19 November 2009

MPOK KONDE

MPOK KONDE
'Cerita ringan menjelang mati'

Bagian ke 4 : Menunggu mpok konde datang ke rumah

Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu untuk dapatnya bertemu dengan mpok konde, yang sejak kami sekeluarga pindah rumah, dia membantu bebenah rumah, mencuci baju, menyeterika bahkan dia juga yang merapikan kamar tidur anakku. Keingintahuanku dipicu cerita istriku yang tiap malam bercerita kebaikan-kebaikannya.
Menurut hematku, selama menceritakan kebaikan orang itu masih bagus dan bermanfaat sebagai cermin kita untuk semakin berperilaku yang baik dalam keluarga maupun dalam bersosialisasi dengan lingkungan.

Jam untuk minum teh sambil membaca koran bekas di hari libur sudah terlewati. Jam untuk berolah-raga sudah terlampaui. Bahkan jam untuk makan siang sudah habis, tetap saja mpok konde tidak datang ke rumah.

"Ngapain Pa? dari tadi terlihat gelisah begitu. Apa ada janji dengan janda sebelah rawa jengkol ya pa?" ucap istriku nyerocos kayak bak mandi yang membeludak kerna krannya tidak ditutup.

"Apaan sih ma!"

"Kagak biasanya papa berdiri tolah-toleh ke arah jalan"

"Papa penasaran saja ma"

"Penasaran pa?"

"Mau ngebuktiin ucapan mama"

"Ucapan apa?"

"Masak mama lupa sih!"

"Bener pa! mama suer kagak paham maksud papa"

"Masak tiap malam mama ngoceh kok sekarang sudah lupa sih ma?"

Istriku diam sejenak sambil menyusul duduk di sampingku yang duduk di kursi rotan bekas kurungan ayam milik tetangga, " apa ya pa?.... hemmm mama tahu!.... mama tahu.... hahaha... papa penasaran sama mpok konde ya?" aku yang merasa kena tebak ya ikut tertawa, "Sayang pa!... hari ini mpok konde lagi ke rumah anak angkatnya di kedung bekicot... cucunya opname di Puskesmas"

"Anak angkat?" ucapku tidak paham.

"Oh ya pa!... kemarin-kemarin mama ceritanya belum sampai situ ya? hehehe"

"Ya"

"enaknya ceritanya sambil papa cari uban mama ya?" ucap istriku yang tanpa aku perintah sudah duduk di lantai dengan posisi di depanku. Aku tersenyum.

"Lebih enak lagi sebelum papa cari uban dan kutukupret mama, lebih baik mama bikin teh tubruk dulu ma!. Jangan lupa temannya dibawa ya?"

"Iya deh pa" saut istriku bangun dari duduk langsung masuk ke dalam rumah.

Yang aku maksud temannya teh tubruk itu adalah krupuk. Dengan krupuk yang berselang-seling menyeruput dan menggigitnya, terasa dunia mayaku semakin terang hehe... Mungkin kerna kebiasaanku yang tidak merokok itulah, kebiasaan aneh menurut orang lain itu aku lakukan.

"Kok lama amat ma!" panggilku saat istriku membawa apa yang aku minta.

"Jadi orang yang sabar kek papa!... mbilangin orang suruh sabar bisa eee diri sendiri tidak sabaran"

"Itulah perbedaannya orang mbilangin dan dibilangin ma!... Biasanya lebih cepat pintar yang dibilangin hahaha" sautku sambil bercanda.

"Papa memang pintarnya ngeles melulu"

Mulailah kami bercengkrama bak Roro Jonggrang yang sedang bulan madu sama Pranajaya yang tampan sekali seperti aku ini hehe..

Sobat-sobat silahkan membayangkan suasana apa yang bagus untuk kami berdua ini... silahkan dibingkai di imajinasi sobat-sobat dan hasilnya pasti berbeda dengan kenyataan yang kami alami, bukan?
Itulah yang orang jerman bilang "sawang si nawang"... apa yang aku alami tentunya berbeda dengan apa yang tertangkap di mata batinmu.

Terus terang sob!, dari saat kami baru membina rumah tangga hingga anakku Bagas menginjak remaja, kebiasaan kami berdua tidak pernah berubah. Selalu saling bantu membantu walau buntutnya bantuan yang berat-berat pastilah jatuhnya padaku. Itulah yang disebut saling kerja sama, saling pengertian dan saling menyayangi.
Bagaimana suami istri itu tidak bekerja sama?... lha waktu membuat anak saja kita perlu kerja sama bukan? ha ha ha

"Pa!"

