menyentuh daun telingamu yang njepiping
; mengapa kau diam selasih?... apa tak kau dengar bisikku?
pagi ini aku jadi domba yang kau kupas bulu-bulu halusku dengan lidahmu
sesiang nanti aku jadi burung merak yang kau cabuti sayapku dengan bibir indahmu
sesore hari aku jadi kerbau yang kau cocok hidungku dengan seribu jarummu
; selasih!... aku lelah
...
Tangerang, 09 Nopember 2009-10;25




Tidak ada komentar:
Posting Komentar