30 Maret 2009

oleh-oleh umrohku : PERJALANAN RUH DI TANAH HARAM


Bab ke 1 : SAYA SEORANG ANAK PENDETA BUDHA

Saya rasa setiap diri seorang muslim punya pengharapan dapat berkunjung ke rumah Allah Ta'ala, yaitu tanah haram. Begitu juga dengan saya, tapi sebelum saya bercerita panjang lebar tentang perjalanan yang sangat berarti bagi hidupku. terlebih dahulu saya mengenalkan diri.
nama lahir saya adalah Purnomo Ponco Wibowo
Nama muslim saya adalah Muhammad.
Saat ini saya berusia 47 tahun.
Saya sudah berumah tangga dengan dikaruniai seorang putra yang sekarang menginjak remaja.

Masuk Islam dalam usia sekitar 24-25tahun(maaf saya lupa), di pesantren di daerah Mauk-Tangerang.
Saya lahir dari keluarga keturunan jawa (Bapak dari Ponorogo-Jatim. sedang ibu dari solo-Jateng) yang beragama Budha.
Bapak saya bernama Vimalayana Wagiran, beliau selain seorang Polri dengan pangkat terakhir Letnan Dua. Beliau juga seorang pendeta budha. sedang ibu saya bernama Sukiyatni sebagai ibu rumah tangga.
Kecil saya tinggal di kota Wonogiri - jawa tengah hingga lulus SMA.
Waktu itu kami sekeluarga tinggal di jalan Sanggrahan No.4 wonogiri kota (belakang DPRD wonogiri)
Perjalanan hidup saya hingga menjadi seorang muslim disebabkan oleh suatu kejadian yang mana kejadian itu menyebabkan saya berlanglang hati dan pikiran saya untuk mencari kebenaran atas keberadaan Allah.
Ini terjadi waktu saya masih SMA kelas 2 di SMA Negri 2 wonogiri.

Begini kisahnya :
Disetiap hari minggu, rumah kami mengadakan kebaktian (sembahyang bersama). Tempat peribadatan itu terletak disamping rumah kami yang diberi nama "Sanggar sradha giri" (vihara kecil, bagi orang budha dinamakan cetiya)
Dari kecil hingga menginjak remaja, saya diarahkan untuk menjadi seorang rohaniawan budha (walau orang tua tidak mengucapkan)

Bisa dilanjutkan?
Waktu itu sehabis kebaktian(sembahyang) diadakan semacam tanya jawab.
kegiatan tanya jawab ini selalu dilakukan sehabis kebaktian/sembahyang.
Sebagai pendeta yang memimpin kebaktian, beliau (Bapak saya) mulai memberikan tauziah ala Budha. Diujung tanya jawab itulah saya mengacungkan jari telunjuk untuk menyampaikan masukan.
masukan saya memang secara nalar sangat sederhana.
dialoknya kurang lebih begini :
Bapak/Romo pendeta : "ada masukan dari siswa yang lain? silahkan diutarakan disini"
Saya : "saya romo!"
Bapak/romo pendeta : "silahkan"
Saya : " begini romo. saya melihat siswa romo pendeta yang selalu hadir ini kebanyakan sudah sepuh sepuh (tua-tua). selain sudah sepuh, beliau beliau ini kebanyakan buta huruf. Alangkah baiknya untuk dikebaktian kebaktian selanjutnya disetiap ayatnya diberi tahu artiannya. saya berpikir, kalau sampai beliau meninggal nanti jangan sampai tidak tahu arti setiap ayat yang dibacanya. saya rasa masukan ini dapatnya romo pendeta pertimbangkan"
Bapak/ romo pendeta : "masukan siswa bagus. mungkin untuk di kebaktian lain hari masalah ini bisa dilaksanakan"
Tidak begitu lama kegiatan kebaktian yang disertai tanya jawab ini berakhir sudah. Para siswa bapak saya satu persatu mulai meninggalkan rumah.
Nah. Dari kepergian siswa siswa tersebut terjadilah suatu kejadian yang sangat Fondamental bagi diriku. kerna sejak itu mulailah saya berkelana mencari Tuhan yang lain selain Budha.

Kejadiannya begini :
Setelah siswa siswa bapak saya meninggalkan tempat tinggal kami, mulailah kami bebenah merapikan perabotan tamu seperti gelas, piring, kursi dan lain lain.

Disaat saya berpapasan dengan bapak saya di ruang tengah/ ruang keluarga. Ada ucapan bapak saya yang tidak saya pahami (waktu itu)
Berhubung bapak saya seorang polisi yang otoriter, membuat saya ketakutan. dan tidak berani melawan ucapannya.
Boro boro beradu ucapan, beradu pandang saja saya takut bukan kepalang.

Bapak saya waktu simpangan dengan saya hanya berucap pendek sekali tapi tidak bisa saya lupakan hingga kini.

Bapak saya berucap begini : "Anak gawe wirang" dengan intonasi yang tegas dan ada amarah di ucapannya. Gawe wirang artinya bikin malu.
Mungkin pertanyaanku itu di luar dugaan Bapak sebagai romo pendeta yang sepanjang hidupnya mengembangkan agama Budha di kota Wonogiri. Mungkin bapak saya tidak pernah berpikir untuk mengajarkan arti setiap ayat-ayat Budha. Atau mungkin juga kerna bapak saya waktu itu tidak ada yang membantu beliau dalam pengembangan ajaran Budha di wonogiri. Membuat bapak malu hati, sehingga berucap seperti itu.
itu baru dugaanku sekarang lho!
Yang jelas hingga meninggalnya Bapak saya, saya tidak pernah tahu alasan Bapak saya berucap seperti itu. Kejadian ini hingga kini juga tidak pernah saya ceritakan ke Ibu saya yang saat ini masih memeluk agama Budha.

Sebagai anak yang takut akan figur Bapak, membuat saya memberontak melalui :
1. semakin mempelajari ajaran Budha secara mendalam dan serius.
2. Melalui Puisi, saya ekspresikan kekecewaan atas ajaran Budha.

dengan dua langkah tersebut, saya menemukan kejanggalan kejanggalan diajaran Budha tersebut.
Ditambah lagi rasa kecewa kepada Bapakku dimana masukan saya tersebut tidak diindahkan.
Hingga salah satu siswanya yang setia menyebarkan agama Budha ke pelosok kecamatan kecamatan di wonogiri meninggal dunia.

di lanjutkan di bab 2 tentang mengenal islam dari mengamati lingkungan dan pergaulan dengan orang-orang muslim
Tng, 30 maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar