19 November 2009

MPOK KONDE

MPOK KONDE
'Cerita ringan menjelang mati'

Bagian 1 ; Pindah rumah

Beberapa hari lalu aku disibukan atau lebih tepat menyibukan diri bebenah perabot yang sebenarnya tak berharga bagi orang-orang mampu di sekitar rumah baruku.
Perabot ini berupa dua bantal yang bau iler, satu guling yang biasa digumuli anakku waktu tidur dan dua tikar pandan yang mulai ada bunga-bunga kaktusnya.
Tidak lupa aku angkut ke rumah baru atau lebih tepat istanaku yaitu Anglo yang biasa untuk memasak kerikil-kerikil kehidupan dan satu gayung yang biasa kami sekeluarga pakai untuk mandi dan cebok disaat kami bersedekah.

Pindah rumah bagi keluarga semacamku yang sudah terbiasa pindah kontrakan, pindah pondokan, pindah istana adalah kegiatan yang perlu perhitungan waktu dan tenaga. Untuk meminta tolong orang tentunya tidak ada yang namanya gratis bukan?
Mau aku bayar pakai apa mereka nantinya!

Alhamdulillah selalu aku ucapkan disaat sadar bahwa Allah masih memudahkan bagiku dalam perkara ini. Bagaimana tidak dimudahkan? Aku hanya cukup pindah satu gang dari tempatku yang hampir satu tahun aku sekeluarga tempati. RT dan RWnya tetap sama yaitu RT 01 dan RWnya RW 06.

Kepindahan kami dikarenakan alasan klasik hehe

Setiap musim hujan rumahku tersebut sering dapat tamu yang sedikit merepotkan bahkan tamu tersebut bukan lagi sedikit merepotkan, bahkan membuat kami sekeluarga sempat repot setengah gila.

; Ada apa ini?
tentunya pertanyaan sobat tercetus di hati.

Ya karena hujan itu bersanggama dengan air selokan dan mencapai puncak orgasmenya. Membuncah dan maninya meleleh lewat dinding-dinding rumah yang sudah tua dan lebih parah lagi air tersebut mengalir deras melalui lubang upil yang posisinya berada di kamar mandi atau lebih tepatnya kamar onaniku.
Kalau tidak kami usap dengan penuh gairah dan nafsu, mungkin air tersebut sudah memenuhi ruang sempit tempat aku mencumbu istriku, serta ruang tamu.
Air tersebut pernah mencapai puncak derasnya, hingga rata seisi rumah. Tingginya sekitar 1 inci lebih 50 senti meter.
Tapi kami sekeluarga masih berucap syukur Alhamdulillah bahwa selama di rumah lama tersebut, belum pernah air tersebut masuk lebih dari 2 inci 100 senti meter.

Rasa capek pindah rumah bukan saja aku rasakan, tapi rasa itu juga mendera istriku dan anakku yang sebiji jengkol. Bagaimana tidak capek?... hampir satu bulan kami bebenah rumah tidak selesai selesai. Disaat luang dari kerja rutinku sebagai penjaga tambak garam dan gudang asem, aku mengajak istriku yang kusayang mengangkut sekarung dua karung perabotan setiap hari. Kadang perabotan itu kami gotong bersama, kadang pula kami panggul di pundak masih-masing. Sedang anakku setiap malam dengan membawa obor, aku ajak mengangkut barang-barang yang lebih kecil, seperti lemari yang terbuat dari kardus dan dua ranjang yang terbuat dari tikar pandan. Cukuplah untuk rebahan melepas lelah hingga menjelang subuh.

; Kalau kita sering berucap syukur kepada-Nya, niscaya kemudahan akan menghampiri kita.
Itu yang sering aku intimidasi dan aku doktrinkan ke istri dan anakku.

Selamatan rumah pun kami adakan seadanya, kami hanya mengundang beberapa saudara jauh seperti yang di nederland, di jerman dan perancis eee maaf maksudku yang di perempatan ciamis juga datang.
Alhamdulillah dalam waktu singkat tidak lebih dari 5 menit lebih 2 jam 43 menit acara reuni dan seremonial pindah rumah layaknya orang pinggiran komplek pun akhirnya selesai.
Makprung, semua pergi menuju istananya masing-masing, tinggalah kami bertiga bengong dan merasa senyap.