"Ya!" sautku dengan tekanan nada yang sedikit serius, "katanya mau cerita?"

"Ternyata mpok Konde itu berasal dari kota yang sama dengan papa lho!"

"Masak ma?.. satu kota apa satu kampung sama papa?"

"Kurang tahu pa!... tapi yang agak membingungkan mama, setiap mpok konde melihat photo papa yang di pajang di kamar Bagas, mpok Konde sering berdiri mematung. Kenapa ya pa?... kalau mama mau tanya kok kurang nyaman pa!"

"Mana papa tahu ma... kok mama balik tanya ke papa sih?"

"Mama bingung saja pa!"

"Mungkin dia pingin punya anak laki-laki ganteng seperti papa tapi tidak dikabulkan Allah kalik ma?"

"Idih GR amat sih papa" potong istriku sambil mencubit jempol kakiku, "Tapi bisa jadi pa!... kan mpok konde tidak punya anak kandung.... tapi tetap saja mama bingung pa! kenapa dia selalu berbuat begitu ya?... kok tangan papa berhenti cari ubannya?"

"Mama salah menyuruh papa nih.... seharusnya mama itu jangan menyuruh papa cari uban"

"Lha disuruh cari apa pa?"

"Suruh nyabutin rambut hitam mama saja hahahahahaha... antara rambut hitam dan putih mama itu lebih banyak putihnya nih.. ha ha ha..." potongku sambil tertawa yang membuat istriku semakin mencubit sekenanya. Dapat paha ya di cubit juga pahaku hahaha

"Papa juga!"

Begitulah suasana sore yang disela istirahat ternyata kami masih sempat bekerja, walau pekerjaan ini adalah mencabut uban istriku. Yang jelas kebaikan akan selalu menyertai keluargaku dan keluarga yang sempat iri melihat romantis kami. Walau kami ini miskin harta tapi kami kaya kasih sayang dan saling perhatian di dalam membina rumah tangga. Masalah ribut-ribut kecil kebanyakan dipicu kerna cara mendidik anak yang kadang antara aku dan istriku berbeda cara.

Aku sebagi kepala rumah tangga dan merasa aku juga pria seperti anakku Bagas, maka rasa perbedaan cara mendidik sebenarnya sangat mengganggu kodratnya sebagai pria.
Semoga saja apa yang kami berdua lakukan dalam mendidik anak dapat berhasil, menghantarkan anakku Bagas sebagai anak yang sholeh.

Sebagai seorang muslim, tentunya aku selalu meminta kepada Allah agar anak kami menjadi anak yang sholeh. Kerna apabila kami berhasil mendidiknya menjadi anak yang sholeh... aku yakin bahwa Allah akan memberikan kecerdasan, kepintaran, kekayaan, kesehatan, kesuksesan baginya tanpa perlu aku meminta apapun pada-Nya. Kan Allah mau tahu... Allah maha kaya... Allah maha cerdas bukan?

Maka do'aku setiap selesai sholat cukuplah sederhana ; " jadikan keluarga kami ini keluarga yang sakinah, mawadah dan waromah serta jadikan istriku istri yang sholaha dan anakku dijadikan anak yang sholeh"
Sederhana bukan permintaanku kepada-Nya wahai sobat-sobatku yang kusayang?

"Jadi dilanjutkan ceritanya tidak nih papa?" ucap istriku membuyarkan lamunan yang berupa pengharapan kepada-Nya.

"Ya... aku denger ma... tapi papa habisin teh tubruk dulu ya?"

"Waduh pa!... mama lupa sholat ashar nih... udahan dulua ah... papa tangannya kagak cari uban tapi ngegerayangi uban-uban yang lain sih" ucap istriku berdiri sambil mencium pipiku, " makasih ya pa! walau papa capek.. banyak kerjaan ternyata papa masih sempat cari uban mama"

"Makasih juga ma!" ucapku melepas istriku yang masuk rumah untuk sholat ashar.


Bersambung lagi nih sob!
maaf nih...
Insyaallah besuk aku sambung lagi ya?

Ponco Wae
Tangerang, 8 Agustus 2009
Barusan, 4 lewat 06 sore





Tidak ada komentar:

Posting Komentar