Bab 6a : INTROSPEKSI DIRI DALAM MENGHADAPI COBAAN (2)
Dulu saya sempat putus asa. Tapi saya tidak pernah menyalahkan orang lain atas terjadinya cobaan hidup yang hingga kini selalu menerpa kami. Dulu saya memang sempat marah atas kebodohan yang sering saya lakukan. Dimana saya sempat terperosok dalam pergaulan yang kurang bagus.
Memang benar, disaat uang memegang peranan sedang iman diujung kemaksiatan, akan mudah melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
Disaat saya susah (sebelumnya), disaat saya di garis ketidak mapanan, saya selalu menghargai dan mensyukuri nikmat Allah. Seperti yang sudah tertulis dalam Al-Qur'an bahwa Kalbu manusia sangatlah mudah berubah. Sehingga keimanan manusia bagai gelombang lautan, di saat tertentu tinggi tapi disaat tertentu pula turun drastis. Atau juga bisa digambarkan bagai Voltase listrik, kadang voltasenya naik terkadang turun.
Disini saya tidak mencari pembelaan tapi hanya mencoba berkata jujur.... sungguh saya sempat melanggar segala perintah Allah dan melakukan yang dilarang-Nya dalam keadaan sadar. Padahal saya percaya dan tahu bahwa Allah sebenarnya melihat perbuatan saya.
Gambaran ini sempat saya abadikan dalam puisi religi.
Ide puisi ini sungguh sangat lama sekali, mungkin ide puisi yang terlama yang tersimpan di alam bawah sadarku. Ide puisi ini seingat saya sudah ada dipikiran saya sejak saya mulai ingat Allah lagi. Saat itu saya masih kerja di Subbag SIM bagian photo SIM, sekitar tahun 1996/97.
Puisi ini memang bercampur dengan bahasa jawa.
Bahkan seorang sobat saya yang tinggal di swedia baru yang bernama Robert Martien yang aslinya orang jawa timur, sempat menulis komentar di puisi saya ini. Dia bilang saya mencuplik geguritan karya Sunan Kali Jaga. Saya justru tersenyum bangga.
Padahal ini mengalir atas kehendak-Nya.
silahkan menikmati puisi ini :
KUN FAYAKUUN
sambirono manunggaling tiyang gesang
reh sareh sesumbaring rogo
rogo mati tetimbalaning Gusti
kapasrahaken ing bumi winingit
lur alur ngadepi wong duwur
tan diroso gemreget daharing karso
roso mati tetimbalaning Pangeran Gusti.....
Gusti Allah, kang murbeng dumadi
akhirnya aku duduk terpuruk
begitu nistanya waktuku tersita
menenggelamkan diri dikenikmatan dunia
bukan tanpa sadar!
terlalu sering menipu nurani
berjejal hasrat yang sejenak tersirami
tapi, saat sakaratul menyapa
tetap saja berujar tak tanggap,
bahwa hidup ini hanya sesaat.
adusono rogo lan atimu
sakdurunge karogoh sukmamu.
mandikanlah badan dan hatimu
sebelum diambil nyawamu.
........
poncowae
Jkt, 08 mei 2008-10.24
Sungguh sobat!
untuk kembali kepada-Nya, saya harus mengakui keberadaan-Nya. Malu sungguh malu disaat itu.
Tapi anehnya, semakin saya menunduk pada-Nya seakan ada rengkuhan kasih-Nya yang merasuk di kalbu.
Subhanallah walhamdulillahi walailaha'ilallahu Allahuakbar
*Kembali lagi saya jadi pengangguran.
Pertengahan tahun 1998 (sehabis tragedi Tri Sakti) sekitar 125 orang Karyawan Bantuan bagian SIM termasuk saya diistirahatkan dalam waktu yang tidak terbatas. Yang akhirnya saya kembali jadi pengangguran. Ini saya lakukan karena saya tidak bisa jadi calo SIM seperti teman teman kerja yang lain.
Menyandang predikat pengangguran yang sekarang sungguh panjang dan melelahkan, hidup kami sempat ditopang oleh bantuan sanak famili.
Sempat saya bercanda sama anak istri, bahwa hidup kami ini masih beruntung dibandingkan dengan para gelandangan. Semua ini kerna amal soleh anak istriku. Saya pribadi memang tidak pantas untuk ditolong. Istri saya hanya tersenyum saja.
Walau istri tidak curiga dengan ucapanku, sebenarnya rasa malu atas perbuatan dosaku pada Allah sungguh sangat besar.
Kadang saya sering bermenung diri atas perbuatan maksiat dan pengkianatan atas kepercayaan istri selama ini. Air mata sering berlinang setiap kali sholat malam.
Sungguh Yaa Allah, ampunilah atas dosa dosaku ini. Saya harap Allah mau menerima tobat nasuhaku.
Amin.
Saya lanjutkan di lembar lain.
Yang ini tentang "datangnya misionaris dan pastur ke rumah"
Saya harap, apa yang akan saya ceritakan nanti, semakin menambah keimanan kita kepada-Nya.
Tng, 02 April'09




Tidak ada komentar:
Posting Komentar