Dimulai dari gerobak kakak pertamaku keluar dari tanah kebon disamping rumahku melaju perlahan-lahan seraya melambaikan tangan tanda perpisahan. Kakak saya yang pertama yang tinggal di Nederland ini beristrikan mantan pacarku. Alhamdulillah mereka rukun-rukun dan diberi momongan 5 anak yang ganteng dan cantik. Cukuplah bagiku berkenang sekejab disaat istri kakakku tersebut melambaikan tangan seraya memberi kedipan mata padaku. jakunku sempat naik turun dan berbunyi ; "ceglug.. hemm ceglug"
Mereka sekeluarga akan menuju ke penginapannya di bawah kolong jembatan gantung sebelum berlayar ke negrinya.

Di urutan ke dua, kendaraan kakak laki-laki ke dua dari istriku yang istrinya bekas pembantu dan merangkap gundikku. Kendaraan mereka cukuplah bagus. Mungkin dikarenakan mereka tinggal di jerman maka mereka sekeluarga memakai kendaraan buatan jerman ; VW kodok. Cukup berkelas bagi sudut pandangku. Mereka sekeluarga juga menuju penginapannya di pelataran balai kota.
Alasan mereka tidak menginap di rumah kami dikarenakan ruang tidur tamu terlalu lebar bagi mereka tiduri.

Dan yang terakhir yang terasa terlalu lama keluar dari tanah kebon adalah kendaraan dari saudara kembar istriku. Sempat saya menyuruh anakku Bagas Mario menyusulnya.
Hampir 13 menit 10 detik, anakku tergopoh-gopoh menghampiriku yang masih berdiri berdua dengan istriku di depan pagar rumah.

"Ada apa Bagas?" tanyaku sambil melepas genggaman erat istriku.

"Pa! kendaraan Om bangor mogok?"

"mogok gimana? apa akinya suak kali?"

"Gimana ceritanya akinya bisa suak Pa?"

"Atau mungkin bensinnya habis kalik?"

"Tidak juga Pa!"

"Terus?"

"Lihat saja papa kesana dah" suruh istriku membuat kakiku yang mulai gontai kesemutan berdiri terpaksa melangkah ke tanah kebon.

"Weleh-weleh!" ucapku spontan, "Itu sih tidak perlu bensin atau strum akinya. cukup dicambuk 10 kali niscaya kendaraan ini jalan. Mana cambuknya?" ucapku meminta cambuk yang terbuat dari kawat duri yang sejak tadi dipegang Om Bangor.

"Ini mas Bei" ucap Om Bangor sambil memberikan cambuknya.

Disaat cambuk akan aku ayunkan, kendaraan tersebut langsung bunyi : "mauuuw gak mauuuuw"

"Silahkan Dimas bangor mengemudi kembali, kendaraanmu si pedet telah berbunyi sendiri" ucapku berwibawa.

"Terima kasih matur nuwun Den Bei" ucap Om Bangor menundukan badan sambil menerima cambuknya kembali, "kami sekeluarga pamit pulang. Insyaallah 7 pekan kendaraan kami bisa sampai di rumah kami"

"lho kok bisa Dimas bangor?"

"Ya bisa saja Den Bei. Kendaraan inikan pedet alias sapi. hehe" saut Om Bangor tersenyum kecut.

Aku mengangguk-anggukan kepala tidak percaya. "Masak bisa secepat itu sampai ciamis ya? padahal menurut pengalamanku tidak sampai 3 hari pedet itu sudah pantas istirahat di kuali hehe maksudku di garasi"

"selamat jalan saudaraku, hati-hati di jalan ya? kuharap rukun-rukun selalu dan didiklah anak-anakmu menjadi anak yang berguna bagi keluarga, bagi bangsat eee salah dan negara ya? tidak lupa harus berguna bagi agamanya"

"Ya Den Bei. Nasehat Den Bei selalu aku ingat dan aku laksanakan"

"Syukur kalau begitu" ucapku (padahal hati kecilku menggerutu, aku sendiri belum tentu bisa mendidik anakku sebiji jengkol ini menjadi apa yang kuucapkan) sambil menghela nafas panjang.

