13 Juli 2010

Puisi pecicilan ; Lupakan saja



Puisi pecicilan ; Lupakan saja

; dilehermu ada apa sobat?
tentunya bukan jakun yang biasanya naik turun
bukan pula tailalat yang menempel erat erat sampai berkarat

"kalau bukan itu lalu apa?", tanyamu

; di lehermu ternyata ada emas intan berlian yang menyilaukan
alang kepalang niat buruk mudah datang
maka lipatlah jadi uang, zodakohkan semuanya
tapi jangan lupa...
bagaianku jangan kurang

; di wajahmu ada apa sobat?
banyak nian kekurangan banyak pula kelebihannya
tentunya bukan rona merah pipimu, itu aku suka
bukan pula merekah renyah bibirmu, apalagi diolesin saus tomat dan merica
bukan juga mancung hidungmu, meruncing kayak gunung himalaya
juga bukan sorot tajam bola voly matamu

"lalu apa?", tanyamu

; ada lidah (bisikku yang membuat lipatan-lipatan kerut di jidatmu semakin nyata)
lidahmu....
sungguh lidahmu sobat!, terlalu panjang
inginnya kutarik dan kucincang tuk umpan ikan arwana

; lupakan saja sobat (gumamku yang kutelan)
bisik batinku ini takkan kau dengar
lha kalau kusampaikan dengan tulisan tentu bara kumis kucingmu terpatik dan membakar siapa yang peduli?

; aah
lupakan saja sobat
kekesalanku pagi ini telah tersampaikan
walau kentutmu sebagai jawaban...

kamu puas dan lega
aku tersenyum mengumpat : "kutukupret!"

; ternyata kita sama sama senang dan terlampiaskan

..................
Poncowae
Jkt, 08 Oktober 2008-12:01wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar