29 Januari 2009

DIL TAK ADIL


DIL TAK ADIL

aku memang jarang bermimpi kerna waktuku habis tuk berimajinasi

aku memang jarang bersua bening embun dini kerna pagi adalah malamku

mendulang
membaur
memburam
bergumam
berbisik
berbicara ndeleming seperti orang sinting
dan
berteriak seperti anggota parlemen minta dinaikan gaji

mencuatkan lentiklentik ditiang gawangku

aku kalah

ternyata aku tak adil pada matahari
aku tak adil pada tubuhku
aku tak adil pada mataku
aku tak adil pada igaku yang kian lentur
tak adil
dil tak adil

(aku mulai berdendang lagu lama sambil bertelanjang dada dengan seteguk air raksa pengganti kecubung biru dan candu asmara)

(gedubrak! glusur! tubuhku hancur leburlebur jadi bubur)

ragaku tiga malam menahan diri tuktak terpejam
membentur ujung pena patah di genggaman
aduh ...
mataku
matapenaku
matabatinku
matanalarku
matarasaku
dan
mataindraku pingsan kehabisan nyali

maafkan aku jeritku menahan sendu
aku memang tak adil padamu
duhai mata
mata
mata
dan
mata

.......
Ponco Wae
Tng, 25 Januari 2009 jam 2,56 sore

Tidak ada komentar:

Posting Komentar