Kami bertiga berlama-lama berdiri di jalan depan rumah, sampai ekor pedet kendaraan Dimas Bangor menghilang dari pandangan kami, di parit dekat pengkolan jagung.
kami bertiga sempat ngobrol ngalor-ngidul memecah kesunyian malam. Sempat bercerita masa kecilku dan masa kecilnya istriku.
Anakku Bagas hanya cengar-cengir. Entah apa yang membuat dia cengar-cengir. Atau jangan-jangan dia tahu masa kelamku ya?
hehe
semoga anakku tidak tahu dan jangan sampai tahu. Kasihan dia, batinku berbisik.

Kulihat petugas ronda yang menyorotkan baterainya kesana kemari mulai mendekati kami.

"Selamat malam Den Bei"

"selamat malam juga mang Udin" sautku sambil menjabat tangannya dengan erat.

"ada berapa orang yang di pos ronda?" tanya istriku lembut.

"Empat orang sama saya Bu Bei"

"Ambil sana makanan yang masih pantas temani kalian begadang. Di ruang tamu dan ruang tengah ya Mang?"

"Bener nih Bu Bei"

"Bener mang!" potong istriku sambil tersenyum, " Yang bekas dan sisa-sisa makanan ya tidak usah dibawa. itukan termasuk sampah. Insyaallah nanti aku rapikan sendiri Mang"

"Terima kasih Bu Bei dan pak Bei. Saya masuk ke dalam ya?"

"silahkan" sautku senang.

Tidak begitu lama Mang Udin sudah keluar dengan membawa bronjongan, kami bertiga tersenyum dan mempersilahkan Mang udin kembali ke pos rondanya.

malam semakin larut, hawa dingin mulai merasuk ke dalam kulit. dan yang lebih menjengkelkan adalah nyamuk. Satu nyamuk aku cablek ee nyamuk yang lainmulai menyerang tubuhku.
seakan sepasukan perang gerilya. Dimana ada satu tanda temannya mati, maka mereka serentak menyerang dari sudut manapun.
"Huh! dasar Nyamuk!" ucapku sambil menggaruk-garuk lengan yang digigit nyamuk.

Anakku Bagas mulai menguap tapi tidak berani masuk ke rumah dikarenakan belum aku suruh masuk.

"masuk yuk Pa!" ucap istriku sambil mendorong tubuhku mengarah pagar rumah.

"Hayo! siapa takut ya Gas!" Ucapku bercanda sambil menyuruh bagas mengikuti kami masuk halaman rumah.

Kami masuk rumah berekoran hehe maksudku, aku yang di depan, istriku di belakangku dan anak Bagas yang paling belakang bertugas menutup pagar bambu dan menggemboknya.
Disaat aku dan istriku melihat ruang tamu dan ruang tengah yang banyak sekali sampah-sampah bekas muntahan nafsu perut betebaran di lantai, lunglailah kami.

"Papa. tenaga mama sudah habis. bagaimana dengan ini Pa?" kata istriku yang berjalan berjingkit menghindari pecahan gelas di lantai ruang tengah.

"Aduh ma!... Papa sendiri pingin istirahat Ma.sekarang jam sudah menunjukan pukul tujuh malam lewat 6 jam. Berarti papa harus bisa tidur dalam waktu tidak lebih dari 150 menit 13 detik, Ma" sautku sambil melepas baju kebesaranku yang berupa kaos kutang yang aku ganti dengan kain sarung buntelan kentut.

"Lha ini dikemanain?" saut istriku sewot

"terserah Mama. yang penting besuk pagi sudah ada air hangat-hangat kuku di kamar mandi dan teh tubruk di meja plastik itu ya?"

"Dasar Egois!" jawab istriku seraya melempar BH yang baru saja dilepas dari tubuhnya.


bersambung...... hehehe
Ponco Wae
Tangerang, Barusan 05 lewat 38 sore
Tgl. 5 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar