MPOK KONDE
'Cerita ringan menjelang mati'
Bagian ke Dua ; Selamat pagi Mama, bagaimana dengan pagimu?
Sekitar pukul 4 lewat 45 menit 13 detik, aku terjaga dari lelap tidurku. Kulihat istriku yang kusayang masih tidur pulas, nafasnya sangat teratur. Pertanda tidur nyenyak sedang dirasakannya.
Tanda-tanda pria beristri terjaga dari tidur malamnya menurutku ada dua, yaitu kerna pingin kencing dan yang ke dua kerna pingin ngencingin.
Alhamdulillah, yang pagi ini aku memang mau kencing sehingga tidak perlu membangunkan istriku dan tidak perlu pula merengek-rengek lagi ; Akukan sudah gede Mama!
Seperti layaknya orang-orang awam yang terdesak kahanan hidup, maka aku tidak lupa tuk menjalankan tugas rutinku sholat. Sholat bagiku adalah pergumulan sesaat yang penuh energi positif dengan Kekasihku yang Maha Hidup.
Sungguh sobat!,
tidak perlu menghabiskan isapan puntung rokokmu aku sudah merasa puas dengan-Nya. Kerna aku harus legowo dan narimo bahwa setelah Dia bergumul denganku maka ada yang yang lain yang ingin bahkan lebih parah lagi mancintai-Nya sepanjang hidupnya.
Sedang aku mendekati-Nya disaat rasa rindu datang menyergapku, selebihnya aku seakan mengabaikan Dia.
; Ya ampun... Yaa Allah
Maafkan aku yang sering melupakan-Mu.
sejenak sama saja mengabaikan sisa umurku dengan sia-sia
Saat aku selesai berdo'a dengan menyolok mataku agar menangis di depan-Nya, kudengar istriku yang kukasihi telah mulai membunyikan musiknya. Ada nada tinggi yang bunyinya ; "krumpyang... Gedubrak... pyaaaar! dan ada juga yang berbunyi rendah... srek... srek"
Bagiku irama-irama itu sangat perlu aku syukuri. Kerna dengan irama tersebut istriku memulai kehidupan barunya membenahi rumah dengan rasa bangga dan rasa memiliki.
Setelah terlebih dahulu kulipat sajadah, aku keluar dari ruang bacaku yang merangkap ruang sholat.
Kakiku melangkah ke tempat jemuran handuk yang ada di samping rumah. Tanpa menyapa istriku yang asyik menyapu halaman rumah, aku segera masuk kamar onaniku tuk melakukan kegiatan rutin membasuh diri dengan air yang judulnya hangat-hangat kuku yang tetap membuat gemeretak gigiku.
"Terima kasih, istriku" ucapku lirih yang keluar dari kamar mandi, ucapku tak mungkin didengar istriku yang sedang meletakkan teh tubruk kesukaanku.
Dengan masih berkalung handuk, kucomot cangkir plastik yang bermotif batik yang baru saja ditaruh istriku di meja plastik.
"Hemm harumnya kamu!" Ucapku dengan mata terpejam.
"Idih apa-apaan sih Papa!" teriak istriku pelan, sepelan degub jantungku, sedang jemari kiriku semakin melingkar di pinggangnya yang ramping.
"Selamat pagi Mama!, bagaimana dengan pagimu?" bisikku di lubang telinganya.
"Yang jelas hari ini adalah hari yang capek buatku papa!... aku tidak sanggup mengerjakan semua ini sendirian. Sedang papa tahu sendiri, pangeran papa mentang-mentang sekolahnya siang ya bangunnya siang juga nih" ucap istriku sewot.
"Sabar mama!, tahu tidak ma?... istri yang sabar adalah istri yang mampu membangun istana buat anak-anaknya serta singgasana yang berlapis intan berlian untuk suaminya?"
"Ya papa!, aku mengerti maksudmu"
"makasih Mama, kuharap pagi ini ada orang yang di utus Allah untuk meringankan tugasmu. Percayalah didalam keikhlasan pasti akan mendatangkan keberkahan yang tiada tandingannya."
"Tahu tidak pa?" tanya istriku memotong ucapanku.
"Apa sayang!" ucapku lembut sambil perlahan-lahan menyeruput teh tubruk yang benar-benar seger.
"apa yang paling mama benci dari papa?"
"pertanyaan apa nih? kok tidak nyambung!" sautku tertawa lebar.
"Ya ada Pa! sangat nyambung dari ucapan papa barusan!"
"Kalau begitu. kasih tahu Papa dong?"
"Yang bikin mama sebel tapi mama kangenin dari papa yaitu papa itu orangnya cerewet dan bawel kayak perempuan" ucap istriku bersemangat. Yang aku balas dengan gelitikan dan ciuman kasih sayang layaknya saudara kandung.
bersambung.... ya sobat!
Ponco Wae
Tangerang, 06 Agustus 2009
barusan, jam 5 lewat 35 menit nit nit
19 November 2009
MPOK KONDE
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar